Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kebun sawit. Foto ilustrasi: Gora Kunjana

Kebun sawit. Foto ilustrasi: Gora Kunjana

Wamenlu Kirim Surat Protes ke UE atas Diskriminasi Produk Sawit RI

Selasa, 12 November 2019 | 20:26 WIB
Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id -  Pemerintah Indonesia melalui Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Mahendra Siregar menyampaikan surat protes secara resmi terkait tindakan diskriminasi Uni Eropa (UE) atas produk kelapa sawit Indonesia.

“Setelah kebocoran dokumen internal perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif (CEPA), tindakan UE mendiskriminasi ekspor minyak sawit Indonesia adalah cacat ilmiah,” kata Mahendra Siregar dalam surat resmi kepada Komisioner Perdagangan Uni Eropa Cecilia Malmstrom, Rabu (6/11).

Pernyataan Mahendra merujuk pada isi bab CEPA soal keberlanjutan dan dokumen UE dari pengawasan minyak sawit.

Industri sawit sedang menjadi fokus perhatian, terutama setelah dalam Delegated Act Red II, Uni Eropa mengklasifikasikan minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) sebagai komoditas yang tidak berkelanjutan dan berisiko tinggi. Indonesia dan sejumlah negara produsen lainnya menganggap UE melakukan kampanye hitam terhadap sawit.

“Saat pemerintah Indonesia secara prinsip menentang penerbitan dokumen-dokumen internal, isi dokumen jelas memiliki hubungan, dalam hal ini, negara-negara penghasil kelapa sawit dan Lembaga-lembaga Uni Eropa dan negara-negara anggota, termasuk aliran perdagangan dan investasi, untuk melanjutkan negosiasi dalam CEPA, serta prospek dan kemitraan strategis ASEAN – UE,” kata Mahendra.

Pemerintah Indonesia, lanjut dia, menganggap bahwa tidak ada gunanya dan kontraproduktif untuk memperdebatkan keaslian dokumen RED II Delegated Act Leak yang didelegasikan oleh RED II maupun kontennya. Hal itu menegaskan bahwa tindakan UE untuk mendiskriminasi ekspor minyak kelapa sawit adalah cacat ilmiah.

Ketika sejumlah dokumen yang bocor tersebut sekarang berada dalam domain publik, Indonesia dengan penuh hormat dapat menyarankan pejabat UE dan jaringan mereka ke Indonesia dan di luarnya untuk berhenti menggambarkan tindakan UE sebagai tidak diskriminatif. Sebaliknya, UE harus fokus pada langkah konkret yang dapat diambil untuk mengatasi keprihatinan yang sangat tulus yang diungkapkan antara lain oleh Direktur Jenderal, Jean Luc Demarty.

“Pemerintah Indonesia juga akan menghubungi negara-negara anggota UE untuk menilai sejauh mana mereka mendukung diskriminasi yang dilakukan oleh UE.Terlepas dari kurangnya itikad baik UE terhadap negara-negara penghasil kelapa sawit, Indonesia masih mementingkan hubungan yang bersahabat secara keseluruhan dengan mitra dagang utama kami,” papar Wamenlu dalam suratnya.

Meskipun demikian, tulis Mahendra, Indonesia ingin tetap mengingatkan UE tentang pentingnya bernegosiasi dengan itikad baik, perdagangan, dan investasi berdasarkan kepentingan bersama, timbal balik, dan mungkin yang paling penting adalah saling menghormati.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN