Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto. Foto: IST

Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto. Foto: IST

2021, Penerimaan Migas Diproyeksikan US$ 7,19 Miliar

Kamis, 18 Juni 2020 | 20:31 WIB
Investor Daily

JAKARTA, investor.id – Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menargetkan penerimaan negara dari sektor migas pada tahun depan sebesar US$ 7,19 miliar, naik 22,69% dari proyeksi akhir tahun ini US$ 5,86 miliar.

Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto menuturkan, pihaknya menyiapkan tiga skenario penerimaan kotor sektor migas pada tahun depan dengan beberapa asumsi harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP). Namun, proyeksi harga minyak konservatif untuk tahun depan adalah US$ 50 per barel.

Sehingga, pihaknya menggunakan acuan ICP US$ 50 per barel untuk tahun depan. “Sehingga gross revenue migas tahun depan US$ 22,31 miliar, dengan penerimaan negara US$ 7,19 miliar,” kata dia dalam rapat dengan Komisi VII DPR RI, Kamis (18/6).

Mengacu data SKK Migas, target penerimaan negara dari sektor migas pada tahun depan lebih rendah dari target APBN 2020 yang mencapai US$ 14,46 miliar. Namun lantaran pandemi Covid-19 berdampak pada operasi migas, proyeksi penerimaan negara dari sektor migas tahun ini hanya US$ 5,86 miliar. Hingga Mei lalu, penerimaan negara dari sektor ini tercatat baru US$ 4,1 miliar.

Selain penerimaan negara, penerimaan kotor migas juga termasuk penerimaan kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) dan biaya investasi yang dapat dikembalikan (cost recovery).

Dwi menyebut, pendapatan KKKS pada tahun depan diperkirakan sebesar US$ 5,94 miliar, lebih tinggi dari proyeksi hingga akhir tahun ini US$ 3,89 miliar. Selanjutnya, cost recovery di 2021 diperkirakan sebesar US$ 9,19 miliar atau lebih tinggi dari proyeksi tahun ini US$ 8,12 miliar.

Per Mei lalu, SKK Migas mencatat realisasi pendapatan KKKS sebesar US$ 2,17 miliar dan cost recovery US$ 3,53 miliar.

Anggota Komisi VII Harry Poernomo menyatakan, negara rugi jika penerimaan negara dari sektor migas pada tahun depan hanya US$ 7,19 miliar. Pasalnya, besaran penerimaan negara ini lebih rendah dari proyeksi cost recovery yang sebesar US$ 9,19 miliar. Padahal di Mei kemarin, penerimaan negara masih lebih tinggi cost recovery meski harga minyak rendah.

Untuk itu, pihaknya meminta SKK Migas untuk mencari skenario di mana penerimaan negara dari sektor migas bisa positif. “Harus dicarikan optimum produksi, karena ternyata variabel harga naik kita jadi untung itu belum tentu,” tutur dia.

Terkait lifting migas tahun depan, SKK Migas menargetkan sebesar 1,71 juta barel setara minyak per hari (barrel oil equivalent per day/BOEPD), naik tipis dari proyeksi tahun ini 1,69 juta BOEPD. Rincinya, lifting minyak tahun depan sebesar 705 ribu barel per hari (bph) dan gas 5.638 juta kaki kubik per hari (million standard cubic feet per day/MMscfd). Sementara proyeksi lifting minyak hingga akhir tahun ini sebesar 705 ribu bph dan gas 5.556 MMscfd. (ayu)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN