Menu
Sign in
@ Contact
Search
Ekonom Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM)-Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI) Teuku Riefky

Ekonom Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM)-Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI) Teuku Riefky

LPEM FEB UI Perkirakan Suku Bunga BI Tetap di Kisaran 3,5%

Rabu, 17 Maret 2021 | 17:23 WIB
Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id  - Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) - Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI) memperkirakan suku bunga di angka 3,5% sebagai langkah pencegahan untuk menstabilkan nilai tukar Rupiah. Depresiasi didorong oleh arus modal keluar besar-besaran karena menipisnya perbedaan imbal hasil antara aset Amerika Serikat dengan negara berkembang.

Ekonom LPEM-FEB UI Teuku Riefky mengatakan dalam kondisi yang tidak menentu bahwa BI harus lebih berhati-hati terhadap peningkatan risiko eksternal. Meskipun inflasi rendah masih terus berlanjut yang menandakan permintaan agregat masih lemah, BI harus memprioritaskan stabilitas Rupiah di bulan ini.

“Kebijakan moneter ekspansif apapun akan terlalu merugikan BI saat ini karena kinerja kondisi ekonomi juga masih jauh dari pulih,” ucap Teuku Riefky dalam  Seri Analisis Makroekonomi yang diterima pada Rabu (17/3).

Teuku menuturkan kinerja indikator ekonomi makro Indonesia saat ini menunjukkan perbaikan, tercermin dari peningkatan Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK), neraca perdagangan, dan tren penurunan kasus harian Covid-19. Peningkatan ini didorong oleh ekspektasi yang lebih baik setelah vaksinasi Covid-19 dimulai. Namun, dampak dari sentimen positif dari dalam negeri menghilang sejak akhir Februari akibat tekanan yang cukup tinggi dari kondisi eksternal.

“Tingkat inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan di AS yang mencerminkan prospek pemulihan ekonomi yang optimistis telah memukul pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Rupiah terdepresiasi sebesar 3,70% (year to date) pada pertengahan Maret,” ucap Teuku.

Setelah melalui periode apresiasi sejak November tahun 2020, Rupiah mulai terdepresiasi kembali menjadi Rp 14.400 pada minggu keempat Februari dari sekitar Rp 14.000 pada minggu sebelumnya. Kondisi pelemahan Rupiah terutama didorong oleh kondisi pasar AS yang tidak terduga.

“Pasar cukup terkejut pada akhir Februari karena tingkat inflasi yang lebih baik dari perkiraan di AS mencerminkan prospek pemulihan yang optimistis setelah pandemi Covid-19,” ucapnya.

Sementara itu masih lemahnya permintaan agregat seiring dengan berakhirnya periode libur, inflasi Februari 2021 masih di bawah kisaran target BI yaitu sebesar 1,38% (y.o.y), turun dari 1,55% (yoy) pada Januari 2021. Ini merupakan inflasi umum tahunan terendah dalam tujuh bulan atau sejak Agustus 2020. Penurunan inflasi umum disebabkan oleh kombinasi dari inflasi inti yang terkendali dan deflasi barang bergejolak yang mengimbangi inflasi harga yang diatur pemerintah. Inflasi inti tercatat 0,11% (mtm) pada Februari 2021, lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 0,14% (mtm).

“Kami tidak melihat adanya kenaikan tajam pada inflasi dalam waktu dekat karena daya beli yang menurun. Secara bulanan, inflasi umum turun dari 0,26% (mtm) pada bulan pertama 2021 menjadi 0,1% (mtm) pada Februari 2021,” ucap Teuku.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com