Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Mari Elka Pangestu

Mari Elka Pangestu

2030, Puncak Penggunaan Energi Fosil

Rangga Prakoso/Triyan Pangastuti, Minggu, 19 Januari 2020 | 09:40 WIB

JAKARTA, investor.id - Komisi Global Geopolitik Transformasi Energi Badan Energi Terbarukan Internasional (IRENA) menyebut, puncak penggunaan fosil sebagai pemenuhan kebutuhan energi terjadi pada 2030. Setelah itu, penggunaan fosil akan terus berkurang dan digantikan dengan energi baru dan terbarukan.

“Tahun 2030 puncak fossil fuel, kemudian beralih ke energi terbarukan. Ini bukan karena target negara, tapi transformasi sosial, ekonomi, dan politik. Penggunaan energi baru dan terbarukan tak hanya gebrakan baru atau inovasi, tapi juga akan menjadi tren ke depan,” kata Penasihat IRENA Mari Elka Pangestu, yang menjadi pembicara dalam acara Indonesia Millennial Summit 2020, di Jakarta, Jumat (17/1).

Mari menuturkan, ada sejumlah faktor yang mendorong terjadinya transformasi. Ini misalnya, lembaga pendanaan internasional tak mau lagi membiayai hal-hal yang berkaitan dengan energi fosil. Dia mencontohkan Standard Chartered, bank internasional yang berbasis di London, Inggris, enggan membiayai proyek pembangkit listrik berbahan bakar batu bara.

“Banyak juga equity investment, juga private investment tidak mau mendanai yang berbasis fossil fuel. IKEA misalnya, juga mulai mengurangi konsumsi energi batu bara dan minyak bumi. Perusahaan perabotan rumah asal Swedia itu mulai beralih ke energi baru dan terbarukan,” paparnya.

Tiongkok dan Indonesia

Batu bara
Batu bara

Mari yang juga direktur pelaksana kebijakan pembangunan dan kemitraan Bank Dunia itu mengatakan, tekanan publik turut berpengaruh mendorong transformasi energi baru dan terbarukan.

“Perubahan energi juga didasarkan oleh perubahan kebiasaan masyarakat yang mulai sadar akan lingkungan sehingga kegiatan atau produk-produk yang menggunakan energi fosil mulai ditinggalkan Ada istilah efek Greta di dunia internasional, nama Greta diambil dari gadis asal Swedia yang giat menyuarakan dampak perubahan iklim,” paparnya.

Untuk di Indonesia belum ada tekanan publik, tapi ini tren ke depan yang harus diperhatikan. Sementara itu, Tiongkok misalnya, menggenjot pengembangan energi terbarukan untuk mengatasi polusi udara yang berasal dari pembangkit berbahan bakar batu bara.

Menteri ESDM Arifin Tasrif
Menteri ESDM Arifin Tasrif

Di tempat yang sama, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif menuturkan, Indonesia sedang bertransformasi menuju pemanfaatan energi baru dan terbarukan. Oleh sebab itu, proyek pembangkit bertenaga fosil tak diizinkan lagi dibangun di Pulau Jawa.

“Untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang diizinkan jika terintegrasi dengan tambang, atau yang disebut PLTU mulut tambang. Selain itu, pembangkit berbahan bakar solar akan disubstitusi dengan gas. Kami petakan potensi-potensi energi baru dan terbarukan,” ujarnya.

Revisi Tarif

Arifin menuturkan, pihaknya sedang merevisi tarif jual-beli listrik pembangkit energi baru dan terbarukan. Revisi ini diharapkan mampu menarik investor dalam menggarap potensi energi terbarukan di Indonesia. Revisi tarif itu masih dalam tahap pembahasan. Nantinya, tarif jual-beli tersebut akan berbeda-beda di setiap wilayah. Selama ini, tarif jual-beli listrik energi terbarukan merujuk pada biaya pokok produksi (BPP).

listrik PLN
Ilustrasi Listrik (sumber: The Jakarta Globe)

“Harga tidak sama; selama ini sekian persen BPP, nanti per region. Ini gagasan kami agar masyarakat setempat berpartisipasi,” tuturnya.

Nantinya, pembangkit energi baru dan terbarukan bisa digarap bersama antara PLN dengan pengembang listrik swasta (independent power producer/IPP). Kelompok masyarakat juga bisa menggarap potensi energy terbarukan di daerah sekitar.

“Tujuannya berbagi partisipasi masyarakat kecil dan menengah. Tapi, izin pengusahaannya jangan diperjualbelikan,” kata Arifin.

Era Kendaraan Listrik

Menteri BUMN Erick Thohir. Foto: Investor Daily/Primus Dorimulu
Menteri BUMN Erick Thohir. Foto: Investor Daily/Primus Dorimulu

Menteri BUMN Erick Thohir menegaskan, Indonesia harus menjadi bagian dari era kendaraan berbasis listrik. Langkah konkrit dalam mewujudkan peran tersebut antara lain memproduksi baterai kendaraan listrik. Pasalnya, Indonesia memiliki kekayaan nikel yang dapat diolah sebagai bahan baku baterai tersebut.

“Sayang sekali total populasi kita 271 juta hanya jadi market, padahal produksi nikel kita terbesar di dunia. BUMN juga ada yang di sektor otomotif, namun bukan berarti BUMN akan memproduksi kendaraan,” kata Erick sebagai pembicara dalam acara yang sama.

Erick menuturkan, sejumlah upaya dilakukan dalam menyongsong era kendaraan listrik. Salah satunya dengan mengakuisisi saham PT Vale Indonesia Tbk melalui skema divestasi.

Tempat parkir mobil listrik di kota Paris, Prancis dilengkapi dengan gardu charger pengisian baterai kendaraan. Foto : Investor Daily/Gora Kunjana
Tempat parkir mobil listrik di kota Paris, Prancis dilengkapi dengan gardu charger pengisian baterai kendaraan. Foto ilustrasi : Investor Daily/Gora Kunjana

Vale merupakan perusahaan tambang dan pengolahan nikel terintegrasi yang beroperasi di Blok Sorowako, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Dia mengungkapkan, proses akuisisi sedang berlangsung dan diperkirakan pertengahan tahun ini ada capaian yang bisa disampaikan ke masyarakat.

“Apalagi Pak Presiden sudah bicara ibu kota baru autonomous untuk kendaraan publiknya. Nah, berarti baterai ini menjadi sesuatu yang sangat penting. Akuisisi Vale juga menjadi bagian penting secara strategic plan,” tuturnya.

Indonesia Harus Bersiap

mari pangestu
Mari Elka Pangestu

Mari mengatakan bahwa Indonesia juga perlu bersiap-siap mengantisipasi datangnya puncak energi fosil yang akan terjadi tahun 2030. Apalagi, mulai tahun 2050, beberapa lembaga internasional -- seperti World Bank dan bank komersial Standard Chartered -- tak lagi meminjamkan dana kepada proyek-proyek yang berbasis energi fosil seperti minyak bumi dan batu bara.

“Indonesia perlu bersiap. Kan transformasi penggunaan energi fosil menjadi energi baru dan terbarukan atau ramah lingkungan saat ini menjadi syarat lembaga keuangan internasional, dalam meminjamkan dana ke berbagai negara,” ujar mantan menteri perdagangan itu. Bank Dunia juga mulai selektif dalam menyalurkan kredit untuk pembangunan proyek energi dan ada syarat-syarat sustainability. Sikap itu sudah disampaikan ke pemerintah Indonesia beberapa waktu lalu.

Kemudian yang perlu menjadi catatan bagi Indonesia, lanjut dia, energy tradisional itu masih menjadi sumber utama pada pendapatan pajak dan ekspor.

“Untuk Indonesia yang ketergantungan pada minyak bumi dan batu baranya tinggi, bukan hanya itu, tapi pajak dan ekspor; ini mungkin terjadi 5-10 tahun ke depan. Peak-nya di 2050- lah akan berubah,” ujarnya dalam diskusi di Jakarta, Jumat (17/1).

Tak Hanya Sawit

Sampel minyak sawit untuk B20, B30, hingga B100. Foto ilustrasi: Investor Daily/Gora Kunjana
Sampel minyak sawit untuk B20, B30, hingga B100. Foto ilustrasi: Investor Daily/Gora Kunjana

Arifin Tasrif mengatakan, Indonesia akan terus mengembangkan energy bersih ke depan. Pemerintah juga telah mulai menerapkan mandatory biodiesel 30% untuk campuran solar (B30). Ini akan berlanjut ke B100. Biofuel itu tidak semuanya menggunakan bahan baku sawit, lanjut dia, tapi juga tanaman lain yang bisa menghasilkan energi.

Selain itu, pihaknya tengah mendorong penggunaan energy panas bumi atau geotermal untuk menopang competitiveness industri. “Kita sangat membutuhkan energi, selain terbarukan juga bisa memberikan competitiveness ke industri kita. Karena dengan adanya electricity cost yang sangat kompetitif, ini industry tambang kita menjadi (bisa membangun) smelter dan akan berkembang dengan memberikan nilai tambah sendiri,” ujarnya.

Demokratisasi Energi

Sementara itu, Direktur Eksekutif Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan (IBEKA) Tri Mumpuni mengungkapkan perlunya masyarakat dilibatkan dalam penyediaan kebutuhan energi secara mandiri. Pemenuhan energi merujuk pada potensi yang ada di daerah sekitar, yang bisa berasal dari pembangkit mikrohidro maupun biomassa.

“Kelompok masyarakat bisa mendapat pendampingan dari pemerintah dalam membangun maupun merawat pembangkit serta infrastruktur listrik lainnya. Berikan ruang untuk rakyat, jangan berikan financial support,” ujarnya. (en)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN