Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Belanja Online. Foto ilustrasi: IST

Belanja Online. Foto ilustrasi: IST

Tiga Grup Platform Digital RI Miliki Valuasi US$ 240 Miliar

Rabu, 28 April 2021 | 13:34 WIB
Leonard AL Cahyoputra (leonard.cahyoputra@beritasatumedia.com) ,Sanya Dinda (sanya.susanti@beritasatumedia.com) ,Hari Gunarto (hari_gunarto@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Tiga grup raksasa ekonomi digital Indonesia memiliki valuasi sebesar US$ 240 miliar atau ekuivalen seperempat Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Fakta ini merupakan salah satu indikator bahwa Indonesia merupakan pasar ekonomi digital paling penting dan berpengaruh di Asean.

Hal itu diungkapkan Co-Founder  & Executive Chairman Triputra Agro Persada Group, Arif P Rachmat dalam silaturahmi dengan pemimpin redaksi media massa secara virtual, Selasa (27/4/2021).

Perkembangan ekonomi digital negara ASEAN
Perkembangan ekonomi digital negara ASEAN

Arif Rachmat menyatakan, nilai atau omzet ekonomi digital di Indonesia saat ini masih sekitar US$ 40 miliar. Dalam lima tahun ke depan, nilainya akan melonjak jadi US$ 130 miliar, sehingga menjadikan Indonesia sebagai pasar ekonomi digital terbesar di Asean.

Co-Founder  & Executive Chairman Triputra Agro Persada Group, Arif P Rachmat. Foto: IST
Co-Founder & Executive Chairman Triputra Agro Persada Group, Arif P Rachmat. Foto: IST

Arif lantas memaparkan tiga ekosistem atau grup pelaku ekonomi digital yang disebutnya memiliki valuasi sekitar US$ 240 miliar tersebut. Pertama, platform e-commerce terbesar Shopee yang memiliki kapitalisasi pasar sebesar US$ 140 miliar dan sudah listed di bursa Amerika Serikat. Shopee bahkan menjadi perusahaan e-commerce terbesar di Asean.

“Shopee di Indonesia menguasai 40% volume pasar. Itu membuktikan betapa pentingnya Indonesia,” kata dia.

Kedua, platform digital Grab juga berniat listing di AS dengan valuasi US$ 40 miliar. Grab yang berada dalam satu grup platform pembayaran OVO akan berpartisipasi dalam rights issue PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (Emtek) yang memiliki dompet digital Dana. Emtek sendiri memiliki valuasi US$ 10 miliar.

“Jadi, kalau Emtek dengan valuasi US$ 10 miliar digabung Grab US$ 40 miliar, bernilai total US$ 50 miliar,” kata Arif.

Profil perusahaan Unicorn dan Decacorn di Indonesia
Profil perusahaan Unicorn dan Decacorn di Indonesia

Ketiga, sinergi Grup Triputra, Tokopedia, Gojek, dan Bank Jago. Triputra menekuni bisnis e-commerce berawal dari pendirian PT Anteraja.

Menurut dia, ekonomi digital tidak terlepas dari tiga hal, yakni platform e-commerce, e-payment dan logistik. Grup Triputra bermitra  dengan Bank Jago yang sudah mendeklarasikan sebagai bank digital. Triputra sebagai pemegang saham, meskipun kecil. Triputra juga menggandeng platform e-commerce Tokopedia. Seiring dengan itu, Gojek bermerger dengan Tokopedia menjadi GoTo.

Arif Rachmat menyatakan, GoTo dengan valuasi US$ 18 miliar diyakini akan tumbuh ke level US$ 40 miliar. Jika GoTo bersinergi Bank Jago dengan valuasi US$ 10 miliar, nilainya keduanya bakal menembus US$ 50 miliar.

Nominal transaksi e-commerce
Nominal transaksi e-commerce

Artinya, kata Arif, tiga grup entitas tersebut memiliki valuasi sekitar US$ 240 miliar. “Jadi bayangkan ketiga ekosistem itu kalau dijumlah bernilai US$ 240 miliar atau hampir seperempat PDB Indonesia,” tegas Arif.

Arif memandang bahwa Indonesia menjadi kunci dalam pasar ekonomi digital Asean dan Asean Plus-plus.

“Di luar AS dan Tiongkok, Asean Plus-plus adalah the next most exicting largest growing destination for industry, terutama ekonomi digital,” kata Arif.

Arif juga berpendapat bahwa Indonesia harus mampu memonetisasi ekonomi digital seperti AS dan Tiongkok. Kuncinya, daya beli harus kuat. Untuk itu, PDB per kapita harus ditingkatkan. Jika saat ini baru sekitar US$ 4.000, minimal harus dinaikkan menjadi dua kali lipat.

“PDB per kapital Tiongkok sudah US$ 12.000 dan AS sebesar US$ 63ribu. Tapi kita tidak perlu bandingkan dengan AS, cukup benchmark- nya Tiongkok. Kalau PDB per kapita kita bisa dobel, profit e-commerce akan sangat besar,” tutur Arif.

Untuk mengakselerasi PDB per kapita, kata Arif, salah satunya adalah harus banyak mencetak enterprenur, termasuk dalam bisnis ekonomi digital.

Perkembangan penggunaan smartphone
Perkembangan penggunaan smartphone

“Apa yang dilakukan Aldi Haryopratomo dengan membangun Mapan kemudian masuk ke GoPay dan Gibran Huzaifah di eFishery itu luar biasa. Mereka benar-benar leading the way,” kata Arif.

Selain itu, dalam pandangan Arif, e-commerce jangan hanya bersifat konsumtif. “E-commerce ini harus mampu meningkatkan produktivitas terutama dari sisi supply chainnya. Harus membantu UMKM, petani, nelayan, dan sebagainya,” kata Arif.

Optimistis

Di lain sisi, Arif Rachmat menyatakan bahwa dia dan para koleganya yang memimpin grup usaha besar di Indonesia sama-sama optimistis tentang prospek perekonomian nasional ke depan. Dia baru saja berbicara dengan petinggi di Grup BCA dan Grup Wing tentang ekonomi Indonesia, mereka menilai tanda kebangkitan semakin jelas.

“Penjualan Wings Group naik banyak. Ada keluarga kami dealer Honda, 90% penjualannya sudah mencapai pra-Covid,” kata dia. Arif Rachmat lantas membandingkan dengan negara demokrasi berpenduduk lain, yakni Amerika Serikat, Brasil, dan India.

“Kita itu jauh sangat baik dari segi infeksi Covid, segi ekonominya, semua very well. Jadi apa yang pemerintah sudah lakukan itu menurut saya sudah sangat baik,” kata dia.

Bisnis Triputra sendiri tahun ini sudah mulai membaik. Beberapa lini bisnis telah melewati perolehan tahun 2019. Seperti misalnya AnterAja. Salah satu anak usaha, Triputra Agro Persada tahun ini IPO.

Aldi Haryopratomo, komisaris eFishery. Foto: IST
Aldi Haryopratomo, komisaris eFishery. Foto: IST

Sedangkan Aldi Haryopratomo, komisaris eFishery yang juga mantan CEO GoPay menyatakan pengalaman mendirikan startup Mapan pada 2009. Mapan kemudian dibeli Gojek menjadi GoPay pada 2017.

Dia menceritakan, saat mendirikan Mapan, secara ekosistem baik funding maupun mentorship masih sangat kurang. Beda dengan di AS tempat dia menimba ilmu, mentorship begitu berlimpah, terutama di Silicon Valley.

“Di Indonesia belum ada, karena tech-entrepreneur bukan sesuatu yang bergengsi,” kata dia.

Perkembangan uang elektronik
Perkembangan uang elektronik

Menurut Aldi, yang terpenting untuk membangun startup adalah pendanaan, mentorship, dan talenta. Ketika 2009 itu, merekrut karyawan sangat sulit karena semua orang maunya bekerja di perusahaan besar seperti Unilever atau P&G. Startup bukan sesuatu hal yang seksi.

Pada awal mengembangkan Mapan, dia mendapat bimbingan mentor seperti Teddy Rachmat (Pendiri Triputra Group) dan dan Husodo pemilik Gunung Sewu Group. Dari situ kemudian Mapan menjadi besar hingga memiliki anggota tiga juta keluarga di Indonesia.

Aldi kemudian bertemu teman kuliah pendiri Gojek, yakni Nadiem Makarim (kini Mendikbud). Nadiem minta bantuan Aldi untuk membangun GoPay sebagai dompet digital Gojek yang ketika itu masih kecil. Akhirnya mereka bersepakat merger dan Mapan menjadi GoPay.

Efishery

Sementara itu, CEO eFishery Gibran Huzaifah menyatakan, eFishery yang merupakan start-up aquaculture intelligent turut memberikan solusi pada setiap permasalahan akuakultur di Tanah Air.

CEO eFishery Gibran Huzaifah. Foto: IST
CEO eFishery Gibran Huzaifah. Foto: IST

Berdiri sejak 2013, model bisnis eFishery begitu meyakinkan dan membuat beberapa investor kepincut untuk menanamkan modalnya. Para investor tersebut antara lain Aqua-Spark, Ideosource, Wavemaker Partners, hingga Northstar Group dan Go-Ventures.

Saat ini, eFishery menjadi perusahaan akuakultur teknologi terbesar di Indonesia dari sisi model bisnis. Ke depan, eFishery berniat melangsungkan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham. Padahal, kata Gibran, pada awal ide ini ditawarkan tidak ada investor yang tertarik.

Perkembangan pengguna internet
Perkembangan pengguna internet

“Malah ada yang bilang, udah lu nyerah aja, gak bakal ada yang mau invest. Hanya orang gila yang mau invest ke sini,” kenang Gibran.

Awalnya, kata Gibran, eFishery membuat satu alat untuk memberi makan ikan secara otomatis. Alat ini mampu mendeteksi nafsu makan ikan. Namun dalam beberapa tahun terakhir eFishery menggunakan data untuk menyediakan layanan lainnya seputar budidaya perikanan.

Saat ini banyak petani dan peternak ikan di berbagai daerah di Indonesia yang mendapat manfaat dari eFishery. Mereka mendapat akses pendanaan. Mendapat fasilitas membeli pakan ikan dengan harga murah dan bayarnya kemudian.

“Sekarang eFishery semacam end to end ecosystem, semacam koperasi tapi digital, untuk pembudidaya- pembudidaya ikan di perdesaan,” kata Gibran.

Perkembangan digital banking
Perkembangan digital banking

Patrick Waluyo, pemilik Northstar Group awalnya juga tidak tertarik karena takut uangnya hilang kalau ikut investasi.

Jika pada awal kesulitan memperoleh pendanaan, startup di bidang perikanan kini mudah memperoleh berbagai akses dana dan teknologi, karena ekosistemnya sudah tercipta dengan baik. Dulu awalnya Gibran juga harus mengajari petani menggunakan smartphone, untuk memanfaatkan teknologi eFishery ini.

Gibran berpendapat bahwa teknologi digital dapat mengurangi kesenjangan ekonomi dan sosial masyarakat. Sebab, teknologi mampu membuka akses berbagai macam sehingga kesenjangan mengecil.

“Jadi kalau kita membayangkan 10 sampai 20 tahun lagi, dengan ekosistem digital yang sudah makin lengkap, maka masyarakat perdesaan dan perkotaan memiliki peluang akses yang sama sehingga ekonomi bisa melesat,” kata dia.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN