Menu
Sign in
@ Contact
Search
Peluncuran nama baru Holding Industri Pertambangan  menjadi MIND ID

Peluncuran nama baru Holding Industri Pertambangan menjadi MIND ID

AKUISISI FREEPORT

MIND ID Pastikan Mampu Bayar Utang

Jumat, 3 Juli 2020 | 08:17 WIB
Rangga Prakoso (rangga.prakoso@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Holding BUMN Pertambangan, PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) atau biasa disebut MIND ID (Mining Industry Indonesia) dipastikan mampu membayar kewajiban utang global bond yang dikeluarkan untuk mengakuisisi PT Freeport Indonesia dan membiayai kegiatan investasi perusahaan tambang emas dan tembaga tersebut.

“Saya optimis bisa bayar dan semuayang memberi pinjaman juga optimis untuk bisa bayar. Posisi hari ini bahkan sampai 2023, dengan cash yang kita miliki ikita akan bisa melewati untuk bayar kewajiban-kewajiban itu, kita sudah lakukan stress test dan hasilnya kita bisa bayar,” kata Direktur Utama MIND ID Orias Petrus Moedak dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VII DPR RI di Jakarta, Kamis (2/7)..

Dia juga memastikan bahwa tidak ada aset yang digadaikan untuk mendapatkan ataupun mendapatkan utang -utang tersebut.

Dia menyebut tingkat rating perusahaan yang membuat para investor yakin memberikan pinjaman. Penerbitan obligasi itu menunjukkan kepercayaan investor global terhadap prospek jangka panjang MIND ID.

“Mereka melihat kemampuan kita ke depan membayar, mereka tidak ragu bahwa kita akan default. Ada 300 institusi yang partisipasi. Investornya dari seluruh dunia,” tegasnya.

Orias Petrus Moedak
Orias Petrus Moedak

Tercatat dua kali Inalum menerbitkan obligasi. Kali pertama pada 2018 silam senilai US$ 4 miliar untuk mengakusisi saham Freeport yang dibandrol US$ 3,85 miliar. Sedangkan obligasi kedua pada Mei kemarin senilai US$ 2,5 miliar. Pendanaan yang diterima MIND ID dari obligasi kedua tersebut digunakan antara lain untuk pembelian kembali sebagian dari total obligasi senilai US$ 4 miliar yang pernah diterbitkan perusahaan pada 2018 senilai US$ 1 miliar dengan tingkat kupon sebesar 5,230% dan tenor hingga 2021 dan senilai US$ 1,25 miliar dengan tingkat kupon sebesar 5,710% dan tenor hingga 2023.

Orias Petrus Moedak mengatakan obligasi senilai US$ 4 miliar pada 2018 itu ada trance dengan jatuh tempo 3 tahun, 5 tahun, 10 tahun dan 30 tahundengan bunga rata-rata 6% per tahun atau senilai US$ 250 juta/tahun.

Dia menyebut perusahaan akan kesulitan mencari pendanaan senilaiUS$ 1 miliar yang jatuh tempo tahun depan bila pandemi Covid-19 berdampak negatif terhadap operasional. Oleh sebab itu perusahaan segera masuk pasar untuk melakukan refinancing yang jatuh tempo pada 2021 dan 2023.

“Jadi kami menerbitkan pinjaman US$ 2,5 miliar, kami refinancing yang akan jatuh tempo 2021-2023. Setengahnya kami bayar. US$ 1 miliar kami pakai untuk membayar setengah utang 2021 kemudian US$ 500 juta diutang 2023. Tekanan bagi kami membayar utang tidak seberat kalau tidak melakukan apa-apa,” kata Orias.

Disebutkan, pada 2019-2020 belum ada penerimaan dari Freeport. Tambang tembaga di Papua itu memberi cashflow mulai 2021 mendatang. Dia menyebut pada tahun depan level produksi diekspektasikan sama dengan 2018. Bila harga komoditas dan level produksi sama seperti 2018 maka diperkirakan mendapat dividen di tahun depan sebesar US$ 350 juta.

Nilai dividen terus meningkat di tahun-tahun berikutnya dan diproyeksikan mencapai minimalUS$ 1 miliar pada 2023. “Ini tergantung produksi dan harga saat itu,” jelasnya.

Menanggapi hal tersebut, Peneliti Alpha Research Database Ferdy Hasiman dalam sebuah tayangan mengatakan, masalah utang sering dijadikan komoditas politik, karena ini isu yang sensitif.

“Jadi soal utang, apalagi MIND ID yang akuisisi Freeport Indonesia dan kiratahu bahwa Freeport adalah tambang tembaga dan emas raksasa , pasti jualan politiknya laku,” ujarnya.

Menurut dia, dari sisi utang, sah-sah saja Inalum meminjam lewat penerbitan Global Bond. Dia mengaku mengikuti benar proses peminjaman penerbitan Global Bond dimana dengan susah payah Budi Gunadi saat itu melakukan roadshow ke pasar global untuk mendatangkan US$ 4 miliar, supaya bisa mengakuisisi 51% saham Freeport.

“Kalau itu tidak dilakukan, negara kehilangan momentum untuk mengambil alih 51% saham Freeport. Jadi US$ 5 miliar dalam ukuran peruahan sekelas Freeport itu utang yang kecil , karena kemampuan Inalum untuk membayar utang sangat besar,” ujarnya.

Menurut dia, cashflow Inalum sampai hari ini mencapai Rp 40 triliun. Total dana yang harus dibayarkan setiap tahun untuk membayar utang Freeport sekitar US$ 250 juta. Jadi tiap tahun Inalum harus bayar utang sekitar Rp 4 triliun untuk membayar Global Bond. “Kalau dari Rp 40 trilium Dari Rp 40 triliun, itu kecil,” tegasnya.

Ferdy menilai, pasar global pasti melihat ini perusahaan sangat sehat, sehingga sangat wajar kalau investor global memberi dana pinjaman yang begitu besar karena perusahaan punya kemampuan yang begitu besar untuk membayar.

Hal kedua, kata dia, investor mellihar potensi tambang MIND ID Grassberg di Papua. Ini adalah salah satu tambang yang paling profitable di dnuia. Selama ini Freeport sudah menambang di tambang open pit, yang berkontribusi 7% dari keseluruhan cadangan tambang Freeport dan sudah selesai ditambang pada 2019.

Selanjutnya pada 2020 sampai 2041 nanti Freeport dan Inalum akan melakukan penambangan di underground.

“Kita tahu bahwa tambang di underground berkontribusi 93% terrhadap keseluruhan cadangan Freeport, jadi rugi kalau pemerintah Indonesia tidak masuk sekarang,” katanya.

Apalagi, kata dia. Inalum mulai dapat dividen pada tahun mendatang dan mulai 2023, Inalum akan dapat dividen US$ 1 miliar. “Jadi, kalau mau bayar utang 5 tahun juga bisa,” ujarnya.

Dia pun menilai, kebutuhan investasi sampai tahun 2041 di kisaran US$ 13-15 miliar. Jadi kalau inalum punya saham 51% di Freeport Indonesia, mau tak mau dia haus lakukan pembuataan d tambang underground. Inalum juga harus kerja sama sama dengan Frepoprt untuk membangun smelter di Gresik.

“Jadi tambahan utang Rp 35 triliun itu untuk antisipasi apalagi Inalum bukan hanya mengakuisisi Freeport, tapi UU Minerba menegaskan, untuk ambil alih seluruh saham asing yang akan diserahkan ke pemeri ntah, dan inlum punya tugas berat mengambi akih, bukan udah DPR secara politis harus dukung upaya ini demimencapai kedaulatan pertambangan strategis,” katanya.

Sekarang saja di masa pandemik, Freeport memproduksi 120 ribu ton tembaga per hari. Kalau dalam keadaan normal. 170-200 ribu metrik ton per hari. “Dengan produksi sebesar itu keuntungan Freeport US$ 4-5 miliar ke depan itu bisa,” tegasnya.

Diskusi Memanas

Suasana RDP antara Komisi VII dengan Inalum sempat memanas. Hal ini terjadi karena Anggota Komisi VII DPR Muhammad Nasir menyoroti pinjaman sampai 30 tahun. Dia khawatir tiga perusahaan yang tergabung dalam Holding Pertambangan turut menopang utang tersebut.

Selain itu dia menyayangkan pemaparan Orias tanpa didukung oleh lampiran data. “Kalau bapak sekali lagi begini (tanpa data) saya suruh bapak ruangan ini,” ujarnya.

“Kalau bapak suruh keluar, izin pimpinan saya keluar,” jawab Orias singkat.

Suasana rapat kian memanas lantaran Nasir menggebrak meja usai mendengar respon Orias. “Bapak bagus keluar, karena enggak ada gunanya bapak rapat disini. Anda bukan buat main-main dengan DPR ini. Anda rapat harus lengkap bahannya, enak betul anda disini,” kata Nasir dengan nada tinggi.

“Saya nggak main-main. Saya diundang saya datang,” timpal Orias.

Kesimpulan RDP antara lain meminta Dirut MIND ID menyampaikan penjelasan detil terkait proyeksi pendapatan negara dari Freeport dalam jangka waktu lima tahun ke depan.

Atas insiden tersebut, Ferdy menilai ini hanya politis, karena seharusnya momen itu bisa dilakukan pada saat kepemimpinan sebelumnya, tapi gagal melakukan itu dan baru berhasil pada kepemimpinan Jokowi Saya kira Jokowi punya insting politis yang bagus dan ini kita perlu dukung karena ini tambang

yang profitable,” katanya. (es)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com