Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
smelter freeport

smelter freeport

Smelter Freeport Dapat Dibangun di Papua

Rabu, 31 Maret 2021 | 14:34 WIB
Rangga Prakoso (rangga.prakoso@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - BUMN Holding Industri Pertambangan MIND ID (Mining Industry Indonesia) mengungkapkan fasilitas pemurnian mineral (smelter) tembaga dapat dibangun di Papua. Sejumlah investor telah menyampaikan ketertarikan menggarap proyek tersebut.

Direktur Utama MIND ID Orias Petrus Moedak mengatakan, pembangunan smelter bisa digarap di Papua apabila produksi Freeport lebih dari 3 juta ton konsentrat tembaga. "Keputusan smelter sesuai kapasitas produksi, kalau bisa lebih dari 3 juta ton, ada smelter baru bisa dibuka," kata Orias dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR RI, di Jakarta, Rabu (31/3).

Advertisement

Menurut catatan Investor Daily, kebutuhan smelter di dalam negeri saat ini sebesar satu juta ton konsentrat di PT Smelting, Gresik. Namun, dalam dua tahun lagi produksi Freeport bisa mencapai tiga juta ton konsentrat. Oleh sebab itu smelter yang dibangun Freeport di kawasan industri Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE) Gresik berkapasitas 2 juta ton konsentrat. Artianya seluruh produksi Freeport dalam dua tahun kedepan sudah terserap di smelter di dalam negeri.

Orias mengungkapkan sejumlah investor tertarik menggarap proyek smelter di Papua. Hal ini berdasarkan pembicaraan dengan Kepala Badan Koordinator Bidang Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia. Namun, dia menegaskan pembicaraan itu masih dalam tahap awal."Ini bukan sesuatu yang kita tutup dan butuh waktu sambil menunggu investor. Opsi itu terbuka," ungkapnya.

Rencana pembangunan smelter di Papua menurut catatan Investor Daily sudah bergulir sejak 2015 silam. Kala itu Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said bahkan membentuk Tim Pengelolaan Kapasitas Smelter. Namun seiring berjalannya waktu isu pembangunan smelter pun timbul tenggelam.

Saat ini Freeport tengah fokus membangun smelter di Gresik, Jawa Timur. Hal ini merupakan hasil kesepakatan dalam penerbitan Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) pada 2018 silam. Namun progres pembangunan smelter tersebut terkena dampak pandemi Covid-19. Hal ini memaksa Freeport melakukan penyesuaian rencana kerja sehingga target penyelesaian smelter tertunda 12 bulan alias menjadi di 2024. Hanya perubahan rencana tersebut belum direstui pemerintah. Pasalnya, pemerintah tetap menginginkan penyelesaian smelter rampung di 2023 sebagaimana amanat Undang-Undang Pertambangan Mineral dan Batu Bara serta kesepakatan IUPK.

Freeport kemudian merevisi rencana pembangunan smelternya. Kapasitas smelting ditingkatkan menjadi 1,3 juta ton. Sementara kapasitas smelter di JIIPE dikurangi menjadi 1,7 juta ton. Total kapasitas smelter tetap menyerap 3 juta ton konsentrat.

Kini Freeport dapat penawaran kerja sama dengan Tsingshan Steel dalam membangun smelter. Bila tercapai kesepakatan maka Tsingshan menjadi mayoritas menanggung investasi pembangunan smelter. Direncanakan smelter dengan kapasitas mencapai 2,7 juta ton itu bakal dibangun di Halmahera, Maluku Utara.

Orias menegaskan belum ada kesepakatan yang tercapai dengan Tsingshan. "Namun, keputusan apakah di Gresik atau Halmahera belum diambil, tapi yang pasti di Gresik tetap jalan dan sudah dikeluarkan sekitar US$ 300 juta," jelasnya.

Editor : Kunradus Aliandu (kunradu@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN