Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bank Indonesia. Foto: BeritaSatu Photo/M Defrizal

Bank Indonesia. Foto: BeritaSatu Photo/M Defrizal

BI Perkirakan Inflasi 2021 di Kisaran 3,0±1%

Selasa, 3 Agustus 2021 | 11:48 WIB
Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo mengatakan, kondisi inflasi sebesar 0,08% perkembangan sampai dengan Juli 2021 mengkonfirmasi bahwa tekanan inflasi tetap rendah. Inflasi diperkirakan akan berada dalam kisaran sasarannya 3,0±1% pada 2021 dan 2022.

“BI tetap berkomitmen menjaga stabilitas harga dan memperkuat koordinasi kebijakan dengan Pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah melalui Tim Pengendali Inflasi, termasuk menjaga pasokan selama implementasi kebijakan pembatasan mobilitas,” ucap Dody saat dihubungi Investor Daily pada Senin (2/8) malam.

Advertisement
Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo. Foto: IST
Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo. Foto: IST

Secara tahunan, inflasi tercatat 1,52% (yoy), menurun dibandingkan dengan inflasi bulan sebelumnya. Inflasi inti terjaga rendah sejalan dengan pemulihan permintaan domestik yang masih terbatas, stabilitas nilai tukar yang terjaga, dan ekspektasi inflasi yang terjangkau pada kisaran target. Inflasi kelompok volatile food juga tetap rendah di tengah terjaganya pasokan. Inflasi subkelompok obat-obatan dan produk kesehatan meningkat sebesar 0,47% karena tingginya permintaan. Sumbangan inflasi kelompok kesehatan pada inflasi Juli 2021 relatif kecil atau sebesar 0,01%.

“Ke depan, dengan langkah pemerintah untuk menjaga ketersediaan pasokan dan pengendalian harga kami harapkan harga akan kembali normal,” ucap Dody.

Mengenai pertumbuhan ekonomi, dalam jangka pendek, pembatasan mobilitas akan menyebabkan pertumbuhan ekonomi tidak setinggi perkiraan, namun langkah ini memastikan pemulihan akan tetap berkelanjutan.

Dalam hal ini, BI mendukung pemerintah karena pengendalian penyebaran virus Covid -19 merupakan prasyarat utama pemulihan ekonomi. Pada kuartal III -2021, pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan lebih rendah.

Penurunan pertumbuhan terutama terjadi pada konsumsi rumah tangga karena terbatasnya mobilitas. Pada sisi lain peningkatan stimulus bantuan sosial oleh pemerintah, dan tetap kuatnya kinerja ekspor akan menopang ekonomi.

Pada kuartal IV- 2021, pertumbuhan ekonomi diperkirakan kembali meningkat didorong oleh peningkatan mobilitas sejalan dengan akselerasi vaksinasi dan penerapan protokol kesehatan, berlanjutnya stimulus kebijakan, dan terus meningkatnya kinerja ekspor.

“Dengan perkembangan tersebut BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada tahun 2021 sebesar 3,5% sampai 4,3%,” ucap Dody.

Dody mengatakan pihaknya terus mengoptimalkan seluruh bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan serta mendukung upaya perbaikan ekonomi lebih lanjut. BI menjalankan kebijakan moneter longgar dan makroprudensial akomodatif.

BI juga melanjutkan kebijakan nilai tukar rupiah untuk menjaga stabilitas nilai tukar yang sejalan dengan fundamental dan mekanisme pasar. Untuk mendukung pemerintah memitigasi dampak pembatasan mobilitas BI mendukung penyaluran bantuan sosial secara daring.

“BI juga bersinergi dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan  untuk implementasi lebih lanjut paket kebijakan terpadu dalam rangka menjaga stabilitas sistem keuangan dan meningkatkan pembiayaan kepada dunia usaha pada sektor-sektor prioritas, termasuk UMKM,” kata Dody.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN