Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Jerry Sambuaga adalah Wakil Menteri Perdagangan Indonesia saat berbicara dalam ajang Investor Daily Summit 2021, Selasa (13/7).

Jerry Sambuaga adalah Wakil Menteri Perdagangan Indonesia saat berbicara dalam ajang Investor Daily Summit 2021, Selasa (13/7).

Pemerintah Optimistis Surplus Perdagangan 2021 Lampaui US$ 20,7 Miliar

Selasa, 13 Juli 2021 | 18:10 WIB
Fajar Widhiyanto

Jakarta - Indonesia telah berhasil mencetak kenaikan surplus perdagangan sebesar 2,36% di angka US$ 10,17 miliar pada Mei 2021, yang merupakan surplus perdagangan tertinggi pada periode yang sama selama sepuluh tahun terakhir.

Dikatakan Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga dalam kesempatan Investor Daily Summit (IDS) 2021, Selasa (13/7), surplus perdagangan ini merupakan besaran nilai ekspor Republik Indonesia yang lebih tinggi dibandingkan produk yang diimpor.

“Hal ini sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo agar kita bisa mencetak surplus perdagangan di tengah pandemi. Kenaikan surplus perdagangan ini merupakan yang tertinggi dalam 10 tahun terakhir,” ujar Jerrry yang menggantikan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi yang berhalangan hadir.

Dikatakan Jerry, jika melihat angka surplus perdagangan tahun lalu yang sebesar US$ 20,7 miliar, ia optimistis pada tahun ini surplus perdagangan akan melampaui angka tahun 2020.

Adapun surplus ditopang oleh tiga produk teratas dalam ekspor,yakni udang kemasan, kopi instan dan makanan olahan lainnya. Ketiga produk inilah yang berpengaruh besar pada peningkatan surplus perdagangan RI di tahun ini. Sejauh ini negara tujuan ekspor terbesar masih didominasi oleh Amerika Serikat.

Wakil menteri perdagangan juga menyebutkan bahwa surplus perdagangan bisa tercapai atas upaya diversifikasi produk yang dilakukan oleh para produsen lokal. Faktor lainnya yang juga ikut membantu peningkatan surplus perdagangan adalah sudah diratifikasinya 23 perjanjian perdagangan bilateral dan unilateral yang dijalin oleh pemerintah Indonesia dengan sejumlah negara dan kawasan.

Salah satunya ia disebutkan perjanjian dagang yang telah disepakati dengan Australia yang telah memungkinkan 7000 item produk RI bisa dibebaskan dari bea masuk di Negara Kangguru tersebut. Indonesia -Australlia CEPA (Comprehensive Economic Partnership Agreement) diteken pada 4 Maret 2019, dan diimplementasikan mulai 5 Juli 2020.

Perjanjian dagang berikutnya yang memiliki pengaruh signifikan dalam konstelasi perdagangan RI dengan para mitra dagangnya adalah Persetujuan Kemitraan Ekonomi Komprehensif antara Republik Indonesia dan Negara-Negara European Free Trade Association/EFTA, yang beranggotakan Swiss, Liechtenstein, Norwegia, dan Islandia.

Disampaikan Jerry, perjanjian dagang RI dengan keempat negara Eropa yang non Uni Eropa ini bisa memberikan sebuah kesadaran bahwa produk-produk dari Indonesia termasuk yang salah satunya produk CPO yang mengalami diskriminasi dalam perdagangan dengan negara Uni Eropa, adalah produk yang layak untuk diterima dan dikonsumsi oleh mereka.

“Salah satu yang terpenting adalah perjanjian yang dijalin dengan Swiss yang memberikan preseden positif dan memberikan pesan yang jelas bahwa CPO kita bisa diterima dan dikonsumsi. Swiss merupakan negara di Eropa yang mau meratifikasi impor produk CPO dari Indonesia. Hal ini sangat positif di tengah tekanan terhadap produksi CPO kita yang mendapatkan perlakuan diskriminatif sehingga kita kesulitan untuk memasok produk CPO ke negara-negara di Uni Eropa,” ujar Jerry.

Dalam kesempatan tersebut Wamendag juga menekankan pentingnya rasa bangga atas produk buatan Indonesia, sehingga Kementerian Perdagangan pun melansir kampanye BBI, Bangga Buatan Indonesia. Ia pun menunjukkan bahwa pakaian yang ia gunakan adalah pakaian 100% buatan Indonesia yakni batik produk lokal serta jam tangan serta sepatu yang juga diproduksi oleh para produsen lokal.

Editor : Fajar Widhi (fajar_widhi@investor.co.id)

Sumber : Majalah Investor

BAGIKAN