Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pameran Mesin Produksi Plastik

Pameran Mesin Produksi Plastik

Harga Bahan Baku Plastik Melonjak 14%

Selasa, 9 Maret 2021 | 11:16 WIB
Leonard AL Cahyoputra (leonard.cahyoputra@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Harga bahan baku plastik diprediksi naik 6-14% menjadi US$ 1.600 per ton, dibandingkan saat ini US$ 1.400-1.500 per ton.

Hal ini dipicu lonjakan harga minyak mentah, akibat serangan rudal ke fasilitas minyak Arab Saudi.

Sekjen Asosiasi Industri Aromatik, Olefin & Plastik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiono menuturkan, kenaikan harga bahan baku plastik biasanya terjadi pada April.

Pada bulan tersebut, kebanyakan industri petrokimia melakukan perawatan rutin. Bahkan, ada yang berhenti produksi selama 2-6 minggu.

Ini membuat pasokan bahan baku plastik seperti produk polimer, polietilena (PE), dan polipropilena (PP), langka, sehingga harga terkerek.

“Namun, tahun ini, harga minyak dunia naik terus, sehingga akan mempercepat kenaikan harga bahan baku plastik yang biasanya terjadi pada April,” ujar dia kepada Investor Daily, Jakarta, Senin (8/3).

Fajar menjelaskan, di Tiongkok rata-rata harga bahan baku plastiknya naik di level US$ 40-US$ 60 per ton, sedangkan di Vietnam US$ 80 per ton.

Harga bahan baku plastik di Indonesia sempat turun US$ 20 per ton. Namun, kenaikan harga di dua negara pemain plastik itu bakal mengerek harga di Indonesia.

Fajar mengatakan kondisi itu otomatis akan membuat produsen plastik menaikkan harga jualnya. Apalagi, menjelang Puasa dan Lebaran, yang biasanya terjadi lonjakan permintaan.

Saat ini saja, harga sejumlah barang jadi dari plastik seperti kemasan, karung, peralatan rumah tangga, tekstil, masker, dan lain sebagainya sudah naik 10-15% sepanjang tahun ini.

Hal itu, kata dia, dipicu beberapa faktor, seperti kelangkaan kontainer akibat pandemi Covid-19. Akibatnya, impor bahan baku plastik susah. Padahal, sebanyak 55% bahan baku plastik dipasok dari impor.

“Saya rasa harga minyak belum mengarah sampai US$ 100 per barel. Sebab, pemerintah Arab Saudi sudah mengumumkan serangan itu tidak terdampak pada fasilitas minyak. Kelihatannya ini sentimen jangka pendek. Tetapi, harus diantisipasi juga, karena sudah masuk Maret,” ucap dia.

Sebelumnya, Inaplas memperkirakan industri plastik akan tumbuh 1% pada tahun ini, lebih tinggi pada 2020 yang turun 2,5%.

Pertumbuhan tahun ini bisa saja lebih tinggi, asal tiga hambatan yang menghambat industri ini dapat segera diatasi oleh pemerintah. Ketiga hambatan itu adalah sektor pariwisata dan pesta yang belum pulih, paten pada plastik bubble wrap, dan serangan impor plastik film BOPP.

Editor : Eva Fitriani (eva_fitriani@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN