Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Buka bersama Gapki secara daring, Rabu (28/4/2021).

Buka bersama Gapki secara daring, Rabu (28/4/2021).

Indonesia Tetap Perhatikan India sebagai Tujuan Ekspor Sawit

Rabu, 28 April 2021 | 21:55 WIB
Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id- Indonesia tetap akan memperhatikan India sebagai negara tujuan utama ekspor sawit Indonesia, meski Negara itu kini tengah menghadapi lonjakan kasus Covid-19. Pasalnya, Indonesia menguasai 70 hingga 80% pangsa pasar sawit di India.

"Sebelum ada lonjakan kasus Covid-19 di India, sebenarnya kita sudah mulai optimistis. Artinya, dunia industri sudah mulai optimistis dengan pemulihan di beberapa negara. Tiongkok juga sudah pasti. India juga sudah bagus tetapi ceroboh," kata Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono dalam acara Buka Bersama Gapki secara daring, Rabu (28/4/2021).

Buka bersama Gapki secara daring, Rabu (28/4/2021).
Buka bersama Gapki secara daring, Rabu (28/4/2021).

Menurut Joko, lonjakan kasus Covid-19 di India hingga mencapai 350 ribu penambahan kasus terkonfirmasi positif sehari belum berdampak pada ekspor sawit Indonesia.

Gapki pun terus mencoba menghubungi mitra di India untuk menanyakan kondisi terkait kasus Covid-19 dan dampaknya terhadap ekspor sawit.

Joko menambahkan pihaknya masih menunggu perkembangan terakhir. Menurut dia, lonjakan kasus Covid-19 sedikit banyak tentu akan mempengaruhi aktivitas termasuk sektor perdagangan, namun ia berharap hal itu tidak sampai mengganggu aktivitas ekspor impor utamanya komoditas sawit.

Harga dan produksi naik

Dalam kesempatan itu, Joko juga mengungkapkan harga rata-rata minyak sawit pada bulan Maret 2021 sebesar US$ 1.116/ton CIF Rotterdam, lebih tinggi US$ 21 (1,9%) dari harga bulan Februari.

Kenaikan harga disebabkan oleh banyaknya perubahan prediksi produksi oilseeds dan kenaikan produksi biodiesel dunia. Ketidakpastian tanam dan produksi oilseeds menyebabkan permintaan minyak sawit meningkat, karena sebagai tanaman tahunan, produksinya lebih bisa terprediksi.

Panenan sawit siap diproses di pabrik. Foto ilustrasi: Investor Daily/Gora Kunjana
Panenan sawit siap diproses di pabrik. Foto ilustrasi: Investor Daily/Gora Kunjana

Indonesia mendapat keuntungan dari situasi ini, karena produksinya praktis tidak terganggu oleh Covid-19 sehingga ekspor meningkat tajam.

Ekspor minyak sawit Maret 2021 diperkirakan mencapai 3.244 ribu ton 62,7% lebih tinggi dari ekspor Februari yang sangat rendah yaitu 1.994 ribu ton.

Kenaikan harga dan volume diperkirakan menghasilkan nilai ekspor sawit bulan Maret sekitar US$ 3,74 miliar atau 80% lebih tinggi dari perkiraan ekspor bulan Februari sebesar US$ 2,08 miliar.

Konsumsi dalam negeri 1.599 ribu ton sedikit terkoreksi dibandingkan dengan bulan Februari sebesar 1.604 ribu ton. Konsumsi minyak sawit untuk biodiesel turun (-0,5%) menjadi 625 ribu ton dari 635 ribu ton pada Februari dan oleokimia juga turun (-3,4%) menjadi 168 ribu ton dari 174 ribu ton.

Panenan sawit siap diproses di pabrik. Foto ilustrasi: Investor Daily/Gora Kunjana
Panenan sawit siap diproses di pabrik. Foto ilustrasi: Investor Daily/Gora Kunjana

Secara YoY sampai dengan Maret 2021, konsumsi dalam negeri 3,8% lebih tinggi dari 2020.

Produksi minyak sawit Indonesia bulan Maret 2021 naik lebih dari 20% menjadi 3.712 ribu ton. Kenaikan yang sangat tinggi ini merupakan limpahan produksi bulan Februari yang hanya sebesar 3.079 ribu ton, 10% lebih rendah dari bulan Januari. Namun, secara YoY sampai dengan Maret, produksi CPO 2021 1,6% lebih tinggi.

Kenaikan produksi bulan Maret sebesar 633 ribu ton, lebih kecil dari kenaikan ekspor dan konsumsi dalam negeri yang totalnya diperkirakan mencapai sekitar 1,4 juta ton. Keadaan ini menyebabkan stok akhir turun dari 4,02 juta ton menjadi 3,20 juta ton.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN