Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi industri keramik (sumber:mappijatim.or.id)

Ilustrasi industri keramik (sumber:mappijatim.or.id)

Asaki: Kebijakan PPKM Sudah Tepat

Sabtu, 9 Januari 2021 | 14:00 WIB
Triyan Pangastuti (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id -  Ketua Umum Asosiasi Aneka Keramik Indonesia (Asaki), Edy Suyanto menilai kebijakan PPKM atau PSBB Jawa-Bali sudah tepat di tengah semakin meningkatnya jumlah positif Covid19.

"Asaki juga menghargai kebijakan tersebut, di mana kegiatan konstruksi dan kegiatan usaha seperi toko bahan bangunan atau toko keramik tetap bisa beroperasi normal namun dengan prokes yang ketat," papar dia.

Asaki meminta dukungan pemerintah untuk penguatan industri keramik dalam negeri. Penguatan diperlukan dalam menghadapi gempuran produk keramik jenis homogeneus tiles (HT) dari Tiongkok, India, dan Vietnam.

Dia menerangkan, total kapasitas produksi keramik jenis HT Asaki mencapai 160 juta m2 per tahun dan saat ini hanya mampu berproduksi di tingkat utilisasi 46%.

"Produk HT lokal terganjal oleh beberapa unfair trade, terutama produk dari Tiongkok dan India yang terindikasi melakukan praktik dumping, transshipment ,dan pemberian export tax refund sebesar 14% dari pemerintah Tiongkok," papar dia.

Belum bisa bangkit

Sekjen Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran.
Sekjen Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran.

Sementara itu, Sekjen Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Maulana Yusran mengemukakan, PPKM di sejumah daerah di Jawa dan Bali pada 11-25 Januari 2021 akan kembali memukul industri perhotelan dan restoran. Padahal, industri tersebut belum bisa bangkit dari keterpurukan akibat dihantam pandemic Covid-19 sejak 10 bulan terakhir.

“Dampak PSBB diperketat ini akan lebih buruk dibanding saat pertama kali PSBB diberlakukan. Kita sudah melalui ini selama 10 bulan lebih, dan sekarang hanya bisa bertahan. Jadi, kalau PSBB kembali lagi diperketat, dampaknya tentu pasti akan sangat buruk,” ujar dia.

Maulana mengungkapkan, okupansi hotel di Jawa saat ini sekitar 35-40%, sedangkan di Bali berkisar 20%.

“Di Jawa cukup tinggi karena saat pandemic Covid-19, traveller cenderung memilih jalur darat dan berwisata di Pulau Jawa. Sebaliknya di Bali relative rendah karena suplai hotel tinggi yang biasanya diisi oleh wisatawan asing,” jelas dia. (epa/sny/leo/az)

Baca juga

https://investor.id/macroeconomics/anggaran-direalokasi-untuk-dorong-ekonomi

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN