Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Rektor Universitas Indonesia Ari Kuncoro.

Rektor Universitas Indonesia Ari Kuncoro.

Roadmap Memadai akan Optimalkan Kinerja dari LPI

Selasa, 13 April 2021 | 23:02 WIB
Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Kehadiran Lembaga Pembiayaan Investasi (LPI) dinilai akan meningkatkan jumlah aliran modal asing yang masuk ke pasar modal di tanah air. Salah satu sektor yang bisa mendapatkan manfaat dari keberadaan dari LPI adalah infrastruktur. Dalam hal ini dibutuhkan peta jalan (roadmap) yang bisa mengakomodasi kepentingan seluruh pihak.

Ekonom  Senior Universitas Indonesia (UI) Ari Kuncoro mengatakan untuk mengoptimalkan dana yang masuk maka diperlukan kejelian dari manajer investasi untuk bisa mencari proyek infrastruktur yang sudah ada dan juga yang akan dibangun. Sebab investor pasti akan mencari proyek dengan nilai return yang menguntungkan

“Karena  investor biasanya  mempunyai grace period namun setelah itu dia akan meminta return,” ucap Ari dalam acara Hot Economy yang ditayangkan Berita Satu TV pada Selasa (13/4).

Dari sisi roadmap LPI,  Ari mengatakan pembangunan infrastruktur bisa dilakukan di kawasan perkotaan, kawasan industri, kawasan pertambangan dan kawasan pariwisata. Daerah daerah ini dinilai memiliki nilai ekonomi tinggi dan dapat menghasilkan keuntungan memadai bila memiliki pembangunan infrastruktur.

Roadmap-nya ada disitu, jadi  nanti investor akan melihat oh ini menjadi tempat yang tepat untuk melakukan investasi,” ucap Ari.

Dari sisi demografi saat ini ada penduduk yang tinggal di kota besar dan kota penyangga atau kota satelit. Dalam hal ini transportasi  bukan hanya berfungsi untuk bergerak ke tempat kerja tetapi juga ada unsur pariwisata. Ari mengatakan ada konsep transport oriented development (TOD) jadi bisa saja stasiun menjadi apartemen misalnya untuk kelas menengah atau milenial.

“Karena ini adalah potensi  permintaan, dengan adanya  roadmap seperti itu investor jadi tahu bahwa Indonesia mengerti  bagaimana memanfaatkan populasinya yang kira-kira 147 juta orang itu adalah kelas menengah,” ucapnya.

Ari mengatakan  banyak proyek infrastruktur dibiayai oleh kredit bank yang  merupakan  dana jangka pendek. Menurut Ari, perlu dilihat lagi apakah proyek yang dibiayai dengan dana jangka pendek bisa diambil alih dan menggunakan dana jangka panjang. Oleh karena itu perlu ada ekspansi dalam pembangunan, tidak hanya pembangunan infrastruktur untuk fasilitas umum tetapi juga bisa melakukan pembangunan kawasan industri.

“Jadi ini soal kejelian, juga memerlukan lobi ke investor  fisik bukan investor finansial untuk masuk ke Indonesia supaya ada proyek fisiknya. Sehingga pembiayaannya bisa diberikan dari LPI,” ucap Ari.

Ia menuturkan penggunaan dana dari LPI sebaiknya digunakan untuk pembangunan infrastruktur yang  bisa menghasilkan return dengan nilai tinggi, misalnya jalan tol di Jawa. Sehingga bisa memberikan keyakinan kepada investor untuk menanamkan modal di Indonesia. Sementara itu pemerintah tetap melakukan pembangunan infrastruktur dengan nilai return yang rendah. Sebab pembangunan infrastruktur harus dilakukan secara merata.

“Saya rasa untuk daerah-daerah yang return nya kurang tinggi bagaimanapun juga dana APBN tetap diperlukan. Jadi kombinasi keduanya tetap akan diperlukan” ucap Ari.

Ketua Tim Ahli Apindo Sutrisno Iwantono. Foto: youtube
Sutrisno Iwantono. Foto: youtube

Sementara itu, Ketua Umum Jaringan Usahawan Independen Indonesia (Jusindo) Sutrisno Iwantono mengatakan investasi yang masuk melalui LPI diharapkan bisa mendinamisir kegiatan ekonomi dan memberikan efek pengganda (multiplier effect). Sehingga keberadaan LPI  bisa menciptakan peluang bagi pelaku usaha.

“Misalnya kalau dia membangun pelabuhan yang lokasinya benar, jangan pelabuhan dan jalan yang daerahnya kurang diminati oleh investor. Pilihan lokasinya harus tepat supaya keberadaan bisa menyelesaikan persoalan ekonomi kita,” ucap Sutrisno.

Berikutnya adalah  kesiapan dari pelaksana pembangunan proyek. Sebab dalam hal ini LPI bertugas sebagai pengelola dana investasi, tentu harus ada pihak lain yang bertugas sebagai pelaksana. Apakah hanya BUMN yang  bergerak di bidang pembangunan  atau bisa bisa mengundang keterlibatan swasta untuk ikut serta dengan dengan baik.

“Kami sangat mengharapkan agar ikut berpartisipasi di situ, jangan hanya BUMN yang terlibat. Tetapi untuk bisa berpartisipasi harus diberikan kelayakan, transparansi, manajemen, roadmap, dan dasar hukum,” ucap Sutrisno.

Sutrisno mengatakan permasalahan pokok yang dihadapi oleh pengusaha di Indonesia adalah keterbatasan infrastruktur. Pemerintah bertugas membangun infrastruktur tetapi memiliki keterbatasan untuk membangun infrastruktur disinilah LPI ini bisa diharapkan menjadi sumber pendanaan bagi  proyek infrastruktur.  Saat infrastruktur berfungsi dengan baik maka perekonomian juga bisa tumbuh optimal. Pertumbuhan ekonomi sejalan dengan penciptaan lapangan kerja, apalagi pemerintah  harus menyediakan  lapangan kerja 138,2 juta angkatan kerja.

“Infrastruktur menjadi kata kunci untuk dibangun. LPI ini memang yang saya tahu arahnya akan kesana pada infrastruktur ya khususnya ke bandara, jalan tol, dan pelabuhan,” ucap Sutrisno.

Ia mengatakan ada sejumlah pertimbangan investor untuk investasi. Pertama yaitu return sebab investor tentu mencari keuntungan dari uang yang diinvestasikan.

Kedua yaitu kita ingin tahu juga model bisnis dan prospek bisnis.

“Kalau tidak punya prospek investor juga tidak akan masuk,” imbuhnya.

Ketiga yaitu  manajemen atau orang orang yang mengelola dana dari investor tersebut. Dalam hal ini investor mempertimbangkan sisi profesionalitas, transparansi, hingga akuntabilitas.

“Ini yang menjadi pertimbangan  baik itu investor asing atau lokal,” ucapnya.

Anggota Komisi XI DPR dari Fraksi PDI Perjuangan Eriko Sotarduga mengatakan untuk menaruh uang di suatu negara tentu investor memerlukan informasi mengenai roadmap LPI. Diperlukan regulasi yang memadai baik dari sisi hukum, kejelasan hingga kepastian terhadap investor.

“Karena investor tidak punya batasan negara,tetapi dia melihat sejauh apa prospek ke depannya. Tentu investasi ada yang jangka pendek, menengah, dan panjang,” ucap Eriko.

Ia mengatakan  kalau dilihat lebih dalam  prospek di Indonesia memang umumnya untuk jangka panjang. Dengan jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar bisa menjadi potensi untuk pertumbuhan ekonomi. Bonus demografi menjadi peluang yang sangat besar, namun pemerintah harus bisa mengelola potensi ini dengan baik. Kalau tidak dikelola dengan tepat dan terjadi suatu hal yang meragukan investor, maka akan berakibat fatal.

“Menurut kami harus dipersiapkan secara matang, bukan mau terburu buru. Karena ini kita berbicara jangka panjang, untuk menyambut Indonesia emas 2045 bukan hanya untuk lima tahun ke depan saja,” ucap Eriko.

Bila dilihat dari segi return tentu berbeda-beda ada yang jangka pendek, menengah, dan panjang. Eriko berpendapat investor  investor tidak hanya melihat return saja tetapi nilai tambah dari aset.  Begitu juga dengan investasi, ia mencontohkan pembangunan jalan tol ini hampir jarang menggunakan barang impor.

“Ini bisa di-mix misalnya dengan yang return nya baik seperti di Jawa. Kalau anda membeli di Jawa anda harus juga membeli yang di Sumatera,” ucap Eriko.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN