Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kamar Hotel

Kamar Hotel

Okupansi Hotel Turun akibat Covid-19

Selasa, 14 April 2020 | 09:53 WIB
Tri Listiyarini (redaksi@investor.id)

Jakarta, investor.id-Tingkat hunian kamar (okupansi) sektor perhotelan dalam dua bulan terakhir nyaris nol akibat mewabahnya virus corona baru (Covid-19). Perhotelan merupakan salah satu sektor yang merasakan dampak paling parah akibat virus tersebut. Okupansi perhotelan sebenarnya sudah rendah sebelum Covid-19 mewabah, saat itu okupansinya hanya sekitar 50%.

Wakil Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran (PHRI) Sutrisno Iwantono mengatakan, saat ini banyak sektor usaha yang sudah sekarat karena Covid-19, untuk membayar biaya tetap saja sudah mengalami kesulitan. Salah satunya sektor perhotelan yang bisa disebut mati suri. “Sebelum wabah Covid-19 saja hotel sudah setengah mati, tingkat hunian waktu itu berkisar di angka 50%, bahkan untuk hotel kecil nonbintang sekitar 33%. Waktu itu, sudah banyak hotel kecil yang tutup. Sekarang ini, parah, okupansi mendekati nol sudah dua bulan ini,” kata dia di Jakarta, kemarin. Pada Maret-April masa malapetaka bagi sektor perhotelan dan pada Juni-Juli akan lebih parah.

Advertisement

Menurut Sutrisno yang juga peneliti senior di Institut of Developing Entrepreneurship, sektor lain yang juga paling berat terkena imbas Covid-19 adalah sektor usaha terkait lalu lintas manusia, seperti pariwisata dan seluruh mata rantainya, pedagang tradisional seperti di Tanah Abang itu, restoran, pedagang di mal, hiburan, transportasi umum, dan penerbangan. “Ini sektor-sektor yang juga paling parah, selama orang tidak bisa dan tidak boleh keluar rumah karena ancaman nyawa oleh virus maka selama itu pula usaha mereka tidak bisa bangkit,” jelas Sutrisno.

Dampak Covid-19 bisa jadi merembet ke sektor manufaktur. Industri ini mungkin tidak langsung berhubungan dengan lalu lintas orang, tetapi produksi bisa mandek ketika karyawannya tidak dapat berangkat kerja karena keharusan tinggal di rumah. “Kalau industri manufaktur berhenti siapa nanti yang menyediakan kebutuhan masyarakat dan semakin parah pengangguran. Karena itu, sektor manufaktur mestinya tetap didorong untuk produksi tentu dengan protokol Covid-19. Ada beberapa pemerintah daerah yang melarang operasi manufaktur, padahal daerah itu bukan episentrum, ini bisa bahaya karena suplai barang terhenti,” ungkap dia.

 

 

Editor : Tri Listiyarini (tri_listiyarini@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN