Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Hariyadi Sukamdani, Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) dalam acara Investor Daily Summit 2021 hari ke-3 pada Sesi Memacu Pariwisata, Membangun Ekonomi Daerah, Kamis (15/7/2021). Foto: Investor Daily/David Gita Roza

Hariyadi Sukamdani, Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) dalam acara Investor Daily Summit 2021 hari ke-3 pada Sesi Memacu Pariwisata, Membangun Ekonomi Daerah, Kamis (15/7/2021). Foto: Investor Daily/David Gita Roza

40% Pekerja Formal Sektor Pariwisata Kehilangan Pekerjaan Akibat Pandemi

Kamis, 15 Juli 2021 | 13:22 WIB
Eva Fitriani (eva_fitriani@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia sejak lebih dari 1,5 tahun terakhir, memberikan dampak yang sangat berat bagi sektor pariwisata. Akibatnya, sekitar 40% pekerja formal di sektor pariwisata terpaksa kehilangan pekerjaan akibat pandemi ini.

“Sudah bisa dipastikan kita kehilangan 40% tenaga kerja formal di sektor pariwisata. Itu baru akan terkompensasi kalau kondisi sudah mulai pulih dan ada investasi baru yang masuk,” kata Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi Sukamdani saat menjadi pembicara dalam Investor Daily Summit (IDS) 2021 Sesi 7: Memacu Pariwisata, Membangun Ekonomi Daerah, Kamis (15/7).

Hariyadi menjelaskan, pandemi Covid-19 membuat pergerakan masyarakat menjadi terbatas dan berdampak langsung terhadap bisnis pariwisata. “Pariwisata itu bisnis yang mengandalkan pergerakan masyarakat, makanya saat diberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan pembatasan-pembatasan lainnya, pariwisata tidak bisa bergerak,” ungkap dia.

Akibatnya, lanjut Hariyadi, tingkat hunian kamar (occupancy room) hotel di berbagai daerah menurun drastis. “Setiap ada pembatasan, pasti drop. Contoh di Bali, occupancy room pada tahun lalu hanya 3,22%, dan di bulan April 2021 sudah sedikit membaik menjadi 10,09% 2021. Tapi sekarang karena ada PPKM lagi, pasti drop lagi,” ujar dia.

Hal yang sama juga terjadi pada bisnis restoran. “Setiap ada kenaikan kasus lagi dan dilakukan pembatasan, mal pasti jadi yang paling dulu kena dampak penutupan. Penurunan occupancy hotel dan restoran ini yang akhirnya berdampak pada tenaga kerja,” jelas Hariyadi.

Menurut Hariyadi, kunci utama bagi pemulihan sektor pariwisata adalah program vaksinasi yang massif agar cepat terbentuknya kekebalan komunal (herd immunity). Semakin banyak masyarakat yang mendapat vaksinasi dengan efikasi tinggi akan memungkinkan Indonesia lebih cepat mencapai herd immunity terhadap virus Covid-19, sehingga pergerakan manusia bisa kembali pulih.

“Pemerintah perlu memprioritaskan vaksinasi secara cepat, massif, menggunakan vaksin dengan efikasi yang tinggi. Karena kalau efikasinya rendah juga bisa berpotensi lagi menimbulkan masalah di kemudian hari,” ungkap Hariyadi.

Editor : Eva Fitriani (eva_fitriani@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN