Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ekonom Universitas Indonesia Abdillah Ahsan

Ekonom Universitas Indonesia Abdillah Ahsan

Rumitnya Tarif Jadi Celah bagi Perusahaan Rokok Hindari Cukai

Selasa, 1 Juni 2021 | 04:33 WIB
Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Kondisi struktur tarif cukai rokok saat ini dinilai masih rumit dan menyebabkan penerimaan negara dalam bentuk cukai menjadi tidak optimal. Saat ini struktur cukai rokok terdiri dari 10 lapis. Cukai  menjadi salah satu instrumen pemerintah untuk menekan jumlah perokok aktif. Sebab tingginya jumlah perokok akan berdampak buruk pada sisi kesehatan dan  kualitas Sumber Daya Manusia. (SDM).

Ekonom Universitas Indonesia Abdillah Ahsan mengatakan, bila kebijakan cukai rokok hanya menerapkan satu tarif diperkirakan akan meningkatkan penerimaan negara hingga Rp 230 triliun. Namun bila kebijakan satu tarif dirasa terlalu berat pemerintah disarankan untuk menerapkan empat tarif dari 10 tarif yang sudah berlaku saat ini.

“Kalau seandainya tarif cukai hanya single  Rp 740 per batang ini potensi penerimaan negara sama dengan Rp 230  triliun,” ucap Abdillah dalam Webinar  Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2021 pada Senin (31/5).

Abdillah mengatakan dari perhitungan yang dilakukan dengan kebijakan saat ini masih terdapat celah terhadap penerimaan negara. Misalnya untuk jenis Sigaret Kretek Mesin (SKM) golongan 1 yang memproduksi 3 miliar batang dikenakan tarif Rp 740. Sedangkan  untuk jenis SKM golongan 2 A dengan produksi 2,99 miliar batang dikenakan tarif Rp 470.  SKM 2 A produksi maksimalnya dia bisa produksi 2,999 miliar batang, jadi kurang satu batang dari 3 miliar. Selisih tarif SKM 1 dan 2 A sebesar Rp 270.

“Jadi perusahaan di SKM 2 A gara-gara dia tidak memproduksi satu batang dia bisa melakukan  tax avoidance dan menghasilkan keuntungan Rp 810 miliar,” katanya.

Begitu juga perbedaan tarif dari Sigaret Putih Mesin (SPM) antara SPM 1 sebesar Rp 790 dan  SPM 2 A sebesar Rp 485 akan terjadi celah  Rp 914 miliar. Akibat kebijakan yang rumit ini  negara kehilangan potensi penerimaan negara triliunan. Menurut Abdilllah jal ini yang menjadi keuntungan industri rokok. Potensi penerimaan yang hilang karena kompleksitas cukai ini seharusnya bisa digunakan untuk meningkatkan penerimaan negara.

“Tidak hanya menaikkan cukainya tetapi dengan menyederhanakan  strukturnya pemerintah akan mendapatkan potensi penerimaan negara,” ucapnya.

Menurutnya pertumbuhan ekonomi kita harus didasari oleh pertumbuhan berkualitas dan sehat. Pertumbuhan ekonomi harus berkualitas yang berarti pertumbuhan tinggi, bisa mengurangi  kemiskinan, ketimpangan, pengangguran. Di samping  itu juga bisa menciptakan masyarakat yang sehat  dan dimana masyarakat yang sehat akan lebih produktif daripada yang sakit.

“Masyarakat yang sehat ini akan lebih berguna bagi perekonomian , lebih bermanfaat bagi  kesejahteraan masyarakat apabila mereka sehat,” ucap Abdillah.

Masyarakat yang sehat adalah fondasi bagi kualitas sumber daya  manusia yang tangguh menghadapi  Indonesia 2045. Pertumbuhan ekonomi harus ditopang oleh masyarakat yang sehat dan bisa menghasilkan masyarakat yang sehat. Oleh karena itu perekonomian tidak boleh diserahkan kepada industri-industri yang merusak kesehatan, lingkungan dan tidak berperilaku baik.

“Dari sisi  kesehatan masyarakat saya kira tidak boleh dikorbankan demi penerimaan negara dan pertumbuhan industri rokok,” ucapnya.

Ilusi Harga

Ekonom Faisal Basri
Ekonom Faisal Basri

Sementara itu  Ekonom Faisal Basri mengatakan kenaikan cukai rokok  tidak serta merta mempengaruhi jumlah penurunan perokok. Sebab banyak pabrik rokok yang melakukan ilusi harga dimana harga rokok satu bungkus seolah-olah murah ternyata mengurangi satuan batang rokok yang ada.

“Oleh karena itu jangan terlena dengan porsi cukai tinggi, sebab tidak berarti mengakibatkan harga rokok tidak terjangkau, “ucap Faisal.

Menurutnya pemerintah tidak boleh hanya menaikan cukai rokok namun harus menentukan batas harga rokok yang tinggi. Sebab saat cukai sudah tinggi tetapi harga per bungkus masih murah maka masyarakat masih akan tetap membeli rokok.

“Dari berbagai studi menunjukan harga paling sensitif jadi kalau harga riil turun maka konsumsi rokok per kapita naik Tidak ada keraguan tentang itu elemen paling efektif adalah harga. Sepanjang harga masih relatif murah konsumsi rokok jadi naik,” ucapnya.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN