Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Utama PT Indofarma Tbk Arief Pramuhanto dalam acara Investor Daily Summit 2021 sesi diskusi

Direktur Utama PT Indofarma Tbk Arief Pramuhanto dalam acara Investor Daily Summit 2021 sesi diskusi "Pandemi, Momentum Investasi Sektor Kesehatan", Rabu (15/7)

Herbal Bisa Jadi Solusi Ketergantungan Impor Bahan Baku Obat

Kamis, 15 Juli 2021 | 18:54 WIB
Herman

JAKARTA, Investor.id Direktur Utama PT Indofarma Tbk Arief Pramuhanto menyampaikan, untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku obat dari luar, salah satu caranya adalah dengan memanfaatkan bahan baku herbal yang melimpah di Indonesia.

“Bila industri fitofarmaka kita perbanyak, supply bahan bakunya mestinya akan lebih aman karena itu dari dalam Indonesia. Ini yang lebih dikenal dengan obat modern asli Indonesia (Omai),” kata Arief Pramuhanto dalam acara Investor Daily Summit 2021 sesi diskusi “Pandemi, Momentum Investasi Sektor Kesehatan”, Rabu (15/7).

Arief mencontohkan apa yang terjadi di Tiongkok. Saat ada yang sakit, mereka akan ditawari dua alternatif, yaitu pengobatan barat atau Traditional Chinese Medicine (TCM).

“TCM itu sendiri punya rumah sakit khusus TCM, kemudian punya dokter juga yang TCM. Ini satu bukti bahwa obat tradisional punya peluang yang sangat besar secara paralel berjalan dengan pengobatan western,” ujarnya.

Arief juga memaparkan arah pengembangan herbal di Indonesia yang terdiri dari beberapa tingkatan. Pertama adalah jamu yang berdasarkan pembuktian empiris dan uji mutu produk jadi. Tingkatan berikutnya adalah obat herbal terstandar, di mana sudah ada pembuktian pra klinis, bahan baku terstandar, serta uji mutu produk jadi. Tingkatan yang paling tinggi yaitu fitofarmaka yang sudah ada pembuktian pra-klinik dan klinik, serta uji mutu, bahan baku dan produk jadi terstandar.

“Kalau kita perhatian pengembangan herbal, hampir 90% itu ada di jamu, beberapa obat herbal terstandar. Kalau fitofarmaka mungkin bisa dihitung dengan jari. Jadi ini tantangan buat kita karena salah satu cara untuk mengurangi ketergantungan kita terhadap bahan baku obat dari luar sebenarnya adalah herbal,” kata Arief.

Sebagai informasi, saat ini dari total 1.809 obat yang ditransaksikan dalam e-katalog, 56 obat belum diproduksi di Indonesia. Sedangkan untuk alat kesehatan (alkes), dari 496 alkes yang ditransaksikan dalam e-katalog tahun 2019-2020, 152 jenis alkes sudah mampu diproduksi dalam negeri.

Editor : Aris Cahyadi (aris_cahyadi@investor.co.id)

Sumber : BeritaSatu.com

BAGIKAN