Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Staf Khusus Menteri Keuangan Masyita Crystallin.

Staf Khusus Menteri Keuangan Masyita Crystallin.

Kemenkeu: Kebijakan Fiskal 2021 Tetap Menjaga Keseimbangan Penerimaan dan Belanja

Rabu, 19 Agustus 2020 | 10:52 WIB
Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Staf Khusus Menteri Keuangan Masyita Crystallin mengatakan, kebijakan dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) Tahun 2021 dijalankan dengan tetap memperhatikan tiga hal yaitu stabilitas makroekonomi, redistribusi pendapatan, dan alokasi sumber daya. Target penerimaan dan pengeluaran dilakukan dengan memperhatikan kondisi perekonomian domestik. Defisit APBN ditargetkan di angka 5,2% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

“Salah satu yang dijaga di kebijakan fiskal itu adalah menyeimbangkan sisi penerimaan dan pengeluaran,” ucap Masyita dalam diskusi virtual pada Selasa (18/8/2020) malam.

Masyita mengatakan, kebijakan ekonomi pada tahun ini lebih fokus pada menjaga menjaga stabilitas dan redistribusi pendapatan. Sebab, sebagian besar dari program pemulihan ekonomi nasional selain untuk kesehatan, dialokasikan juga untuk meningkatkan bantuan sosial. Hal ini untuk mendukung konsumsi, terhadap dunia usaha, dan juga terutama kepada tenaga kerja dan golongan menengah ke bawah. Menurut dia, itu sangat besar dampaknya sehingga redistribusi pendapatan menjadi yang utama.

“Stabilitas ekonomi kurang lebih masih relatif terjaga redistribusi itu tetap nomor satu, akan tetapi tanpa stabilitas ekonomi di tahun ini maka kondisi bisa jauh lebih tidak enak ya, tidak baik untuk perekonomian,” ucap Masyita.

Pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal II-2020 mengalami kontraksi sebesar 5,32%. Pada kuartal pertama, pertumbuhan ekonomi sudah menurun di angka 2,97%. Padahal dalam beberapa tahun terakhir pertumbuhan ekonomi national mencapai kisaran 5%. Hal ini menunjukkan perlambatan ekonomi yang sangat serius sudah terjadi pada kuartal pertama.

Pada awal tahun ini kondisi perekonmian domestik dalam laju perekonomian meningkat. Hal ini terjadi karena meningkatnya aliran modal asing yang masuk ke Indonesia. Pemerintah pun sudah berupaya mengantisipasi disrupsi rantai pasok dari Tiongkok.

“Oleh karena itu yang pertama dilakukan adalah mempermudah syarat lartas (larangan terbatas) untuk impor bahan baku dan bahan modal agar tidak terjadi disrupsi produksi,” tutur Masyita.

Dia mengatakan, saat ini ada pembalikan terhadap indikator perekonomian yaitu Purchasing Manager Index (PMI). “Salah satu indikator PMI mulai terjadi pembalikan arah. Pada April hingga bulan ini masih masuk kontraksi, tetapi mulai ada pembalikan,” ucap Masyita.

 

Editor : Thomas Harefa (thomas@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN