Menu
Sign in
@ Contact
Search
Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia (kiri) didampingi Juru Bicara dan Komite Investasi BKPM Tina Taliza saat menggelar Halal bi Halal virtual dengan wartawan, di Jakarta, Jumat (12/6/2020). Foto: BeritaSatu Photo/Humas BKPM

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia (kiri) didampingi Juru Bicara dan Komite Investasi BKPM Tina Taliza saat menggelar Halal bi Halal virtual dengan wartawan, di Jakarta, Jumat (12/6/2020). Foto: BeritaSatu Photo/Humas BKPM

Ini Alasan Pemindahan Pengembangan Industri Brebes ke Batang

Sabtu, 13 Juni 2020 | 17:44 WIB
Triyan Pangastuti (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id - Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia menyebut proyek pengembangan kawasan industri Brebes (KIB) akan dipindahkan ke Batang yang juga berada di Jawa Tengah dikarenakan ada permasalahan lahan yang masih memerlukan penimbunan.

Ia mengatakan pemindahan kawasan dari Brebes ke Batang merupakan strategi jangka pendek yang dilakukan pemerintah dan sesuai dengan Perpres Percepatan Pembangunan Ekonomi Kawasan di Jawa Tengah dan Jawa Timur.   Sehingga nanti Brebes akan tetap dikembangkan untuk investasi .

“Di Brebes bukan berarti batal, tetap jadi kawasan industri tapi cari yang tercepat dan di Batang aturannya sudah ada di Perpres percepatan kawasan Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur,” tuturnya dalam konferensi pers  virtual, Jumat (12/6).

Ia mengatakan bahwa kedua kawasan ini cukup menarik bagi investor, karena memiliki lokasi yang strategis terletak dekat tol. Kendati begitu, untuk industri Brebes memiliki masalah tanahnya yang berada 2,5 meter di bawah permukaan jalan, sehingga masih butuh penimbunan terlebih dahulu, ia khawatirnya eksekusinya justru lebih lama.

Sementara untuk kawasan industri di Batang tidak memerlukan penimbunan, sehingga bisa langsung dieksekusi.

“Tapi jika tunggu (Brebes) penimbunan dulu baru,  tarik investor nanti ketinggalan. Kita buat 2 strategi brebes dikembangkan. Jangka pendek ambil (investor)  dulu dari batang,”tandasnya.

Di sisi lain, proses pembebasan lahan di Batang, dinilainya lebih cepat sebab area tanahnya milik PT Perkebunan Nusantara (Persero) atau PTPN.  Nantinya investor yang ingin mengembangkan industri tidak perlu membeli  lahan tetapi investor dapat bekerjasama dengan menyewa lahan, sehingga modal lahan dapat lebih rendah daripada harus membeli.

Dengan modal lahan yang rendah karena investor  bisa menyewa maka Bahlil yakin Indonesia bisa bersaing dengan Vietnam dalam menggaet investor.

Bahlil mengatakan terkait masalah harga tanah di Vietnam lebih murah ketimbang di Indonesia. Kemudian di Vietnam biasanya jika ada investor ingin berinvestasi di negara tersebut tanahnya justru disediakan oleh negara dan sudah ditentukan lahannya oleh pemerintah, sehingga investor tinggal datang dan menyewa lahan tersebut. 

“Jadi sekali lagi tidak dibatalkan Brebes dan Batang aturan dua duanya, Jangka pendek hajar di Batang jangka panjang di Brebes. Area beda 1 jam lokasi Brebes dan Batang,”tuturnya.  

Bahkan menurutnya Indonesia berpotensi menerima limpahan realokasi pabrik dari negara Jepang, Korea Selatan dan Amerika Serikat untuk  membangun industri manufaktur, furniture, dan elektronik. Akan tetapi ia masih enggan menyebutkan negara mana yang minat berinvestasi di kawasan Brebes dan Batang dan nominal investasinya.

Sebelumnya, Bahlil mengatakan bahwa Provinsi Jawa Tengah merupakan salah satu destinasi favorit investasi dalam negeri maupun asing. Bahlil mengatakan, iklim investasi di Jawa Tengah sangat kondusif dan menjadi daya saing tersendiri bagi wilayah ini.

"Suasananya yang tenang, tidak ribut-ribut, infrastruktur tersedia dengan baik, dan keramahan masyarakat yang membuat daya saing investasi Jawa Tengah kian membaik," ujar Bahlil.

Perlu diketahui Jawa Tengah berada pada posisi keempat realisasi investasi Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) periode triwulan I-2020 dengan nilai Rp 19,3 triliun (9,1%) dari total realisasi investasi. Investasi PMDN jauh mendominasi senilai Rp 14,6 triliun, sementara investasi PMA sebesar US$ 321 juta (Rp 4,7 triliun).  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com