Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Primo Foodmart, salah satu gerai di bawah PT Matahari Putra Prima (MPPA) Tbk. Foto: mppa.co.id

Primo Foodmart, salah satu gerai di bawah PT Matahari Putra Prima (MPPA) Tbk. Foto: mppa.co.id

Bisnis Ritel Mampu Tumbuh Double Digit

Senin, 27 Januari 2020 | 10:15 WIB
Harso Kurniawan (harso@investor.co.id)

JAKARTA -- Para pengusaha ritel optimistis penjualan ritel  tahun ini tumbuh double digit atau sedikitnya 10%, lebih baik dari 2019 sebesar 8%. Pertumbuhan penjualan ritel tahun ini akan tetap didorong oleh produk pangan. Kontribusi produk pangan mencapai 60%.

“Prinsipnya, kami tetap terus berusaha optimistis, tetapi tetap waspada dengan situasi atau kondisi yang ada,” ujar Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey kepada Investor Daily.

Menurut dia, pada 2019 penjualan ritel meleset dari target sebesar 10%. Sepanjang tahun silam, pertumbuhan penjualan ritel tidak merata di setiap bulan. Konsumsi masyarakat sempat melemah, antara lain saat pilpres dan pileg digelar.

“Setelah pilpres terjadi demo-demo, sehingga konsumsi melemah, karena masyarakat menahan belanja. Kemudian ada pileg, sehingga penjualan selama dua bulan merupakan yang tendah. Di samping itu, penjualan ritel selama Ramadan 2019 lebih kecil dari 2018,” papar dia.

Roy menilai target pertumbuhan ritel tahun ini sebesar 10% realistis. Target itu mempertimbangkan volatilitas indeks penjualan riil (IPR). Berdasarkan survei Bank Indonesia (BI), pertumbuhan penjualan ritel pada November 2019 mencapai 1,3%, melambat dari bulan sebelumnya 3,6%.

Roy menegaskan, inflasi rendah juga patut diwaspadai. Sebab, di satu sisi inflasi rendah menandakan stabilitas harga barang, tetapi di sisi lain menunjukkan pelemahan daya beli masyarakat. Sepanjang tahun lalu, inflasi mencapai 2,72%, lebih rendah dari 2018 sebesar 3,13%.

Roy berharap, ke depan, pemerintah terus menjaga daya beli masyarakat dengan tetap memberikan bantuan sosial (bansos) dan subsidi. Selain itu, rupiah perlu dijaga, antara lain dengan menurunkan suku bunga acuan, BI 7-days Reverse Repo Rate (BI 7-DRRR).

Roy mengatakan, tahun ini pertumbuhan penjualan ritel akan tetap didorong oleh produk pangan. Soalnya, kontribusi produk pangan mencapai 60%.

Roy juga meyakini, berkembangnya e-commerce tahun ini tidak akan serta-merta menggeser peran toko ritel. Justru akan semakin banyak toko ritel yang juga menjual produknya secara online.

Roy Mandey memproyeksikan hanya 5% toko ritel yang tidak menjual produknya secara online. “Saat ini, semua perusahaan ritel memiliki bisnis e-commerce atau online untuk memenuhi tuntutan pasar,” tandas dia.

Sampai saat ini, kata dia, transaksi perdagangan yang dilakukan secara offline masih lebih tinggi. Masyarakat Indonesia biasanya hanya membeli secara online barang-barang berjenis mass product yang harganya murah.

BI memproyeksikan pertumbuhan ritel sepanjang kuartal IV-2019 lebih tinggi dari kuartal sebelumnya. Hasil Survei Penjualan Eceran (SPE) menunjukkan, rata-rata penjualan ritel pada kuartal IV-2019 tumbuh 1,6% secara tahunan (year on year/yoy), lebih tinggi dari kuartal sebelumnya sebesar 1,4%.

Hasil survei yang sama memproyeksikan penjualan eceran akan menurun pada Februari 2020. Namun, akan meningkat lagi pada Mei 2020, sejalan dengan perkiraan tingginya permintaan pada periode Ramadan dan Lebaran.


 

Editor : Hari Gunarto (hari_gunarto@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN