Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Didik J Rachbini

Didik J Rachbini

Indef: APBN Miliki Masalah Berat

Minggu, 1 Agustus 2021 | 22:00 WIB
Triyan Pangastuti

JAKARTA, investor.id  -Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Didik J Rachbini mengatakan, anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) memilikimasalah yang berat dan sakit. Apa lagi ditambah dengan adanya pandemic Covid-19 menjadi semakin berat sehingga dapat memicu krisis ekonomi.

Ia menjelaskan, di masa pandemi, APBN digenjot secara besar-besaran sehingga otomatis akan memicu melebarnya defisit dan bertambahnya utang pemerintah. Namun, dampaknya terhadap ekonomi justru dinilainya tidak relatif besar dibandingkan ne garanegara lain yang dapat mengendalikan APBN.

“Masalah berat, tetapi mauperbaiki ekonomi lebih awal, sementara kasus Covid-19 belum diselesaikan, hingga upaya tersebut akan memiliki dampakyang terbatas. Ketika APBN digenjot besar, maka utang akan besar, defisit juga besar, tetapi dampak ke ekonomi tidak akan lebih besar dari Negara-negara lain yang dapat mengendalikan APBN,” tutur Didik dalam diskusi, Minggu (1/8).

Menurut dia, masalah yang kini dihadapi keuangan negara yakni selisih antara besarnya pengeluaran dan penerimaan pemerintah atau defisit primer, utang negara, penyerapan anggaran daerah yang masih rendah serta penyertaan modal negara (PMN).

Di sisi lain, masalah defisit anggaran setiap tahun semakin meningkat dari sebelum pandemi 2019 hingga saat ini. Untuk tahun ini defisit anggarandipatok 5,7% terhadap PDB atau setara Rp 1.006,4 triliun.

Sementara itu, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) memproyeksikan, defisit APBN 2021 menjadi Rp 1.028,9 triliun atau setara 5,8% terhadap PDB. Defisit ini meningkat Rp 22,5 triliun dari target dalam APBN 2021 sebesar Rp 1.006,4 triliun atau 5,7% dari PDB.

“APBN 2021 mengalami pelebaran defisit menjadi 5,8% atau meningkat 0,1% dari PDB,” ujar Deputi Bidang Pendanaan Pembangunan Kementerian PPN/Bappenas Leonard Tampubolon dalam webinar PPPI dan Bappenas pekan lalu. Proyeksi pelebaran defisit, menurutnya telah mempertimbangkan dampak dari lonjakan kasus Covid-19 dan pemberlakuan PPKM. Hal ini dikarenakan kebutuhan belanja bertambah lebih besar dan di sisi lain penerimaan juga belum pulih.

Sulit Tercapai

Pada acara webinar tersebut,  Anggota Komisi XI DPR RI Jon Erizal menilai, upaya pemerintah untuk mencapai target konsolidasi fiskal pada 2023 dengan mengembalikan defisit anggaran ke angka maksimal 3% dari PDB sulit tercapai, karena kebutuhan belanja yang kian membesar akibat lonjakan pandemi Covid-19.

“Dalam UU 2 tahun 2020 ada hal yang krusial yakni 2023 harus kembalikan defisit anggaran 3% PDB. Bagaimana caranya? Sementara sampai hari ini sudah 5,7% (target 2021). Untuk menekan defisit 2023 di 3% saya melihat itu impossible,” tutur dia.

Ia mengatakan, sempat menanyakan langkah dan upaya pemerintah untuk menurunkan defisit kembali ke 3% pada 2023, namun belum mendapatkan respons terkait upaya yang akan didorong untuk menekan defisit di 2023.

Ekonom Center of Reform on Economics Indonesia (Core) Yusuf Rendy Manilet
Ekonom Center of Reform on Economics Indonesia (Core) Yusuf Rendy Manilet

Sementara itu, ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy mengatakan, melebarnya defisit anggaran dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya proyeksi penerimaan pajak.

“Padahal, setelahnya kita tahu bahwa tahun ini dengan kenaikan kasus Covid-19 dan pemberlakuan PPKM, pertumbuhan ekonomi juga akan mengalami koreksi. Padahal, penerimaan pajak akan bergantung pada kinerja perekonomian,” tutur dia. “Dengan asumsi bea cukai terealisasikan penuh, begitu pula dengan realisasi belanja negara yang diproyeksikan terealisasikan penuh. Maka menurut perhitungan saya, target defisit anggaran bisa melebar hingga 5,8% sampai 5,9%,” pungkas Yusuf.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN