Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
kebakaran kilang balongan

kebakaran kilang balongan

Pakar: Terlalu Dini Sebut Tak Ada Petir saat Kebakaran Tangki Balongan

Jumat, 2 April 2021 | 17:11 WIB
Harso Kurniawan (harso@investor.co.id)

JAKARTA, Investor.id - Lightning detector milik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dinilai kurang akurat untuk melakukan evaluasi ada tidaknya petir ketika terjadi kebakaran di kilang Balongan, Indramayu, Jawa Barat, milik PT Pertamina.

Demikian disampaikan Kepala Pusat Penelitian Petir, Lightning Research Center (LRC) Sekolah Teknik Elektro & Informatika (STEI)-Institut Teknologi Bandung (ITB) Reynaldo Zoro. “Peralatan yang dipakai BMKG bukan untuk evaluasi detail, tetapi lebih banyak ke arah cuaca. Jadi, masih terlalu pagi kalau BMKG menyatakan petir tidak terjadi di daerah sekitar Balongan pada saat kebakaran tangki Pertamina,” kata Zoro, Jumat (2/4/2021).

Menurut Zoro, terdapat dua hal penting untuk melakukan evaluasi mengenai lightning detection system. Pertama, local accuration. Kedua, detection efficiency.

Zoro menilai, peralatan BMKG tidak bisa untuk kedua hal tersebut. “Makanya kalau mau evaluasi, kita harus menggunakan data yang baik dan alat yang canggih. Kalau peralatan BMKG itu agak berbeda,” lanjut Zoro.

Zoro kemudian membandingkan data berbeda dibandingkan BMKG, termasuk data satelit Himawari yang dikenal sangat akurat. Berbagai data menyebutkan, di sekitar Balongan sekitar pukul 00.00-03.00 WIB, terjadi pergerakan badai petir. “Bahkan, menurut pengamatan Himawari, dari sore sampai pukul 05.00 pagi. Konsentrasi petir tertinggi justru berada pada waktu yang diklaim BMKG,” lanjut dia.

Adapun hasil pemantauan lighting detector BMKG, kerapatan petir terjadi sekitar pukul 00.00-02.00 WIB justru berkumpul pada bagian barat kilang minyak Balongan atau sejauh kurang lebih 77 kilometer. “Makanya tanya masyarakat lokal, apakah pada saat kebakaran mereka mendengar petir atau tidak? Jika berjarak 77 kilometer tentu tidak terdengar,” kata Zoro.

Ihwal kurangnya akurasi lightning detector milik BMKG, juga pernah terjadi beberapa kali. Pada 21 Juli 2020, misalnya, ketika terjadi sambaran petir di tower 18 PT Inalum, dekat Danau Toba. “Ketika kami minta data petir ke BMKG, ternyata data mereka menyebut bahwa cluster petir berjarak 80 kilometer dari tower 18 PT Inalum. Melencengnya jauh banget,” tegas dia.

Di sisi lain Zoro menyebut, petir memungkinkan menjadi penyebab terbakarnya tangki kilang. Terlebih, petir tropis yang memang memiliki kekuatan lebih besar dibandingkan petir subtropis. Petir tropis memiliki sambaran tinggi, amplitudo besar, gelombang sangat curam, impulse force-nya bisa mengancurkan, dan muatan arus petir jauh lebih besar.

“Sebenarnya tangki-tangki Pertamina memenuhi standar pengamanan. Hanya saja, karena petir tropis memang sangat kuat, bisa membuat tangki berlubang,” lanjut dia.

Ketika tangki berlubang, lanjut Zoro, memungkinkan terbakar. Karena tiga komponenan penyebab kebakaran adalah spark yang berasal dari petir, bahan bakar, dan oksigen. Tadinya, oksigen tidak ada. Tetapi ketika tangki bolong, ada ruang untuk oksigen.

Zoro menyebutkan, secara historis banyak kebakaran tangki kilang yang disebabkan sambaran petir. “Saking banyaknya, sampai pernah dibukukan. Dalam buku tersebut dijelaskan mengenai tanki kilang yang pernah terbakar akibat petir, termasuk di kilang Malaysia,” tutup dia.

 

Editor : Harso Kurniawan (harso@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN