Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto. Foto: IST

Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto. Foto: IST

2021, Lifting Migas Naik Tipis Jadi 1,71 Juta BOEPD

Kamis, 18 Juni 2020 | 17:47 WIB
Retno Ayuningtyas (retno.ayuningtyas@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) memproyeksikan lifting minyak dan gas bumi tahun depan sebesar 1,71 juta barel setara minyak per hari (barrel oil equivalent per day/BOEPD), naik tipis dari proyeksi tahun ini 1,69 juta BOEPD.

 

Secara rinci, SKK Migas memperkirakan lifting minyak tahun depan sebesar 705 ribu barel per hari (bph) dan gas 5.638 juta kaki kubik per hari (million standard cubic feet per day/MMscfd). Sementara proyeksi lifting minyak hingga akhir tahun ini sebesar 705 ribu bph dan gas 5.556 MMscfd.

 

“Di 2021, kami berusaha menahan laju penurunan produksi untuk bisa menuju 1 juta bph dan kenaikan produksi di 2022. Ini semoga bisa dijadikan momen rebound lifting migas,” kata dia dalam rapat dengan Komisi VII DPR RI, Kamis (18/6).

 

Menurutnya, produksi dan lifting migas tahun depan masih bakal terdampak pandemi Covid-19 yang terjadi di tahun ini. Pasalnya, pandemi tersebut mempengaruhi kegiatan operasi migas di 2020 ini. Selain itu, rendahnya harga minyak juga mempengaruhi besarnya dan agresifitas daya investasi migas.

 

“Kami sedang mengevaluasi wilayah kerja yang ada potensi dan perlu insentif dari pemerintah,” ujar Dwi.

 

Selain itu, lanjutnya, lifting gas tahun depan juga dipengaruhi oleh masih rendahnya kemampuan serap gas konsumen baik gas pipa maupun gas alam cair (liquefied natural gas/LNG). Lifting migas juga bergantung pada kepastian investasi Blok Rokan baik oleh PT Pertamina (Persero) dan PT Chevron Pacific Indonesia.

 

“Kami sedang negosiasi agar bisa maksimalkan investasi di 2020 dan 2021, agar ketika Pertamina masuk [ke Blok Rokan] produksi minyaknya tidak terlalu jatuh,” ungkapnya.

 

Pihaknya telah menyiapkan sejumlah solusi untuk menghadapi tantangan lifting migas tahun depan. Pertama, pihaknya akan mempercepat kepastian pemberian insentif stimulus kepada kontraktor kontrak kerja sama (KKKS). Demikian juga dengan keputusan kepastian investasi pengeboran di Blok Rokan.

 

“Kami juga akan mencari alternatif pasar atau buyer baru sehingga semua produksi gas terserap,” kata Dwi.

 

Pada 2020, dalam APBN, awalnya lifting migas nasional ditargetkan sebesar 1,95 juta BOEPD di mana lifting minyak 755 ribu BOEPD dan gas 1,19 juta BOEPD. Pemerintah kemudian merevisi lifting minyak menjadi 735 ribu bph dan gas 1,06 juta BOEPD. Namun, pandemi Covid-19 berdampak pada operasi migas nasional, sehingga SKK Migas memproyeksikan lifting lebih rendah dari revisi target APBN.

Editor : Retno Ayuningtyas (retno.ayuningtyas@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN