Menu
Sign in
@ Contact
Search
Defiyan Cori, Ekonom Konstitusi

Defiyan Cori, Ekonom Konstitusi

HUT KOPERASI KE-73,

Koperasi Masih Kesulitan Akses Kredit Bank

Senin, 13 Juli 2020 | 11:26 WIB
Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com) ,Triyan Pangastuti (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id - Ekonom konstitusi Defiyan Cori yang merupakan alumnus UGM mengatakan, tidak semua koperasi di Tanah Air adalah jenis koperasi simpan pinjam.

Namun, lanjut dia, alasan akses ke kredit perbankan yang sulitlah yang membuat koperasi ‘menolong’ dirinya sendiri dalam pembiayaan organisasinya, terlebih skema pinjaman atau kredit lembaga perbankan tidak sesuai dan tidak cocok dengan koperasi.

Ia menjelaskan, tujuan koperasi didirikan adalah untuk membangun ekonomi para anggotanya melalui kegiatan usaha atau bisnis, sehingga orientasi SHU yang sebesar-besarnya bukan indikator utama, meski tak dipungkiri setiap Rapat Anggota Tahunan (RAT) sebagai forum tertinggi koperasi ada keputusan pembagian SHU.

“Jadi, tujuan mengkorporasikan koperasi tidak saja telah tidak sesuai dengan prinsip pendirian koperasi, tapi justru merendahkan martabat bangun usaha koperasi itu sendiri. Soal kemajuan dan perkembangan usaha harus diupayakan dengan menerapkan ilmu manajemen dan tidak harus mengubah atau menjadikan koperasi seperti korporasi, yang sangat berbeda secara diametral dan mendasar.

Justru kalau koperasi mengubah prinsipnya, maka bangun usahanya bukan lagi koperasi. Koperasi adalah kumpulan orang, korporasi kumpulan modal, oleh karena itu koperasi tidak bisa dan tidak mungkin dikorporasikan,” imbuhnya.

Laporan data Koperasi
Laporan data Koperasi

Sementara itu, Founder UKM Center FEB UI Nining Soesilo mengatakan, jumlah koperasi di Indonesia cukup banyak, tetapi banyak juga yang tidak aktif karena terlalu menggantungkan pada dana dari luar. Bahkan, ia mencatat banyak koperasi yang abal-abal, mencapai 53 ribu dari kurun waktu 2012 hingga tahun 2014.

“Tahun 2015, kementerian memberlakukan ketentuan koperasi harus memiliki ID khusus, jika tidak ada ma ka diancam ditutup. Mulai 2016 mu lai ditutup, angka terbanyak ditutup tahun 2016 45.629 koperasi, berlanjut di 2017, 2018, dan 2019 koperasi kembali banyak ditutup,” tuturnya dalam diskusi, Minggu (12/7). (ns/hg/pd/b1/en)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com