Menu
Sign in
@ Contact
Search
Adi Setianto, Komisioner BP Tapera

Adi Setianto, Komisioner BP Tapera

Bonus Demografi Peluang bagi Pembiayaan Perumahan

Senin, 19 Okt 2020 | 16:51 WIB
Imam Mudzakir (imam_koran@investor.co.id)

JAKARTA, Investor.id-Bonus demografi yang terjadi di Indonesia pada rentang 2020-2030 membuat kebutuhan akan rumah meningkat pesat. Hal ini memunculkan potensi bisnis yang luar biasa bagi pengembang dan perbankan dalam pembiayaan perumahan.

Hal tersebut disampaikan Direktur Hubungan Kelembagaan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) Sis Apik Wijayanto, Komisioner BP Tapera Adi Setianto, Ketua Umum DPP REI Paulus Totok Lusida, dan Analis Kebijakan Ahli Madya BKKBN Muktiani Asrie Suryaningrum, dalam diskusi virtual “Bonus Demografi dan Tantangan Pembiayaan Perumahan” di Jakarta, Senin (19/10).

Adi Setianto mengatakan, bonus demografi di Indonesia diperkirakan terjadi pada 2025 dengan rasio ketergantungan penduduk mencapai titik terendah yaitu 44,2. Hal ini berarti setiap 100 orang yang bekerja menanggung 44 orang yang tidak bekerja. Bonus demografi ini menjadi salah satu faktor pendorong pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

Dia mengatakan, hadirnya BP Tapera di sisi demand side diyakini mampu menyediakan potential buyer untuk sektor perumahan. Sehingga melalui kontribusi ini, BP Tapera menjadi salah satu penggerak pertumbuhan sektor sekunder di Indonesia.

Advertisement

“Tumbuhnya sektor sekunder di Indonesia, diyakini mampu membuka lapangan usaha dan menyerap tenaga kerja pada sektor tersebut. Pertumbuhan tersebut juga dapat mendorong investasi dan inovasi teknologi pada sektor sekunder,” ujar Adi.

Dia mengungkapkan, kesiapan Tapera untuk menangkap besarnya potensi bonus demografi yang sudah mulai terasa tahun 2020, dengan cara membuka akses dan kemudahan bagi siapa saja yang ingin menjadi peserta dan mendapatkan manfaat dari kepesertaannya. Tidak hanya itu, kemudahan akses untuk menjadi peserta ini juga akan mengarah kepada dorongan sektor properti untuk dapat mengakomodir demand yang terjadi.

Sementara itu, Direktur Hubungan Kelembagaan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) Sis Apik Wijayanto mengatakan, BNI telah siap untuk menjadi mitra BP Tapera dalam mengakselerasi kepemilikan hunian yang terjangkau bagi masyarakat Indonesia. BNI yakin dengan telah dijalinnya kerja sama dengan BP Tapera dapat lebih mendorong pertumbuhan kredit pemilikan rumah (KPR). Hal tersebut terutama dengan adanya Program kerjasama berupa Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP).

Sis Apik juga menerangkan adanya bonus demografi yang dapat menjadi peluang bagi BNI untuk meningkatkan produk KPR melalui BNI. Jumlah penduduk Indonesia semakin bertambah, terutama segmen milenial Indonesia. Peningkatan jumlah milenial ini diiringi dengan kebutuhan rumah. “BNI sebagai salah satu bank yang menyalurkan KPR dengan nama BNI Griya selalu siap mensupport program pemerintah untuk pemenuhan rumah bagi masyarakat, terutama Milenial,” ujarnya.

Program yang ditawarkan adalah BNI Griya Komersial dan BNI Griya Subsidi Pemerintah. Untuk program komersial, saat ini BNI Griya menawarkan suku bunga ringan mulai 4,74% dan opsi angsuran bayar bunga saja hingga dua tahun pertama yang merupakan salah satu bentuk kemudahan calon debitur agar tetap dapat memiliki rumah khususnya di masa pandemi Covid-19.  Sedangkan untuk KPR Subsidi pemerintah di antaranya terdapat Program FLPP, Program SSB, Program BP2BT.

BNI telah menyalurkan kredit konstruksi untuk pengembang dengan skema paket kerja sama pembiayaan pembangunan perumahan sampai penjualan.

Kerja Sama Strategis

Pada kesempatan yang sama, Totok Lusida menuturkan potensi bonus demografi sangat besar bagi bisnis sektor properti, termasuk perumahan. Untuk itu perlu kerja sama strategis dari pemerintah, BP Tapera, perbankan dan pengembang dalam memanfaatkan peluang tersebut.

Menurut Totok kerja sama yang perlu dilakukan salah satunya, BP Tapera harus menempatkan dana Tapera di bank, dengan begitu bank memiliki kecukupan likuiditas untuk menurunkan suku bunga KPR. Pemerintah juga perlu menjamin agar bunga pinjaman dari dana jangka panjang tersebut tidak tinggi (sama dengan tingkat inflasi).

 “Ketersediaan dana ini diharapkan dapat mendukung penyediaan rumah bagi kelompok milenial, ASN, TNI, Polri, dan kelompok masyarakat kelas menengah lainnya yang tidak bisa masuk dalam program FLPP,” papar Totok.

Menurut Muktiani Asrie, tahun ini Indonesia sudah menikmati bonus demografi dimana dua orang usia produktif menangani kurang dari satu orang usia non produktif. Dari jumlah usia produktif tersebut sekitar 25% didominasi oleh usia 14-24 tahun. “Jumlah usia produktif yang cukup besar di Indonesia ini pastinya jadi peluang bagi sektor perumahan untuk bisa memenuhi kebutuhan mereka akan rumah,” jelas Muktiani.

Editor : Edo Rusyanto (edo_rusyanto@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com