Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ekonom Universitas Indonesia Abdillah Ahsan

Ekonom Universitas Indonesia Abdillah Ahsan

Penerapan Cukai Rokok Satu Tarif akan Tingkatkan Penerimaan Negara Rp 230 Triliun

Senin, 31 Mei 2021 | 22:09 WIB
Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Banyaknya layer dalam tarif cukai rokok dinilai tidak berdampak baik untuk penerimaan negara. Bila kebijakan cukai rokok hanya menerapkan satu tarif diperkirakan akan meningkatkan penerimaan negara hingga Rp 230 triliun. Namun bila kebijakan satu tarif dirasa terlalu berat pemerintah disarankan untuk menerapkan empat tarif dari 10 tarif yang sudah berlaku saat ini.

“Kalau seandainya tarif cukai hanya single  yaitu Rp 740 per batang potensi penerimaan negara sama dengan Rp 230  triliun. Saat ini penerimaan negara dari cukai tembakau sekitar Rp 170 triliun. Dengan  single tariff potensi penerimaan negara bisa bertambah Rp 40 triliun,” ucap Ekonom Universitas Indonesia Abdillah Ahsan  dalam Webinar  Peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2021 pada Senin (31/5).

Abdillah mengatakan dari perhitungan yang dilakukan dengan kebijakan saat ini masih terdapat celah terhadap penerimaan negara. Misalnya untuk jenis Sigaret Kretek Mesin (SKM) golongan 1 yang memproduksi 3 miliar batang dikenakan tarif Rp 740. Sedangkan  untuk jenis SKM golongan 2 A dengan produksi 2,99 miliar batang dikenakan tarif Rp 470.  SKM 2 A produksi maksimalnya dia bisa produksi 2,999 miliar batang, jadi kurang satu batang dari 3 miliar. Selisih tarif SKM 1 dan 2 A sebesar Rp 270.

“Jadi perusahaan di SKM 2 A gara-gara dia tidak memproduksi satu batang dia bisa mendapatkan insentif pajak  atau tax evasion menghasilkan keuntungan Rp 810 miliar,” katanya.

Begitu juga perbedaan tarif dari Sigaret Putih Mesin (SPM) antara SPM 1 sebesar Rp 790 dan  SPM 2 A sebesar Rp 485 akan terjadi celah  Rp 914 miliar. Akibat kebijakan yang rumit ini  negara kehilangan potensi penerimaan negara triliunan. Menurut Abdilllah ini yang menjadi keuntungan industri rokok. Besarnya celah dari peraturan cukai yang kompleks ini seharusnya bisa digunakan untuk meningkatkan penerimaan negara.

“Tidak hanya menaikan cukainya tetapi dengan menyederhanakan  struktur pemerintah akan mendapatkan potensi penerimaan negara,” ucapnya.

Ia mengatakan pertumbuhan ekonomi kita harus didasari oleh pertumbuhan berkualitas dan sehat. Pertumbuhan ekonomi harus berkualitas yang berarti pertumbuhan tinggi, bisa mengurangi  kemiskinan, ketimpangan, pengangguran. Di samping  itu juga bisa menciptakan masyarakat yang sehat  dan dimana masyarakat yang sehat akan lebih produktif daripada yang sakit.

“Masyarakat yang sehat ini akan lebih berguna bagi perekonomian , lebih bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat apabila mereka sehat,” ucapnya.

Masyarakat yang sehat adalah fondasi bagi kualitas sumber daya  manusia yang tangguh menghadapi  Indonesia 2045. Pertumbuhan ekonomi harus ditopang oleh masyarakat yang sehat dan bisa menghasilkan masyarakat yang sehat. Oleh karena itu perekonomian tidak boleh diserahkan kepada industri-industri yang merusak kesehatan, lingkungan dan tidak berperilaku baik.

“Dari sisi  kesehatan masyarakat saya kira tidak boleh dikorbankan demi penerimaan negara dan pertumbuhan industri rokok,” ucapnya.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN