Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gubernur BI Perry Warjiyo (kiri atas) saat mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang digelar pada 19-20 April 2021 di Jakarta, Selasa (20/4/2021). Sumber: BSTV

Gubernur BI Perry Warjiyo (kiri atas) saat mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang digelar pada 19-20 April 2021 di Jakarta, Selasa (20/4/2021). Sumber: BSTV

BI Revisi ke Atas Pertumbuhan Ekonomi Global Jadi 5,7%

Selasa, 20 April 2021 | 18:15 WIB
Triyan Pangastuti

JAKARTA, investor.id - Bank Indonesia (BI) merevisi keatas pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2021 menjadi 5,7% atau lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya yaitu sebesar 5,1%.

Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan perkiraan pertumbuhan ekonomi global pada tahun ini yang tumbuh tinggi 5,7% didorong oleh perbaikan ekonomi Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok yang berlangsung lebih cepat dibandingkan negara lainnya.

“Perekonomian global diperkirakan tumbuh lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya dengan proses pemulihan global yang semakin tidak merata antarnegara,” katanya dalam Rapat Dewan Gubernur, Selasa (20/4).

Menurutnya akselerasi pemulihan ekonomi di AS akan terjadi lebih cepat dari perkiraan disebabkan proses vaksinasi  yang berjalan lancar dan tambahan stimulus fiskal yang lebih besar. Sementara itu Tiongkok pemulihan ekonominya ditopang oleh perbaikan permintaan domestik dan global.

Tak hanya itu, pemulihan ekonomi global yang lebih tinggi  juga terkonfirmasi oleh perkembangan sejumlah indikator dini pada Maret 2021 seperti Purchasing Managers' Index  (PMI), keyakinan konsumen, dan penjualan ritel di beberapa negara yang terus meningkat.

“Volume perdagangan dan harga komoditas dunia juga terus meningkat sehingga mendukung perbaikan kinerja ekspor negara berkembang yang lebih tinggi termasuk Indonesia”ungkapnya.

Di samping itu, pemulihan ekonomi global yang lebih cepat  khususnya AS menyebabkan  ketidakpastian pasar keuangan dan volatilitas yield UST masih berlangsung seiring lebih baiknya perbaikan ekonomi di Amerika Serikat dan persepsi pasar terhadap arah kebijakan The Fed.

 “Masih tingginya ketidakpastian di pasar keuangan global itu kami hadapi. Faktornya sebagaimana sudah kami sampaikan belanja dari pemerintah AS yang lebih besar, kan belanja fiskal dari AS tempo hari ditambah US$ 1,9 triliun”tuturnya.

Hal ini pun  berpengaruh terhadap aliran modal masuk ke sebagian besar negara berkembang yang lebih rendah, dan berdampak pada tekanan mata uang di berbagai negara tersebut termasuk Indonesia.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN