Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Webinar GenmudPUPR bertajuk Penerapan Geologi Teknik pada Perencanaan Pembangunan Infrastruktur PUPR, Jumat (23/7).

Webinar GenmudPUPR bertajuk Penerapan Geologi Teknik pada Perencanaan Pembangunan Infrastruktur PUPR, Jumat (23/7).

Tanpa Geologi Teknik Implementasi Konstruksi Berpotensi Banyak Distorsi

Jumat, 23 Juli 2021 | 22:08 WIB
Indah Handayani (handayani@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono mengatakan tanpa geologi teknik dalam perencanaan infrastruktur, implementasi konstruksi berpotensi akan mengalami banyak distorsi hingga penyesuaian di lapangan. Alhasil, malah akan menyebabkan tambahan biaya yang besar sehingga pembangunan infrastruktur menjadi mahal.

Hal itu terbukti dengan banyaknya kasus distorsi infrastruktur yang terjadi di Indonesia. Diantaranya adalah peristiwa likuifaksi di Palu yang menelan banyak rumah pada 2018 dan banyaknya jembatan yang miring setelah dibangun.

Menteri Basuki mengatakan sayangnya geologi teknik baru dilihat setelah ada masalah dalam pembangunan, bukan pada perencanaan.

“Padahal, minimnya geologi teknik dalam perencanaan infrastruktur malah akan membuat implementasi dalam konstruksi banyak distorsi dan penyesuaian di lapangan. Sehingga menimbulkan biaya yang besar. Untuk itu, mulai saat ini hingga kedepannya geologi teknik akan menjadi guide dalam perencanaan,” ungkap Menteri Basuki di sela webinar GenmudPUPR bertajuk 'Penerapan Geologi Teknik pada Perencanaan Pembangunan Infrastruktur PUPR', Jumat (23/7).

Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian PUPR Dr Ir Hedy Rahadian Msc menjelaskan geologi teknik fungsinya adalah menjembatani antara karakteristik lokasi infrastruktur dan proses desain, kontruksi, operasional hingga managerial.

Selain itu, juga berperan dalam mitigasi risiko yang mungkin terjadi pada tahap konstruksi dan operasional hingga manajerial. Untuk itu, geologi teknik tidak bisa disepelekan dan harus masuk dalam perencanaan infrastruktur di Indonesia. Terlebih lagi, kondisi Indonesia yang rawan gempa, kondisi rawan letusan gunung api, secara morfologi pegunungan dan perbukitan, terdapat potensi ditemukannya batuan metamorf dan batuan beku yang memiliki diskontinuitas.

Belum lagi, lanjut Hedy, curah hujan hujan yang tinggi sehingga berpotensi terjadinya pelapukan tanah yang tinggi, serta karakteristik tanah banyak dipengaruhi oleh aktivitas gunungapi. Untuk itu, penyelidikan tanah menentukan stratifikasi tanah dan identifikasi bidang longsor untuk kebutuhan analisis penanganan yang diperlukan.

“Jadi apabila kita saat ini masih menemukan longsoran yang begitu sering dan jembatan miring begitu banyak, artinya itu menjadi kegagalan pemahaman terhadap aspek geologis. Alhasil, akan mengakibatkan risiko-risiko yang tidak kita inginkan,” paparnya.

Hedy mencontohkan tanah problematik berupa tanah lunak dan gambut. Meski secara luas tidak besar dibandingkan tanah residual, tapi tanah lunak yang meliputi sekitar 20 juta hektar atau sekitar 10% dari luas total daratan di Indonesia. Sayangnya, jumlah tersebut malah menjadi pusat—pusat pertumbuhan ekonomi berada atau kota-kota besar di Indonesia.

"Jika tidak tidak mampu mengembangkan berinovasi untuk teknologi yang cukup murah akan membuat biaya infrastruktur menjadi cukup mahal," tutupnya.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN