Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kegiatan  Regional 5 Subholding Upstream Pertamina di Luar Negeri

Kegiatan Regional 5 Subholding Upstream Pertamina di Luar Negeri

Untung Rp 15 T, Pertamina Dinilai Lebih Baik dibanding Pemain Migas Dunia

Kamis, 17 Juni 2021 | 16:34 WIB
Harso Kurniawan (harso@investor.co.id)

JAKARTA, Investor.id - Laba bersih Rp 15 triliun yang diraih Pertamina pada 2020 terus menuai pujian. Sebab, saat pandemi Covid-19, banyak perusahaan migas dunia yang justru rugi besar.

Peneliti Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Salamuddin Daeng bahkan menyebutkan, dalam kondisi tekanan pandemi seperti sekarang, Pertamina memiliki manajemen keuangan yang lebih baik dibandingkan perusahaan migas lain.

“Pertamina bisa keluar dari zona keterpurukan, sedangkan perusahaan lain tidak. Bahkan, banyak perusahaan migas juga melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK). Pertamina sama sekali tidak. Padahal, yang juga berbahaya bagi perusahaan minyak, selain kerugian adalah PHK,” kata Salamuddin, Kamis (17/6/2021).

Pada 2020, banyak perusahaan migas dunia memang mengalami kerugian. Sebut saja Shell yang merugi hingga US$ 21,68 Miliar, BP US$ 20,31 miliiar, Exxon US$ 22,44 miliar, Total US$ 7,24 miliar, Chevron US$ 5,5 miliar, ENI US$ 9,53 miliar, dan Petronas US$ 5,54 miliar. Bahkan, kerugian BP, merupakan yang terparah dalam 10 tahun terakhir.

Menurut Salamuddin, laba bersih Rp 15 triliun yang diperoleh Pertamina tak lepas dari kemampuan BUMN tersebut menurunkan beban perusahaan. Dalam hal ini, beban pokok penjualan dan beban lain turun dari US$ 46,6 miliar menjadi US$ 34,5 miliar. “Penurunan mencapai US$ 12,1 Miliar atau Rp 175,5 triliun. Jadi, luar biasa kemampuan Pertamina menurunkan beban,” imbuh Salamuddin.

Penurunan beban tersebut, menurut Salamuddin, sangat penting. Terlebih, dibandingkan 2019, sebenarnya pendapatan Pertamina tahun lalu turun US$ 13,3 miliar, dari US$ 54,7 miliar menjadi US$ 41,4 miliar.

“Kalau bukan Pertamina, kehilangan 25% pendapatan yang angkanya ratusan triliun sudah pasti akan membuat perusahaan manapun langsung gulung tikar,” jelas dia.

Konsep manajemen keuangan Pertamina seperti itu, menurut Salamuddin, perlu menjadi contoh, termasuk oleh BUMN lain. “Jadi, tidak ada masalah dengan penurunan penjualan sebesar apapun. Yang penting, kemampuan BUMN menurunkan beban biaya,“ pungkas dia. 

Editor : Harso Kurniawan (harso@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN