Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Wisman Tiongkok. Foto ilustrasi: beritasatu.com

Wisman Tiongkok. Foto ilustrasi: beritasatu.com

RI Kehilangan 2 Juta Turis Tiongkok

Selasa, 5 Januari 2021 | 09:30 WIB
Sanya Dinda (sanya.susanti@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id  –_ Industri pariwisata Tanah Air berpotensi kehilangan 2 juta wisatawan mancanegara (wisman) asal Tiongkok di awal tahun akibat pandemi Covid-19 yang belum juga berakhir.

Pemerintah juga telah mengeluarkan kebijakan larangan bagi Warga Negara Asing (WNA) untuk masuk ke Indonesia sepanjang  1-14 Januari 2021_terkait_kemunculan varian baru Covid-19 di Inggris.

“Sebelum pandemi Covid-19 menyebar di seluruh dunia, di bulan Januari dan Februari biasanya Bali setidaknya mendapatkan sekitar 2 juta  turis dari Tiongkok yang merayakan liburan Chinese New Year.Sekarang kan tidak ada turisnya. Nah_ itu hilang,” kata Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi Sukamdani kepada Investor Daily di Jakarta, Senin (4/1).

Hariyadi Sukamdani. Foto: IST
Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI)   Foto: IST

Dia melanjutkan, kondisi tersebut juga akan berdampak pada penurunan okupansi hotel di dalam negeri. PHRI memperkirakan, okupansi hotel di bulan Januari sampai April 2021 akan menurun makin dalam_seiring tibanya masa_low season. Hariyadi mengungkapkan, okupansi hotel selama libur natal dan tahun baru kemarin juga mengalami penurunan akibat kebijakan pemerintah yang mewajibkan tes swab antigen bagi masyarakat yang hendak berkunjung ke daerah tertentu.

“Misalnya di Bandung._Mulanya okupansi hotel di Bandung akan mencapai 40%, tetapi setelah pemerintah mewajibkan tes, okupansi yang paling tinggi hanya 30%,” terang dia.

Namun demikian, Hariyadi memahami bahwa kebijakan tersebut dilakukan untuk menahan lebih lanjut penyebaran pandemi, yang pada akahirnya akan merugikan dunia usaha.

Menurut dia, ke depan pengusaha hotel juga hanya akan_ memperbolehkan pelanggan yang terbukti sehat untuk tinggal.

“Kita di 2021 ini juga benar-benar harus bisa memilah mana orang yang sakit dan yang sehat. Yang sehat masih bisa beraktivitas, travelling, sedangkan yang sakit memang harus diisolasi,” imbuh Hariyadi.

Dia pun berharap, pemerintah menurunkan biaya tes rapid, swab Covid-19, dan_ juga vaksinasi Covid-19. Dengan demikian, diharapkan masyarakat yang melaksanakan tes dapat meningkat.

“Jadi, memang harus ada kesadaran semua pihak. Dan yang paling penting adalah bisa menurunkan biaya testing-nya, supaya tidak memberatkan masyarakat_ dan_ dunia usaha,” kata Hariyadi.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN