Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Dody Budi Waluyo. Foto: IST

Dody Budi Waluyo. Foto: IST

2020, Ekonomi RI Tumbuh di 5,1-5,5$

Triyan Pangastuti/Arnoldus Kristianus, Senin, 16 September 2019 | 11:09 WIB

JAKARTA, investor.id - Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo memperkirakan, perekonomian Indonesia pada 2020 tumbuh di bawah titik tengah kisaran 5,1-5,5% atau lebih rendah dari target RAPBN 2020 sebesar 5,3% karena pelemahan dan ketidakpastian perekonomian global.

Menurut dia, pendorong utama pertumbuhan ekonomi Indonesia 2020 berasal dari investasi dan perbaikan ekspor. “Kebijakan penurunan suku bunga dan penurunan GWM (giro wajib minimum) akan dirasakan dampaknya pada kenaikan investasi pada tahun 2020. Tapi kinerja ekspor netto belum membaik seiring pelemahan global,” ujar Dody di Jakarta, pekan lalu.

Secara terpisah, Deputi Bidang Koordinasi Makro dan Keuangan Kemenko Perekonomian Iskandar Simorangkir menyatakan, menghadapi ekonomi dunia yang slow down dan beberapa negara sudah resesi, otoritas fiskal dan moneter harus cepat bergerak mengantisipasi. Langkah BI menurunkan suku bunga sudah tepat untuk mendorong sektor riiil.

Deputi Makro Menko Perekonomian Iskandar Simorangkir. Foto: ekon.go.id
Deputi Makro Menko Perekonomian Iskandar Simorangkir. Foto: ekon.go.id

Sedangkan otoritas fiskal, tugas utamanya adalah menyelamatkan sektor riil, mengamankan sisi suplai, dan menjaga daya beli masyarakat. Sebab, kata Iskandar, basis kekuatan ekonomi domestik lah yang dapat diandalkan untuk saat ini sebagai bantalan. Konsumsi domestik harus sungguh-sungguh diberdayakan.

“Ketahanan ekonomi kita bagus. Di tengah bayang-bayang resesi, Indonesia masih bisa tumbuh 5,05% pada kuartal II. Tahun depan kita bisa tumbuh 5,1-5,2%, kalau untuk 5,3% berat. Kita harus realistis. Jadi, bantalan utama adalah ekonomi domestik. Penurunan suku bunga diharapkan menjadi penopang konsumsi dan investasi. Kita harus konsisten membenahi iklim investasi untuk menarik FDI. Kecepatan implementasi kebijakan kurang karena kelemahan birokrasi. Ini PR besar kita,” kata Iskandar. (ns/hg)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA