Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Armada Garuda di bandara. Foto: DEFRIZAL

Armada Garuda di bandara. Foto: DEFRIZAL

BISNIS TERGERUS ANGKUTAN DARAT

2020, Airlines Optimistis Masih Bisa Tumbuh

Thresa Sandra Desfika, Jumat, 10 Januari 2020 | 22:14 WIB

JAKARTA, investor.id - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) optimistis jumlah penumpang angkutan udara akan berbalik mengalami pertumbuhan pada tahun ini, meskipun penumpang pada 2019 diprediksi turun berkisar 18-20% dibandingkan tahun sebelumnya.

Volume penumpang angkutan udara pada masa Angkutan Natal 2019 dan Tahun Baru 2020 (Nataru 2019/2020) juga menyusut 6,5% dibanding realisasi Nataru 2018/2019, yang salah satunya dipicu oleh tingginya antusiasme masyarakat menggunakan kendaraan pribadi seiring makin tersambungnya jalan tol baik di wilayah Jawa maupun Sumatera.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Polana B Pramesti meyakini, moda transportasi udara akan tetap menjadi andalan, terutama bagi masyarakat yang membutuhkan jaringan konektivitas antarpulau.

Polana B Pramesti. Foto: twitter
Polana B Pramesti. Foto: twitter

Menurut dia, keberadaan jaringan jalan tol yang kian tersambung hingga rencana pembangunan beberapa proyek perkeretaapian ke depan, seperti Kereta Cepat Jakarta- Bandung dan Kereta Semicepat Jakarta-Surabaya, tak bakal mengeliminasi keberadaan angkutan udara.

Sebaliknya, kehadiran sarana dan prasarana transportasi itu malah akan saling melengkapi.

“Hal ini terbukti di masa Angkutan Natal 2019 dan Tahun Baru 2020, market share transportasi udara masih terbanyak kedua setelah kereta api. Jadi ini terbukti masih banyak diminati. Hal itu juga karena ada pengaruh aspek geografis juga,” kata Polana di Jakarta, Kamis (9/1).

Dari data terlihat bahwa industri penerbangan yang tengah berada dalam tren pertumbuhan negatif memang masih mencatatkan volume penumpang angkutan udara Nataru 2019/2020 sebanyak 5,1 juta. Namun angka tersebut hanya di bawah jumlah penumpang angkutan kereta api yang bisa tumbuh 4,4% menjadi sebanyak 5,7 juta pada masa Angkutan Nataru 2019/2020.

Sekretaris Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Nur Isnin Istiartono mengakui, semakin tersambungnya konektivitas jalan tol berpengaruh terhadap volume penumpang pesawat Nataru 2019/2020 yang menurun, namun tak sebesar yang diperkirakan.

“Tapi sebelumnya prediksi kami itu jumlah penumpang angkutan udara Nataru /20192020 turun hingga 8,4%. Namun, alhamdulillah karena kepercayaan publik hanya turun 6,5%,” terang Nur Isnin awal pekan ini.

Namun demikian, lesunya bisnis penerbangan juga terlihat dari data yang dikeluarkan oleh beberapa stakeholder di industri penerbangan, di antaranya PT Angkasa Pura (AP) I yang melayani sebanyak 4,5 juta penumpang di 14 bandara kelolaan sepanjang masa Angkutan Nataru 2019/2020 atau turun 6,4% disbanding realisasi saat Nataru 2018/2019.

Dirut Angkasa Pura I Faik Fahmi. Foto: Investor Daily/Primus Dorimulu
Dirut Angkasa Pura I Faik Fahmi. Foto: Investor Daily/Primus Dorimulu

Direktur Utama AP I Faik Fahmi mengakui telah terjadi penurunan trafik penumpang di beberapa bandara kelolaan di Pulau Jawa menyusul telah dioperasikannya Jalan Tol Trans-Jawa, di samping penyebab lain yakni harga tiket yang dinilai masih relatif tinggi dan semakin banyaknya pilihan moda transportasi lain.

Untuk jumlah penumpang sepanjang 2019, PT Angkasa Pura (AP) II memproyeksikan terjadi penurunan jumlah penumpang angkutan udara berkisar 18-20% pada tahun ini dibandingkan dengan realisasi tahun lalu.

Berpandangan senada, Direktur Utama Airnav Indonesia Novie Riyanto pun memprediksi lalu lintas pesawat domestik yang dilayani Airnav sepanjang 2019 turun hingga 17,5% atau merosot dari target tumbuh sebesar 5%. Kemudian, penerbangan internasional turun tipis 0,1% sepanjang 2019.

Perkuat Pertumbuhan Ekonomi

Di sisi lain, Polana mengakui pemerintah berupaya agar volume lalu lintas penerbangan baik penumpang maupun kargo tetap terjaga dan bisa bertumbuh, namun hal tersebut sangat bergantung pada permintaan. Meskipun semua strategi sudah diterapkan untuk menangkap pasar, tetap akan sulit menopang pertumbuhan jika permintaannya menurun.

“Ini kan sangat terpengaruh dengan demand. Kalau demand ada, kami akan layani. Tetapi yang terpenting bagi kami adalah aspek keselamatan yang menjadi fokus utamanya,” ujar Polana.

Ketua INACA Denon Prawiraatmadja (tengah)
Ketua INACA Denon Prawiraatmadja (tengah)

Dihubungi terpisah, Ketua Umum Indonesia National Air Carriers Association (INACA) Denon Prawiraatmadja mengatakan, untuk mendorong pertumbuhan penumpang udara harus ditunjang dengan pertumbuhan ekonomi nasional yang lebih baik terlebih dulu.

“Kalau ekonomi tumbuh, maka otomatis transportasi udara akan terdongkrak demand-nya akibat dampak pertumbuhan ekonomi itu,” papar Denon.

Lebih lanjut, Denon memaparkan, maskapai juga harus pintar untuk menangkap potensi penerbangan pariwisata yang memang gencar didorong oleh pemerintah. Beberapa daerah pariwisata itu antara lain Likupang dan Labuan Bajo.

“Pelaku industri harus jeli lihat kesempatan ini. Jangan sampai Likupang dan Labuan Bajo tak termanfaatkan. Apalagi sekarang sudah ada pemenang lelang pengembangan Bandara Komodo di Labuan Bajo yang ke depan tentu meningkatkan kapasitas,” papar Denon.

Fokus Antarpulau

Sekretaris Jenderal INACA Bayu Sutanto mengungkapkan, prospek industri penerbangan ke depan tetap bagus walaupun tidak setinggi tahun-tahun sebelumnya. Menurut dia, jumlah penduduk serta pertumbuhan ekonomi akan menjadi pendorong tumbuhnya industry penerbangan.

Untuk menyiasati antusiasme masyarakat atas tersambungnya tol di Jawa maupun Sumatera, tersedianya Kereta Cepat Jakarta-Bandung, hingga Kereta Semicepat Jakarta-Surabaya, maka operator penerbangan nantinyadapat lebih fokus dan memperbanyak pasar korporasi sekaligus mengintensifkan segmen penerbangan antarpulau.

“Ya jadi bisa fokus ke segmen korporasi yang tetap memerlukan transportasi yang cepat dan nyaman tapi memang porsinya tak terlalu besar. Selain itu, segmen penumpang antarpulau juga harus kita intensifkan,” terang Bayu.

Arista Atmadjati, Direktur Aiac Aviation Jakarta, Direktur Majalah Cargo Indonesia
Arista Atmadjati, Direktur Aiac Aviation Jakarta, Direktur Majalah Cargo Indonesia

Pengamat penerbangan Arista Atmadjati mengungkapkan, potensi industri penerbangan tetap menarik mengingat jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 262 juta jiwa. Namun, kata dia, memang perlu diperhatikan hadirnya sarana maupun prasarana transportasi lain, seperti tol dan kereta api, yang kian berkembang, terutama di Pulau Jawa.

Oleh sebab itu, menurut Arista, operator penerbangan bisa lebih fokus ke penerbangan antarpulau ke Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, Bali, hingga Lombok maupun penerbangan intrapulau di Papua serta Maluku.

Selain itu, potensi pariwisata juga dinilai dapat menopang pertumbuhan industri penerbangan. Menurut Arista, pemerintah harus mengembangkan destinasi pariwisata yang bukan hanya murah meriah tapi juga bisa yang berkelas premium.

“Pariwisata nampaknya juga harus menjual prime product bukan hanya murah meriah. Itu contoh Maldives bisa menjual produk premium. Tetapi, tantangannya memang bagi wisatawan nusantara nantinya. Karenanya, pemerintah diharapkan memberikan insentif-insentif,” ujar Arista.

Potensi lainnya yang bisa disasar maskapai untuk mengembangkan pasar adalah ekspansi penerbangan internasional. Arista menuturkan, standar keselamatan penerbangan Indonesia yang meningkat di mata dunia bisa menjadi modal baik untuk mengembangkan penerbangan internasional. Akan tetapi, sebut Arista, penerbangan internasional dari maskapai nasional saat ini masih punya kelemahan dari sisi konektivitas ke penerbangan lanjutan.

Tarif

Arista melanjutkan, untuk saat ini tarif penumpang pesawat tak bisa diturunkan secara drastis lantaran harga avtur domestik belum merata. Selain itu, beban operasional maskapai juga kian berat karena masih banyak suku cadang pesawat yang dikenakan bea masuk.

Sementara itu, Denon Prawiraatmadja menuturkan, pihaknya tengah berupaya melakukan koordinasi dengan pemerintah untuk mengurangi larangan dan pembatasan (lartas) impor komponen serta suku cadang pesawat. Hal tersebut bisa mengurangi beban operasional operator penerbangan.

“Ini baru minggu kedua tahun baru, minggu depan dengan pabean. Hari Senin sore nanti pembahasan. Lartas ini memang tidak terlalu utama seperti tarif impor dan lain-lain, tapi untuk kesehatan industri penerbangan lebih baik, supaya jangan sampai hal-hal yang kecil ini tidak diperhatikan. Banyak sparepart masuk kategori lartas jadi sedikit terganggu,” imbuh Denon.

Perihal harga avtur, Denon menyampaikan, pihaknya memang mengharapkan agar harga avtur menjadi satu harga. Namun demikian, INACA juga memahami adanya kesulitan untuk merealisasikan hal tersebut. (tm)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA