Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Pemberitaan Beritasatu Media Holdings selaku moderator, Primus Dorimulu (kiri) bersama para pembicara: Gubernur Bangka Belitung Erzaldi Rosman, Ketua Umum PHRI Hariyadi Sukamdani, Direktur Utama PT Panorama Sentrawisata Tbk Budi Tirtawisata dan Direktur Layanan, Pengembangan Usaha dan Teknologi Informasi PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Ade R Susardi dalam acara virtual conference Economic Outlook 2021 hari ketiga sesi pertama dengan tema Outlook Pariwisata 2021 live streaming di Beritasatu TV, Kamis (26/11/2020). Acara ini terselenggara atas kerjasama Berita Satu Media Holdings dengan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan Hotel Tentrem. Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR

Direktur Pemberitaan Beritasatu Media Holdings selaku moderator, Primus Dorimulu (kiri) bersama para pembicara: Gubernur Bangka Belitung Erzaldi Rosman, Ketua Umum PHRI Hariyadi Sukamdani, Direktur Utama PT Panorama Sentrawisata Tbk Budi Tirtawisata dan Direktur Layanan, Pengembangan Usaha dan Teknologi Informasi PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Ade R Susardi dalam acara virtual conference Economic Outlook 2021 hari ketiga sesi pertama dengan tema Outlook Pariwisata 2021 live streaming di Beritasatu TV, Kamis (26/11/2020). Acara ini terselenggara atas kerjasama Berita Satu Media Holdings dengan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan Hotel Tentrem. Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR

PERTUMBUHAN DIBIDIK 3,95%

2021, Investasi Manufaktur Ditargetkan Rp 323 Triliun

Jumat, 27 November 2020 | 08:06 WIB
Sanya Dinda (sanya.susanti@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menargetkan investasi manufaktur pada 2021 mencapai Rp 323 triliun, seiring mulai diterapkannya Undang- Undang Cipta Kerja (UU Ciptaker). Per September 2020, investasi manufaktur melesat 37% menjadi Rp 210 triliun.

Seiring dengan itu, lonjakan investasi bakal menjadi motor pertumbuhan industri manufaktur tahun depan, yang ditargetkan mencapai 3,95%. Pertumbuhan itu juga bakal didorong terkendalinya pandemic Covid-19 dan membaiknya daya beli masyarakat.

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Industri Kemenperin
Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Industri Kemenperin

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Industri Kemenperin Eko Cahyanto mengatakan, investasi manufaktur sangat solid tahun ini dan tidak terpengaruh pandemi Covid-19. Tren ini diprediksi berlanjut tahun depan.

“Adanya UU Ciptaker dan komitmen pemerintah menyelesaikan aturan turunan UU itu secepatnya akan menjadi daya tarik investor untuk menanam modal di Indonesia,” kata Eko dalam webinar Indef Proyeksi Ekonomi Indonesia 2021, Kamis (26/11).

Dia menambahkan, aktivitas ekonomi diprediksi mulai pulih pada 2021. Ini akan menopang pertumbuhan seluruh subsektor industri. Program pemulihan ekonomi nasional (PEN) juga bakal berkontribusi terhadap pertumbuhan manufaktur.

Menurut Eko, sampai akhir 2020, industri manufaktur diprediksi turun 2,22% dibandingkan tahun lalu. Namun demikian, beberapa subsector industri diprediksi tetap bertumbuh, seperti farmasi, produk obat kimia dan obat tradisional, bahan kimia dan barang dari bahan kimia, logam dasar, dan makanan.

Menurut dia, sampai akhir 2020, industri nonmigas diperkirakan menyumbang US$ 127 miliar terhadap ekspor nasional. Tahun depan, ekspor industri pengolahan diperkirakan meningkat menjadi US$ 131 miliar, seiring pulihnya permintan global.

Untuk mendorong pertumbuhan industri, dia menuturkan, Kemenperin berupaya mensubtitusi bahan baku impor dengan produk dalam negeri hingga 35% sampai 2022. Ini akan dilakukan dengan meningkatkan utilisasi industri sampai 85%. Sementara itu, masih dalam upaya PEN, Kemenperin menerbitkan Izin Operasi dan Mobilitas Kegiatan Industri (IOMKI) yang sampai 23 November 2020 telah diberikan kepada 18.362 pemegang izin dan diklaim mampu menyelamatkan pekerjaan bagi 5,16 juta orang.

Pengendalian Pandemi

Shinta Kamdani. Foto: IST
Shinta Kamdani. Foto: IST

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Bidang Hubungan Internasional Shinta Kamdani mengatakan, pemerintah harus memprioritaskan pengendalian pandemi Covid-19. Pemerintah juga mesti tetap melanjutkan stimulus, baik untuk mendorong supply maupun demand, termasuk pada 2021. Sebab, saat ini, meskipun telah membaik, indeks manajer pembelian atau purchasing manager index (PMI) nasional tetap lebih rendah dibandingkan negara-negara lain, seperti Thailand, Vietnam, dan Singapura yang sudah di atas 50.

Shinta menilai implementasi berbagai stimulus yang telah ditelurkan pemerintah untuk pengusaha masih kurang efektif. Berdasarkan data Bank Dunia, dari 850 perusahaan nasional, hanya 7% yang sudah memanfaatkan insentif dari pemerintah.

Sementara itu, 53% dari 97% sisanya bahkan tidak mengetahui keberadaan insentif tersebut. Pemerintah, kata dia, juga mesti mencari cara menciptakan lapangan kerja untuk lebih dari 3 juta pengangguran yang diakibatkan pandemi Covid- 19.

Dengan ini, menurut Shinta, konsumsi domestik akan terangkat, sehingga pengusaha lebih percaya diri untuk kembali menjalankan aktivitas bisnis. Namun, untuk itu, pemerintah harus menekan biaya usaha di Indonesia yang masih lebih mahal dibandingkan negara-negara Asean lain.

Sementara itu, ekonom Institute of Development for Economics and Finance (Indef) Faisal Basri memproyeksikan kontraksi ekonomi Indonesia berlangsung lebih lama dibandingkan negara-negara_pesaing. Pertumbuhan ekonomi diprediksi baru terjadi kuartal II-2021.

Sementara, pada kuartal I-2021, ekonomi nasional masih kontraksi. Faisal memproyeksikan, kinerja industri membaik pada 2021. Industri makanan dan minuman juga akan bertumbuh lebih tinggi sebagai barang konsumsi primer. Di samping itu, insdustri otomatif akan mulai bertumbuh.

“Jadi, hampir semua akan lebih baik tahun depan. Kemudian, yang juga penting dikembangkan industri alat kesehatan (alkes). Kita sebenarnya sudah ekspor alkes, sehingga perlu konsolidasi lagi agar kita punya tenaga kerja, fasilitas, dan alkes andal, jangan sedikit-sedikit impor,” ucap Faisal.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN