Airlangga Paparkan Sejumlah Faktor Penyebab Krisis Ekonomi
JAKARTA, investor.id - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan sejumlah faktor yang menyebabkan terjadinya krisis ekonomi di Indonesia. Benang merah dari sejumlah faktor ini adalah tata kelola yang tidak berjalan dengan baik. Oleh karena itu pemerintah terus menekankan pentingnya Good Corporate Governance (GCG).
“Kelemahan tata kelola perusahaan merupakan salah satu penyebab krisis ekonomi tahun 1998 dan kelemahan tersebut antara lain kualitas investasi yang buruk serta diversifikasi usaha yang sangat luas,” ucap Airlangga dalam acara The 10th ACGS Implementation: Road to ESG in Indonesia - Webinar IICD CG Conference pada Kamis (27/5).
Ia mengatakan kondisi pandemi ini menjadi pembelajaran pentingnya keberlangsungan bisnis, pentingnya perusahaan memperhatikan semua stakeholder serta pihak yang terlibat dalam rantai pasok dan juga para konsumen. Hal lain yang tidak kalah penting adalah kecepatan perusahaan dalam merespons hal-hal yang sebelumnya tidak terduga terjadi.
“Kita sadar kebutuhan akan Good Corporate Governance sebagai fondasi utama dalam pengambilan keputusan yang lebih baik. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengatasi tata kelola di Indonesia,” ucap Airlangga.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah pada tahun 1999 pemerintah membentuk Komite Nasional Kebijakan Good Corporate Governance. Lembaga tersebut bertugas untuk membangun kesadaran pentingnya tata kelola perusahaan serta menyusun beberapa pedoman tata kelola.
Otoritas Jasa Keuangan juga telah membuat peta arah tata kelola perusahaan Indonesia di awal tahun 2014. Pedoman ini terutama ditujukan untuk emiten dan perusahaan publik dan upaya reformasi tata kelola ini selanjutnya mendorong timbulnya insentif lain dari berbagai lembaga. Kesadaran reformasi tata kelola juga menjadi kolektif secara regional sehingga ASEAN melalui ASEAN Capital Market Forum memperkenalkan ASEAN Corporate Governance Scorecard (ACGS) di tahun 2011.
Airlangga mengatakan pada tahun 2019, 10 perusahaan di Indonesia tercatat masuk dalam kategori ASEAN Aset Class berdasarkan ACGS. Hal ini menjadi prestasi bagi Indonesia.
“Jumlah perusahaan tercatat yang masuk dalam ACGS setiap tahun juga mengalami peningkatan artinya sudah banyak perusahaan dapat yang memiliki tata kelola yang baik,” kata Airlangga.
Mengenai kaitan tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/ SDG’s ) dengan GCG, Airlangga mengatakan seluruh pihak perlu mengubah prioritas dan mulai mengidentifikasikan risiko di depan mata yang menjadi bagian dari SDG. Beberapa diantaranya yaitu seperti perubahan iklim, keanekaragaman hayati, bencana alam dan bencana lingkungan akibat ulah manusia.
“Berbagai langkah pertama dapat dilakukan dengan model ekonomi yang berkelanjutan untuk itu praktik Environment Social Governance (ESG) dan sering disebut sebagai lingkungan sosial dan tata kelola perlu dilakukan pada seluruh aktivitas bisnis,” katanya.
Menurut Airlangga, perusahaan perlu menyadari bahwa risiko dan mengumpulkan data ini penting untuk membangunperusahaan yang memiliki resilien di masa mendatang. Secara geografis Indonesia juga rentan terhadap perubahan iklim dan bencana, sehingga akan banyak kerugian yang ditanggung jika prinsip lingkungan sosial dan tata kelola ini tidak dijalankan. Selain itu penerapan ESG juga terbukti berdampak positif bagi kinerja perusahaan. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri untuk mewujudkan SDG’s perlu usaha kolektif dari pemerintah perusahaan media lembaga pendidikan.
“Tata kelola yang efektif hanya dapat terwujud bila kesadaran bersama bisa terbentuk dengan prinsip tata kelola yang baik mulai dari akar rumput sampai dengan jenjang para pengambil keputusan strategi,” kata Airlangga.
Editor: Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)
Dapatkan info hot pilihan seputar ekonomi, keuangan, dan pasar modal dengan bergabung di channel Telegram "Official Investor.ID". Lebih praktis, cepat, dan interaktif. Caranya klik link https://t.me/+oCMJPFzpWeg0OGZl, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Baca Berita Lainnya di GOOGLE NEWS
Berita Terkait
Berita Terkini
Premi Unit Link Masih Melambat
Premi dari produk asuransi yang dikaitkan dengan investasi (PAYDI) atau unit link turun. Tren itu diikuti dengan penyusutan klaim.Waskita (WSKT) Kembalikan Uang Negara Rp 3 T, Singgung Nasib Dua Ruas Tol
Waskita Karya (WSKT) mengembalikan uang negara Rp 3 triliun, menyusul pembatalan PMN. Lantas, bagaimana kelanjutan dua ruas tol?Lagi Naik Daun, Penjualan Granola Timur Tengah Tembus 200 Ribu Kg
Granola diyakini mengandung serat yang tinggi, sehingga baik untuk dikonsumsi sebagai sarapan atau camilan.Koleksi 270 Pukulan, Nitithorn Thippong Juara
Gelar juara tersebut adalah kemenangan ketiganya dalam Asian Tour.Indonesia-AS Gelar Latihan Bersama Keamanan Fasilitas Pelabuhan di Batam
Direktorat Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) bersama U.S. Department of Homeland Security akan menyelenggarakan kegiatan Joint Exercise ISPS Code Fasilitas Pelabuhan pada 7-8 Agustus 2023 di Pelabuhan Batam.Ekonom: Pertumbuhan Ekonomi Bisa Capai 5,1% di Kuartal II
Pengeluaran konsumsi rumah tangga diperkirakan tumbuh cukup tinggi, berkisar 4,9% atau setara dengan 53% dari total pembentukan PDB 2023.Tag Terpopuler
Terpopuler





