Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Raden Pardede.  SUmber: BSTV

Raden Pardede. SUmber: BSTV

Tanpa Vaksin Tingkat Kepercayaan Investor dan Imunitas Menurun

Rabu, 23 September 2020 | 20:32 WIB
Triyan Pangastuti

JAKARTA, investor.id - Pemerintah mengakui penanganan sisi kesehatan dan penanganan ekonomi tidak mudah ditaklukan. Sebab kurva Covid-19 belum melandai. Oleh karena itu tanpa pengadaan vaksin ekonomi Indonesia pun dinilai akan sulit pulih sebab tingkat imunitas dan tingkat kepercayaan menurun.

“Kita harus akui penanganan Covid-19 ini masih sulit ditaklukkan sampai sekarang. Bahkan potensi second wave ada dan terjadi di Eropa,” jelas Sekretaris Eksekutif I KPC PEN, Raden Pardede dalam konferensi secara daring, Rabu (23/9).

Ia mengatakan bahwa kurva kasus Covid-19 masih akan terus naik dan turun hingga ditemukannya vaksin. Oleh karena itu, ia berharap vaksin dapat terdistribusi sehingga imunitas penduduk akan lebih baik dan bisa mengatasi pandemi Covid-19.

Menurut dia, proses adaptasi dengan menerapkan protokol kesehatan harus terus dilakukan. Pasalnya selama masih terjadi penyebaran Covid-19, maka gejolak akan terus terjadi.

“Vaksin bermutasi jadi gak bisa tau bagaimana perilaku virus dan tingkat infeksi gak bisa prediksi, jadi kebijakan ekonomi juga harus siap sedia adaptasi dan adjusment,” tuturnya.

Selain itu, ia berharap vaksin dapat terdistribusi pada tahun 2021, sehingga dalam rencana jangka menengah, diproyeksikan ekonomi dapat tumbuh kembali seperti sebelum Covid tahun 2023.

Lebih lanjut, menurutnya tanpa vaksin ekonomi juga sulit pulih dari dampak Covid -19. Pasalnya tanpa vaksin maka tingkat imunitas dan tingkat kepercayaan investor akan menurun terhadap ekonomi Indonesia sehingga pemulihan ekonomi tidak berjalan optimal.

“Jadi kalau tingkat kepercayaan tidak bisa benar-benar kembali, maka tingkat pemulihan kembali tidak akan bisa optimal seperti yang kami sebutkan. Oleh karena itu gabungan antara kita mendapatkan vaksin, gabungan antara kita perbaiki kesehatan kita, juga perbaiki kesehatan dasar, itu yang bisa membuat ekonomi bisa kembali”, jelasnya.

Wiku Adisasmita, Jubir Pemerintah Penanganan Covid-19. Sumber: BSTV
Wiku Adisasmita, Jubir Pemerintah Penanganan Covid-19. Sumber: BSTV

Pada kesempatan yang sama, Juru Bicara Satgas Covid-19, Wiku Adisasmito mengungkapkan untuk menurunkan kasus positif Covid, jumlah tes memiliki peran penting terhadap penanganan virus corona dan pemulihan ekonomi nasional (PEN).

Hingga per September sudah terjadi kenaikan jumlah testing sudah mencapai kurang lebih 31.000 orang dengan jumlah spesimen yang sudah dites mencapai 43.896. Kendati begitu, jumlah tes tersebut masih di bawah standar yang ditetapkan Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO).

"Per jumlah penduduk itu kalau kita rata-rata, perlunya sekitar 38.500 orang diperiksa per hari. Sekarang sudah 31.000, tinggal 8.000 orang per hari. Meskipun ini tidak konsisten. Kadang-kadang naik dan turun," ujar Wiku.

Kendati dari total 43.896 spesimen dari 34 Provinsi di Indonesia yang sudah diperiksa, 50% merupakan masyarakat di DKI Jakarta. Oleh karena itu, ia mengingatkan untuk tidak boleh puas karena sudah mendekati standar WHO, sebab implementasi tersebut belum merata di seluruh Indonesia.

“Jadi harus apple to apple saat membandingkan dengan membandingkan dengan negara kecil sebab Indonesia merupakan negara besar kepulauan jadi kita lebih fokus ke daerah-daerah yang harusnya test lebih banyak daripada daerah lainnya. Masalahnya disitu biasanya terkait kemampuan laboratorium jadi bukan excuse gak ada yang siap menghadapi ini di seluruh dunia, tapi khusus Indonesia begitu besar, saat ini laboratorium pun sudah berkembang dari 1 hanya berada di Litbangkes dan 6 bulan ini sudah ada 343 laboratorium,”tuturnya.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN