Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Petani usai memanen kelapa sawit di Bogor, Jawa Barat, belum lama ini. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Petani usai memanen kelapa sawit di Bogor, Jawa Barat, belum lama ini. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

EKSPOR SAWIT DIPREDIKSI NAIK 3,27%

Laba Emiten Sawit bakal Tumbuh Dua Digit

Kamis, 1 Juli 2021 | 13:11 WIB
Ridho Syukra (ridho.syukra@beritasatumedia.com ) ,Nabil Al Faruq (nabil.alfaruq@beritasatumedia.com) ,Tri Listiyarini (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id – Emiten produsen minyak sawit diprediksi bakal mencetak pertumbuhan laba dua digit pada tahun ini seiring kebijakan pemerintah menurunkan tarif pungutan ekspor (PE). Kinerja emiten minyak sawit juga bakal ditopang oleh peningkatan permintaan dalam negeri dan pasar ekspor serta tren harga yang masih tinggi.  

Pemerintah menurunkan tarif pungutan ekspor (PE) sawit guna meningkatkan daya saing komoditas perkebunan tersebut di pasar internasional. Dengan penurunan tarif PE, beban eksportir sawit yang semula mencapai 36,40% dari harga produk menjadi maksimal 30%. Ketentuan penurunan tarif PE sawit tertuang dalam PMK 76/2021 yang diterbitkan pada 25 Juni 2021 dan berlaku mulai 2 Juli 2021.

Berdasarkan data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), produksi minyak sawit sepanjang Januari-April 2021 telah mencapai 15,25 juta ton dengan sisa stok awal tahun 4,87 juta ton tersedia suplai 20,14 juta ton. Dari suplai tersebut, sebanyak 6,19 juta ton untuk konsumsi domestik, dengan rincian masing-masing 3,18 juta ton untuk pangan, 682 ribu ton untuk oleokimia, dan 2,33 juta ton untuk biodiesel.

Emiten perkebunan kelapa sawit
Emiten perkebunan kelapa sawit

Sementara itu, pada periode Januari-April 2021, ekspor minyak sawit mencapai 10,79 juta ton dengan rincian 1,15 juta ton dalam bentuk CPO dan sisanya olahan, termasuk biodiesel dan oleokimia.

Sedangkan sisanya untuk stok akhir bulan. Sepanjang Januari-April 2021, kenaikan ekpor terbesar terjadi ke Tiongkok sebesar 78%, Malaysia 61%, Uni Eropa 56%, Filipina 37%, Rusia 26%, dan Bangladesh 17%. 

Sedangkan penurunan ekspor terbesar terjadi ke Vietnam 51%, India 31%, Singapura 31%, Amerika Serikat 28%, dan Myanmar 21%.

“Sebagian besar destinasi utama ekspor Indonesia tetap membukukan kinerja positif, meski memang India negatif, Belanda negatif, Myanmar negatif. Kalau India turun karena lockdown akibat lonjakan Covid-19 yang kedua. Tapi secara umum positif. Dan sepanjang tahun ini kami masih yakin ekspor bisa 35,12 juta ton atau naik 3,27% dari 2020,” kata Ketua Umum Gapki, Joko Supriyono dalam diskusi daring, belum lama ini.

Ketua Umum Gapki Joko Supriyono.Foto: IST
Ketua Umum Gapki Joko Supriyono.Foto: IST

Sementara itu, analis PT BRI Danareksa Sekuritas, Andreas Kenny mengatakan, pihaknya optimistis seluruh emiten sawit akan membukukan pertumbuhan laba double digit yang bisa melebihi 50% pada tahun ini.

Hal itu karena membaiknya harga, produksi yang sudah kembali bertumbuh, dan pemotongan pungutan ekspor yang dapat menambah pertumbuhan laba emiten sawit sekitar 20-40%.

Dia menambahkan, kinerja emiten sawit juga akan dipengaruhi oleh produksi dan harga. Untuk produksi minyak sawit Indonesia, dia melihat pertumbuhan yang signifikan di semester II-2021 hingga kuartal I-2022 karena efek La Nina dan kemarau yang relatif basah tahun ini.

Analis PT BRI Danareksa Sekuritas, Andreas Kenny. Foto: IST
Analis PT BRI Danareksa Sekuritas, Andreas Kenny. Foto: IST

Sedangkan produksi Malaysia masih terkendala kurangnya tenaga kerja dan usia sawit yang sudah tua.

Di sisi lain, dia menilai produksi kedelai Amerika Serikat (AS) saat ini masih terpengaruh kekeringan sehingga produksinya akan kurang optimal. Sedangkan harga minyak mentah cukup tinggi di atas US$ 70 per barel dapat membantu meringankan selisih harga unsur nabati (fatty acid methyl ester/FAME) dan solar untuk program B-30, sehingga pungutan ekspor pun turut diturunkan US$ 80 per ton dengan harga sekarang sehingga menguntungkan pemain sawit dan juga petani.

“Risiko terbesar ada di dolar AS yang menunjukkan tanda-tanda penguatan mengantisipasi inflasi yang cukup tinggi di sana tetapi the Fed masih cukup dovish untuk saat ini, sehingga masih membantu harga seluruh komoditas,” ujar Andreas kepada Investor Daily, Rabu (30/6).

Dia merekomendasikan investor bisa memperhatikan saham emiten DSNG dengan target price (TP) 900 dan SSMS dengan TP 1.900 karena ESG dan umur yang muda.

“Saham TAPG pun menarik untuk dicermati dengan alasan yang sama. Sedangkan untuk likuiditas yang memadai yakni LSIP dengan TP 1.850 dan AALI dengan TP 17.500,” ujar dia.

Di sisi lain, Founder Traderindo. com, Wahyu Laksono mengatakan, harga crude palm oil (CPO) tahun ini sangat bagus seiring harga komoditas energy oil.

Menurut dia, komoditas CPO diuntungkan oleh tren terkait biodiesel. Walaupun harganya terjadi koreksi yang wajar, namun harga energi dan perkebunan khususnya CPO tidak korelatif dengan emitennya. “Bursa kita termasuk yang lemah dibandingkan emerging market apalagi AS dan Eropa. IHSG cenderung tertahan dan rentan koreksi di bawah 6.000. Khususnya emiten perkebunan, justru harga sahamnya tertekan sejak awal tahun, seperti AALI dan LSIP,” ujar dia.

Wahyu menilai, outlook harga saham emiten perkebunan masih dalam tren melemah namun mendekati posisi low 2020, sehingga memberikan potensi buy on weakness di semester II-2021.

Produksi Tumbuh

Panenan sawit di sebuah pabrik. Foto ilustrasi:: Investor Daily/Gora Kunjana
Panenan sawit di sebuah pabrik. Foto ilustrasi:: Investor Daily/Gora Kunjana

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) optimistis produksi minyak sawit nasional tahun ini mencapai 53,94 juta ton atau tumbuh 4,56% dari 2020 yang sebesar 51,58 juta ton.

Musim yang mendukung dan pemupukan yang maksimal seiring perbaikan harga sawit di pasar global menjadi pendorong membaiknya produksi minyak sawit tahun ini.

Berdasarkan data Gapki, produksi minyak sawit tahun ini sebesar 53,94 juta ton terdiri atas minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) 49,16 juta ton dan minyak kernel (crude palm kernel oil/CPKO) 4,78 juta ton. Sedangkan pada 2020 dengan produksi 51,58 juta ton terdiri atas CPO 47,03 juta ton dan CPKO 4,55 juta ton.

“Produksi CPO saja naik menjadi 49 juta ton tahun ini, belum masih ada CPKO. Jadi, untuk total produksi minyak sawit tahun ini kemungkinan besar naik sekitar 4,56%,” kata Ketua Umum Gapki Joko Supriyono.

Menurut dia, produksi minyak sawit idealnya memang terus ditingkatkan, salah satunya melalui program peremajaan sawit rakyat (PSR) yang kini digalakkan pemerintah. Peningkatan produksi merupakan bagian dari upaya agar industri sawit tetap survive dan maju berkembang sehingga industri sawit tidak akan bernasib sama seperti komoditas lain yang telah lenyap dari peredaran.

“Kuncinya agar industri sawit survive dan maju berkembang adalah daya saing (competitiveness) dan keberlanjutan (sustainability). Kedua hal itu tidak bisa lepas dari perusahaaan perkebunan, swasta besar maupun BUMN, dan perkebunan rakyat karena semuanya satu supply chain,” jelas Joko.

Sekjen Gapki Eddy Martono. Foto: IST
Sekjen Gapki Eddy Martono. Foto: IST

Sekjen Gapki Eddy Martono menambahkan, pihaknya sangat mendukung program PSR dari pemerintah karena bertujuan mendukung keberlanjutan industri sawit nasional. Bahkan, Gapki menawarkan program kemitraan dengan petani swadaya untuk mempercepat program PSR tersebut.

“Apakah program PSR bisa mendorong produksi sawit nasional tentu jawabannya bisa tetapi peningkatan produksinya baru dirasakan setelah 4 tahun, bukan tahun ini. Proses penanaman sawit sampai akhirnya menghasilkan butuh waktu 4 tahun, jadi produksi sawit nasional bisa meningkat pesat pada 2025, asalkan PSR ini bisa berjalan lancar,” ungkap Eddy.

Eddy menjelaskan, karakteristik perkebunan sawit di Indonesia yang lokasinya berjauhan dan jauh dari permukiman membuat produksi minyak sawit nasional tahun ini tetap on the track dengan target 51-53 juta ton.

“Produksi minyak sawit tahun ini di angka 51-53 juta ton karena kegiatan operasional di perkebunan tidak terganggu Covid-19, tetap beroperasi normal. Pelaku usaha terus mendorong produksi minyak sawit dengan tetap menerapkan protokol kesehatan di wilayah perkebunan sesuai anjuran pemerintah,” kata Eddy kepada Investor Daily, Senin (30/6).

Sementara itu, peneliti senior PPKS Medan, Hasril Hasan Siregar mengatakan, produksi minyak sawit tahun ini bisa mencapai 55,69 juta ton atau mengalami kenaikan 6% dari tahun sebelumnya.

Pada 2020 dan 2021, iklim sangat kondusif yakni kemarau basah dan air tersedia dengan baik, ini sangat mendukung produktivitas sawit.

Peneliti senior PPKS Medan, Hasril Hasan Siregar . Foto: IST
Peneliti senior PPKS Medan, Hasril Hasan Siregar . Foto: IST

“Pemupukan pada 2020 juga umumnya berjalan baik karena harga baik, jadi dampaknya ke tahun ini. Beda dengan 2019, iklim kurang baik, pemupukan juga umumnya kurang sehingga produksi 2020 kurang baik,” ungkap Hasril.

Saat ini, harga minyak sawit di pasar global mencapai level tertinggi meskipun fluktuatif.

Dalam dua pekan terakhir, harga minyak sawit sempat menurun meski beberapa hari terakhir menunjukkan tren perbaikan.

Pada 17 Juni 2021 harga CPO sempat merosot ke level US$ 980 per ton namun pada 28 Juni menanjak lagi menjadi US$ 1.020 per ton.

“Harga fluktuatif karena sejalan dengan harga minyak nabati lain, stok juga agak tipis, produksi trennya memang naik tapi landai. Produksi Malaysia juga ada tren naik dan landai juga, bahkan rentan turun karena lockdown. Kondisi tersebut bisa menjadi momentum bagi Indonesia menaikkan produksi,” kata Hasril.

Sekretaris Eksekutif I Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC- PEN) Raden Pardede Foto: IST
Sekretaris Eksekutif I Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC- PEN) Raden Pardede Foto: IST

Di sisi lain, Sekretaris Eksekutif I Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC- PEN) Raden Pardede mengatakan, Indonesia merupakan produsen minyak sawit utama dan menguasai 55% pangsa pasar dunia. Karena itu, Indonesia bisa menjadi penentu harga sawit global.

“Indonesia memiliki potensi sebagai price maker dalam industri sawit dunia, mengingat Indonesia adalah produser (produsen) dan eksportir sawit terbesar di dunia. Dengan menjadi price maker maka Indonesia bisa mengatur keseimbangan harga jual minyak sawit yang dapat memberikan efek positif bagi industri kelapa sawit dalam negeri pada umumnya dan bagi perkebunan sawit rakyat pada khususnya,” jelas Raden saat diskusi daring, Rabu (30/6).

Saat ini, kata Raden, Indonesia hanya memanfaatkan kurang lebih 10% dari total global landbank vegetable oil tapi mampu menghasilkan 40% dari total minyak nabati dunia.

Dibandingkan komoditas minyak nabati lainnya, sawit mempunyai keunggulan antara lain produktivitas yang lebih tinggi sehingga luas lahan yang dibutuhkan untuk memproduksi minyak sawit jauh lebih sedikit.

Untuk menghasilkan 1 ton minyak sawit hanya butuh lahan 0,30 ha, tapi untuk rapeseed oil perlu 1,30 ha, sunflower oil dan soybean oil masing-masing butuh 1,50 ha dan 2,20 ha.

“Selain itu, saat sektor ekonomi lain terpuruk karena pandemi, industri sawit tidak terdampak karena kegiatan operasional perkebunan tetap berjalan normal, tentunya dengan menerapkan protokol kesehatan ketat,” papar Raden.

Produksi, ekspor, dan konsumsi produk kelapa sawit
Produksi, ekspor, dan konsumsi produk kelapa sawit

Raden menjelaskan, potensi sebagai price maker itu sangat mungkin direalisasikan karena Indonesia punya peluang untuk menggenjot produksi lebih besar.

Kelapa sawit adalah tanaman anugerah Tuhan di Indonesia mengingat sawit tidak tumbuh sembarangan, hanya tumbuh dan produktif di daerah dengan posisi 5 derajat di bawah dan 5 derajat di atas khatulistiwa dan Indonesia masuk di dalamnya.

“Apalagi, pemerintah juga punya komitmen untuk meremajakan (replanting) 180 ribu ha kebun sawit rakyat tahun ini melalui PSR dan tahun-tahun berikutnya lebih tinggi lagi. Tujuannya adalah produktivitas sawit yang kurang dari 3-4 ton per ha karena umurnya sudah tua bisa ditingkatkan lagi produktivitasnya dengan bibit unggul dan penerapan good agricultural practices (GAP),” ungkap Raden. 

Dampak Penurunan PE

Panenan sawit siap diproses di pabrik. Foto ilustrasi: Investor Daily/Gora Kunjana
Panenan sawit siap diproses di pabrik. Foto ilustrasi: Investor Daily/Gora Kunjana

Sesuai Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No: 76/PMK.05/2021 tentang Perubahan Kedua Atas PMK No: 57/PMK.05/2020 tentang Tarif Badan Layanan Umum Badan Pengelola

Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), maka batas pengenaan tarif progresif (threshold) berubah menjadi pada harga CPO sebesar US$ 750 per ton dari semula US$ 670 per ton (PMK 191/2020). Apabila harga CPO di bawah atau sama dengan US$ 750 per ton maka tarif PE tetap (seperti PMK 191/2020), misalnya untuk tarif produk CPO (crude) tetap US$ 55 per ton.

Selanjutnya, setiap kenaikan harga CPO sebesar US$ 50 per ton maka tarif PE naik US$ 20 per ton untuk produk crude dan US$ 16 per ton untuk produk turunan sampai harga CPO mencapai US$ 1.000 per ton.

Apabila harga CPO di atas US$ 1.000 per ton maka tarif tetap sesuai tarif tertinggi masing-masing produk, untuk produk CPO misalnya tarif tertinggi untuk PE adalah US$ 175 per ton.

Sedangkan pada PMK 191/2020, ketika batas harga CPO di atas US$ 995 per ton dikenai tarif PE sebesar US$ 255 per ton.

Wakil Ketua Umum III Gapki (Urusan Perdagangan dan Keberlanjutan) Togar Sitanggang. Foto: IST
Wakil Ketua Umum III Gapki (Urusan Perdagangan dan Keberlanjutan) Togar Sitanggang. Foto: IST

Gapki merespons positif penurunan tarif PE sawit seperti diatur dalam PMK 76/2021 tersebut. Wakil Ketua Umum III Gapki (Urusan Perdagangan dan Keberlanjutan) Togar Sitanggang mengatakan, kebijakan tersebut tepat karena dikeluarkan ketika harga sawit sedang turun.

“Gapki selaku mitra pemerintah menyambut baik. Kami mendukung 100% kebijakan baru tentang penyesuaian tarif PE yang dikeluarkan pemerintah ini. Kebijakan ini sudah tepat dan keluar di saat yang tepat karena dalam beberapa minggu terakhir ini harga sawit terus menurun,” jelas dia.

Togar belum bisa menjelaskan dampak penyesuaian tarif PE terhadap kinerja ekspor industri sawit nasional. Alasannya, kebijakan itu baru mulai berlaku 2 Juli 2021. Target kinerja ekspor sawit juga diharapkan tidak berubah, meski harga terus turun karena penurunannya tidak drastis.

“Kebijakan tarif PE yang baru memang sudah ditetapkan lebih kecil sesuai pergerakan harga sawit. Tapi kami belum bisa memperkirakan dampaknya karena baru berlaku 2 Juli 2021,” jelas Togar.

Ekspor kelapa sawit Indonesia
Ekspor kelapa sawit Indonesia

Penyesuaian tarif PE produk sawit tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No: 76/PMK.05/2021 tentang Perubahan Kedua Atas PMK No: 57/PMK.05/2020 tentang Tarif Badan Layanan Umum Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS).

Sedangkan menurut Hasril Hasan Siregar, penurunan tarif PE memang bisa berdampak pada meningkatnya ekspor minyak sawit Indonesia karena memang targetnya untuk memacu daya saing, namun belum tentu kenaikannya tinggi.

Sebab, kebijakan Indonesia tersebut juga akan dimonitor oleh Malaysia yang merupakan produsen dan eksportir minyak sawit pesaing Indonesia. Demikian juga dengan sentimen penurunan bea masuk (BM) yang dilakukan India.

“Dampaknya ke Indonesia itu tergantung Malaysia. Malaysia itu diam saja atau bagaimana,” ujar Hasril. (jn)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN