Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno

Kemenparekraf Pastikan Pengembangan Labuan Bajo Sesuai Prinsip Pariwisata Berkelanjutan

Jumat, 6 Agustus 2021 | 20:12 WIB
Eva Fitriani (eva_fitriani@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno memastikan pihaknya terus mengedepankan prinsip-prinsip pariwisata berkualitas dan berkelanjutan dalam pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif di Destinasi Super Prioritas (DSP) Labuan Bajo, termasuk DSP serta destinasi lainnya di tanah air.

“Pengembangan pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan adalah pengembangan pariwisata yang memperhatikan dengan seksama dampak terhadap lingkungan, sosial, budaya, makhluk hidup, dan ekonomi untuk masa kini dan masa depan, baik bagi masyarakat lokal maupun wisatawan. Sehingga dapat menggerakkan ekonomi dan membuka lapangan kerja,” kata Sandiaga dalam keterangan resminya, Kamis malam (5/8).

Dalam penerapannya, lanjut dia, pariwisata berkelanjutan memiliki prinsip untuk memberdayakan masyarakat melalui kebudayaan dan kearifan lokal yang ada. Sejalan dengan itu melestarikan alam dan meningkatkan kesejahteraan, serta ditambah aspek pengelolaan secara profesional. Tidak semata-mata memperhitungkan dampak ekonomi, tapi juga dampak yang akan terjadi terhadap lingkungan dan sosial budaya masyarakatnya.

PUPR tengah mengerjakan pembangunan sarana dan prasarana pendukung pariwisata di Pulau Rinca, Taman Nasional Komodo
Pembangunan sarana dan prasarana pendukung pariwisata di Pulau Rinca, Taman Nasional Komodo

Oleh karena itu, kata Sandiaga, dalam pengembangan pariwisata di Labuan Bajo, khususnya di zona pemanfaatan yang ada di Taman Nasional Komodo harus memperhatikan hal-hal yang utamanya menyangkut aspek lingkungan, budaya, dan kearifan lokal. Sehingga konsep wisata premium yang disiapkan pemerintah di Labuan Bajo, benar-benar terwujud.

“Adapun konsep premium yang dimaksud mengacu kepada layanan yang berkualitas tinggi dan kental dengan keunikan alam, sosial, budaya, masyarakat, dan makhluk hidup di dalamnya, sehingga memberikan pengalaman yang bernilai tinggi bagi wisatawan, dengan tetap memperhatikan keberlangsungan lingkungan hidup,” ungkap dia.

Menparekraf menjelaskan, pihaknya terus berkoordinasi bersama dengan kementerian/lembaga serta pihak-pihak terkait lainnya untuk terus memastikan bahwa penataan sarana dan prasarana di zona pemanfaatan di TN Komodo tidak menimbulkan atau mengakibatkan dampak negatif terhadap Outstanding Universal Value (OUV) situs warisan alam dunia TN Komodo.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sebelumnya juga telah memastikan bahwa pembangunan di Resort Loh Buaya Pulau Rinca TN Komodo tidak menimbulkan/mengakibatkan dampak negatif terhadap OUV situs warisan alam dunia TN Komodo. Kesimpulan tersebut didasarkan hasil kajian penyempurnaan Environmental Impact Assessment (EIA) yang dilakukan bersama lintas kementerian/lembaga serta pakar lainnya yang terus disesuaikan dengan kaidah-kaidah yang ditetapkan IUCN.

Sandiaga menjelaskan, Kemenparekraf juga tengah menyusun Integrated Tourism Master Plan (ITMP) Labuan Bajo bersama K/L terkait sebagai salah satu upaya untuk memproyeksi ke depan dan menyusun skenario pengembangan sekitar kawasan dalam ITMP ini.

“Cakupan ITMP akan meliputi analisis demand and supply terhadap pengembangan wilayah. Jadi yang kita susun dalam ITMP adalah proyeksi jumlah wisatawan yang disesuaikan dengan carrying capacity, alur perjalanan dan strategi pengembangan yang terintegrasi. Sehingga para turis diharapkan lebih lama tinggal di Indonesia,” kata dia.

ITMP didesain dengan teliti dan baik serta perlu mempertimbangkan potensi market yang ada, baik market domestik, internasional, terutama tren pariwisata ke depan pascapandemi Covid-19. Pembangunan yang baik adalah pembangunan yang harus bisa mencocokkan keunikan yang dimiliki dan disesuaikan dengan kalkulasi potensi market yang tepat.

"Kita harus bisa mencocokkan antara supply and demand dan perlu ada target yang jelas, target yang terukur, breakdown pekerjaan, timeline yang jelas, dalam pembentukan ITMP tersebut," ujar Sandiaga.

Kawasan Labuan Bajo, NTT. Foto: .Kementerian PUPR
Kawasan Labuan Bajo, NTT. Foto: .Kementerian PUPR

Selain itu, Kemenparekraf dalam pengembangan produk wisata di Labuan Bajo juga akan memaksimalkan kekuatan budaya serta konten lokal yang otentik.

Saat ini, Kemenparekraf bersama Badan Pariwisata Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) terus mendorong inkubasi berbagai kegiatan kreatif seperti seni pertunjukan, seni musik, seni tari, fesyen, juga kuliner, dengan melibatkan komunitas-komunitas yang ada. Di antaranya adalah inkubasi "Aksilarasi" di Desa Pasir Panjang dan di Desa Komodo yang menghasilkan tari kontemporer kreasi anak muda Animal Pop Komodo sebagai alternatif produk wisata yang juga sempat dipertunjukan di Stasiun MRT Jakarta, pada bulan Mei 2021.

Selain itu ada juga dukungan pengembangan Desa Wisata di luar kawasan TNK seperti Desa Liang Ndara, di mana desa tersebut diberi pendampingan untuk menawarkan atraksi seni pertunjukan berbasis budaya yang memperkenalkan Tari Caci sebagai salah satu kebudayaan milik Manggarai sehingga menjadi daya tarik sendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke Labuan Bajo.

"Juga secara konsisten memberikan pelatihan dan pendampingan kepada masyarakat sehingga mereka dapat turut merasakan manfaat dari pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif di destinasi," kata Sandiaga.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN