Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas Medrilzam dalam webinar Transisi ke Ekonomi Hijau, 6 Januari 2022

Direktur Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas Medrilzam dalam webinar Transisi ke Ekonomi Hijau, 6 Januari 2022

2020-2024, Potensi Kerugian Indonesia Akibat Perubahan Iklim Rp 544 Triliun

Kamis, 6 Januari 2022 | 17:06 WIB
Herman

JAKARTA, investor.id  Climate change menjadi salah satu tantangan pembangunan saat ini dan masa mendatang. Berdasarkan kajian Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Indonesia berpotensi mengalami kerugian ekonomi hingga Rp 544 triliun selama 2020-2024 akibat dampak perubahan iklim apabila tidak ada intervensi kebijakan atau business as usual.

"Proyeksi kerugiannya sudah dihitung. Sampai 2024 diperkirakan kerugian ekonomi akibat berbagai bencana akibat perubahan iklim ini cukup besar, dan ini harus kita antisipasi bagaimana mengurangi potensi kerugian yang kita hadapi akibat bencana ini," kata Direktur Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas Medrilzam dalam webinar “Transisi ke Ekonomi Hijau”, Kamis (6/1/2022).

Medrilzam menyampaikan, Bappenas juga telah melakukan kerja sama dengan berbagai kementerian dan lembaga untuk memproyeksikan perubahan iklim di Indonesia.

"Kelihatannya memang ini harus menjadi catatan kita, kondisi perubahan iklim di Indonesia, karena ternyata proyeksi perubahan iklim ke depan untuk Indonesia ini bisa dibilang agak kurang baik, karena perubahan global tentunya akan berindikasi ke Indonesia," ujar Medrilzam.

Ia memberi contoh, suhu di Indonesia makin lama akan semakin meningkat, baik di laut maupun di daratan Indonesia. Kenaikan suhu ini tentunya akan berdampak ke berbagai hal, termasuk dalam konteks gelombang tinggi di lautan Indonesia, wilayah pesisir menjadi sangat rentan, hingga ancaman kondisi ekstrem, baik itu ekstrem basah maupun kering.

“Kalau basah bisa terjadi banjir, longsor dan sebagainya. Kalau kering, kebakaran terjadi di mana-mana. Ini tentunya akan berdampak pada produktivitas sektor-sektor yang sangat terkait seperti di sektor pertanian, terutama dalam produksi padi. Kebetulan kami melakukan asesmen terhadap kondisi produksi padi di Indonesia. Kalau kita masih business as usual, tentunya ini akan berdampak sangat besar, terutama potensi penurunan produksinya dalam konteks padi," ungkap Medrilzam

Di sisi lain, masyarakat juga terus menghadapi ancaman bencana. Perubahan iklim sudah dirasakan dalam 5 tahun terakhir, di mana dampak La Nina terasa sangat kuat. Sehingga seringkali terjadi banjing hingga longsong di berbagai wilayah.

"Catatan teman-teman BNPB, di 2020 hampir 99% bencana alam yang terjadi di Indonesia terkait dengan hidrometeorologi. Bencana-bencana lain seperti tektonik, vulkanik dan sebagainya itu kecil," ungkap Medrilzam.

Dari potensi kerugian ekonomi hingga Rp 544 triliun tersebut, rinciannya adalah untuk sektor pesisir dan laut Rp 408 triliun, air Rp 28 triliun, pertanian Rp 78 triliun, dan kesehatan Rp 31 triliun. Potensi kerugian ekonomi akibat perubahan iklim antara lain kecelakaan kapal dan genangan pantai, penurunan ketersediaan air, penurunan produksi beras, hingga peningkatan kasus demam berdarah.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : BeritaSatu.com

BAGIKAN