Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Benih Lobster. Foto: dok. KKP

Benih Lobster. Foto: dok. KKP

2024, Nilai Produksi Lobster Budidaya Rp 1,73 Triliun

Ridho Syukra, Kamis, 26 Maret 2020 | 07:38 WIB

JAKARTA, investor.id - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tengah menyusun Peta Jalan (Roadmap) Pembangunan Perikanan Budidaya 2020-2024. Salah satu target yang ingin dicapai KKP melalui peta jalan tersebut adalah makin masifnya budidaya lobster di Tanah Air.

Target volume produksi lobster budidaya pada 2020 mencapai 1.377 ton dengan nilai Rp 330 miliar dan pada 2024 produksinya dipatok 7.220 ton senilai Rp 1,73 triliun. Menteri KP Edhy Prabowo menuturkan, Presiden Joko Widodo telah memberikan dua arahan penting kepada dirinya terkait sektor KP dalam lima tahun ke depan.

Kedua arahan itu adalah komunikasi dengan pemangku kepentingan (stakeholder) dan penguatan budidaya perikanan. Karena itu,lah, KKP bergerak cepat, salah satunya dengan menggelar rapat pembahasan Peta Jalan Pembangunan Perikanan Budidaya 2020-2024. Dalam rapat bersama Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya tersebut, ia meminta jajarannya untuk berani berpikir di luar kebiasaan.

“Budidaya ini sangat diharapkan Presiden untuk memutus masalah. Kita tidak bisa mengatasi masalah seperti biasanya, kita harus out of the box,” kata Menteri Edhy di Jakarta, kemarin.

Edhy Prabowo, Menteri KKP>
Edhy Prabowo, Menteri KKP>

Edhy menuturkan, arah kebijakan pembangunan perikanan budidaya mengalami transformasi, yakni dari yang semula berorientasi pada peningkatan produksi menjadi pembangunan budidaya yang berkelanjutan dan berdaya saing.

“Perubahan paradigma tersebut juga tetap mempertimbangkan potensi dan daya dukung lingkungan, ekonomi, dan sosial di wilayah pengelolaan perikanan budidaya,” ungkap Menteri Edhy.

Sementara itu, Dirjen Perikanan Budidaya KKP Slamet Soebjakto memaparkan strategi pembangunan perikanan budidaya 2020-2024 yang memiliki empat aspek, yakni peningkatan produksi, peningkatan kesejahteraan, pengelolaan kawasan berkelanjutan, dan integrasi lintas sektor. Komoditas unggulan yang masuk dalam fokus perikanan budidaya adalah udang, rumput laut, lobster, ikan patin, ikan hias, ikan sidat, serta salah satu bahan baku pakan yakni magot.

“Contohnya, target produksi lobster dari Rp 330 miliar pada 2020 menjadi Rp 1,73 triliun pada 2024. Volume produksi lobster dari 1.377 ton pada 2020 menjadi 7.220 ton pada 2024,” ujar dia.

Menurut dia, untuk masyarakat perkotaan, KKP akan fokus pada budidaya ikan hias. Pengelolaan usaha budidaya ikan hias akan dilakukan dalam bentuk klaster, skala ekonomi 1 klaster minimal 10 kelompok dengan masing-masing 6 paket.

“Visi perikanan budidaya ke depan adalah peningkatan ekspor, ketahanan pangan, dan lapangan pekerjaan,” kata Slamet.

Sebelumnya, produk perikanan budidaya Indonesia telah dinilai memenuhi persyaratan jaminan mutu dan keamanan pangan otoritas Uni Eropa (UE) sehingga layak diekspor ke kawasan negara itu. Artinya, para pelaku usaha budidaya nasional telah konsisen menerapkan sistem mutu dan keamanan pangan dalam setiap tahapan proses produksi. UE merupakan salah satu tujuan utama ekspor perikanan RI, merujuk BPS, pada 2018 total nilai ekspor udang hasil budidaya Indonesia mencapai US$ 1,27 miliar dengan market share pasar UE 2,98% setelah Jepang dan AS.

Kelayakan produk perikanan budidaya RI masuk pasar UE merupakan kesimpulan akhir yang disampaikan tim audit Directorate General for Health and Food Safety (DG Sante)- Uni Eropa dalam Closing Meeting Audit Sistem Jaminan Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan di Jakarta, Kamis (12/3).

Ketua Tim Auditor DG Sante Miguel Mendes menyampaikan, pelaksanaan sistem jaminan mutu dan keamanan pangan pada bidang perikanan budidaya RI sudah cukup baik. Artinya, menurut hasil penilaian, para pelaku usaha budidaya di Indonesia telah konsisen menerapkan sistem mutu dan keamanan pangan dalam setiap tahapan proses produksi. Hanya saja, ada penurunan jumlah sertifikasi good aquaculture practices (Cara Budidaya Ikan yang Baik/ CBIB) dan jumlah sampel monitoring residu pada 2019. (tl)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN