Menu
Sign in
@ Contact
Search
Kebutuhan Gas Industri

Kebutuhan Gas Industri

Harga Gas Kawasan Industri Diusulkan Turun

Senin, 12 Oktober 2020 | 12:13 WIB
Leonard AL Cahyoputra (leonard.cahyoputra@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengkaji usulan penurunan harga gas untuk kawasan Industri (KI). Hal ini bertujuan meningkatkan daya saing industri yang berada di KI.

“Saat ini, kami mendata sejumlah KI yang membutuhkan penurunan harga gas,” papar Menperin, akhir pekan lalu.

Menperin menegaskan, muncul usulan penurunan harga gas untuk pembangkit listrik di Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE) di Gresik, Jawa Timur. Selain itu, KI ini diusulkan menjadi kawasan ekonomi khusus (KEK).

Sebelumnya, pemerintah menetapkan harga gas sebesar US$ 6 per mmbtu mulai 6 April 2020. Harga gas itu ditetapkan dalam Peraturan Menteri (Permen) ESDM No.8 Tahun 2020 tentang Cara Penetapan Pengguna dan Harga Gas Bumi Tertentu di Bidang Industri.

Berdasarkan Perpres 40/2016, ada delapan sektor yang mendapatkan harga gas sebesar US$ 6per mmbtu, yakni industri petrokimia, industri kaca (glassware), industri kaca lembaran, industri keramik, industri sarung tangan karet, industri baja, industri oleokimia, dan industri pupuk.

Dari delapan sektor terebut, sebelumnya Kemenperin sudah memasukkan 88 perusahaan.

Di sisi lain, Direktur Utama PT Berkah Kawasan Manyar Sejahtera (BMKS) Bambang Soetiono menuturkan, JIIPE adalah kawasan terintegrasi pertama di Indonesia dengan total area 3.000 ha, yang terdiri atas kawasan industri, pelabuhan multiguna, area komersial dan perumahan.

“Selain dilengkapi dengan sarana prasarana yang cukup, kawasan ini juga terintegrasi dengan pelabuhan dengan kedalaman 16 meter di bawah permukaan laut, sehingga kapal besar dengan kapasitas 100 ribu DWT (dead weight tonnage) dapat melakukan bongkar muat di Pelabuhan JIIPE,” ujar Bambang.

Salah satu prouek yang menjadi sorotan di JIIPE adalah pembangunan pabrik pemurnian dan pengolahan (smelter) tembaga PT Freeport Indonesia.

Saat ini, proyek itu terkendala pandemi Covid-19, yang membuat mobilitas kontraktor smelter terhenti.

Meski begitu, Kemneterian Perindustrian (Kemenperin) terus berupaya mendongkrak daya saing industri nasional melalui hilirisasi mineral. Salah satunya dengan mendorong pembangunan smelter Freeport di Gresik.

“Banyak produk hilirisasi yang bisa dikejar, sehingga nantinya di Indonesia ada pabrrik-pabrik yang menggunakan hasil pemurnian dari Freeport. Nilai tambahnya bisa terus didorong,” kata Menperin.

Freeport Indonesia merupakan perusahaan tambah terafiliasi Freeport-McMoran dan holding industri pertambangan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Mining Industry Indonesia (MIND IND).

Perusahaan tersebut sedang membangun pemurnian tembaga sebagia bahan baku industri otomotif, industri elektronik, kabel, pabrik AC, konstruksi instalasi listrik, hingga electric vehicle.

Menperin telah meninjau proyek smelter Freeport Indonesia di kawasan industri JIIPE yang dibangun di lahan 100 hektare, serta area pendukung 120 hektare.

Fasilitas pemurnian untuk meningkatkan kandungan logam tersebut diproyeksikan menjadi tempat pengolahan tembaga terbesar di dunia.

Editor : Eva Fitriani (eva_fitriani@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com