Menu
Sign in
@ Contact
Search
CEO Landscape Indonesia  Agus Sari (kanan atas) dan Ketua Green Economy Caucus (GEC) DPR RI Mercy Chriesty Barends (bawah) menjadi pembicara dalam program Muda Bersuara 2021: Selamatkan Generasi Emas 2045 dari Krisis Iklim yang digelar Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) chapter Universitas Pelita Harapan (UPH), Jumat (13/8/2021).

CEO Landscape Indonesia Agus Sari (kanan atas) dan Ketua Green Economy Caucus (GEC) DPR RI Mercy Chriesty Barends (bawah) menjadi pembicara dalam program Muda Bersuara 2021: Selamatkan Generasi Emas 2045 dari Krisis Iklim yang digelar Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) chapter Universitas Pelita Harapan (UPH), Jumat (13/8/2021).

Lingkungan Sehat Ikut Mendukung Pertumbuhan Ekonomi

Jumat, 13 Agustus 2021 | 23:50 WIB
Herman (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id  - Perlindungan lingkungan dengan pertumbuhan ekonomi merupakan dua hal yang tidak saling bertentangan. Sebaliknya, perlindungan lingkungan dan pertumbuhan ekonomi justru saling mendukung. Karenanya, lingkungan perlu dijaga agar tetap sehat, sehingga ekonomi juga dapat terus bertumbuh.

Demikian dikemukakan CEO Landscape Indonesia  Agus Sari dalam program “Muda Bersuara 2021: Selamatkan Generasi Emas 2045 dari Krisis Iklim” yang digelar Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) chapter Universitas Pelita Harapan (UPH), Jumat (13/8/2021).

“Pada saat lingkungan tidak terlindungi, pertumbuhan ekonomi kita juga akan terganggu. Sama saja seperti yang kita alami sekarang pada saat pandemi, ketika semua orang sakit, pertumbuhan ekonominya turun. Jadi kita memang membutuhkan orang yang sehat dan lingkungan hidup yang sehat, supaya pertumbuhan ekonomi kita tetap tinggi,” kata Agus Sari. 

Agus menyampaikan, debat untuk mempertentangkan antara lingkungan hidup dan pertumbuhan ekonomi sebenarnya sudah selesai pada pertengahan 1980-an dengan munculnya sebuah konsep yang disebut pembangunan berkelanjutan atau sustainable development.

“Jadi, pertentangan antara lingkungan hidup dan pertumbuhan ekonomi, lingkungan hidup dan keuntungan bisnis sebetulnya adalah pertentangan yang salah. Lingkungan hidup yang baik adalah sebuah sumber daya. Di sisi lain, rusaknya lingkungan hidup akan mendorong semua orang, negara, masyarakat maupun bisnis itu sendiri untuk membayar kerugiannya. Jadi sebenarnya lingkungan yang rusak adalah kerugian, dan itu harus dimasukkan ke dalam akuntingnya bisnis, bukan cuma harus dibayar masyarakat,” ujarnya.

Agus memberi contoh kejadian banjir di Kalimantan Selatan akibat intensitas hujan di luar kebiasaan yang banyak dikaitkan dengan perubahan iklim. Kondisi serupa juga terjadi di beberapa negara di Eropa seperti Jerman, Belanda dan Belgia. Tidak hanya hujan, tetapi juga heat wave yang menyebabkan kebakaran hutan seperti yang saat ini terjadi di Yunani dan Rusia.

“Ini semua ada kerugiannya, ada ongkosnya. Kebakaran hutan Indonesia di 2015 ongkosnya Rp 16 miliar, siapa yang bayar? Dulu, yang dilakukan adalah membebankan kerugian itu pada masyarakat. Tetapi sekarang dengan konsep sustainable development, harus ada yang disebut internalizing externalities, jadi ongkos itu harus diperhitungkan dalam perhitungan untung rugi sebuah bisnis,” kata Agus.

Bila kerusakan lingkungan tersebut tidak dibayar oleh perusahan, lanjut Agus, masyarakat di seluruh dunia yang menjadi konsumen akan menuntut adanya perubahan atau transformasi bisnis dari business as usual menjadi lebih green.

“Konsumen sekarang ini sudah mulai menuntut. Kalau produk-produk yang mereka beli tidak diproduksi dengan cara yang berwawasan lingkungan, mereka tidak akan beli. Kalau dia memberikan dampak buruk misalnya pada lingkungan, masyarakat lokal, kerusakan hutan, atau menyumbang pada perubahan iklim, mereka tidak akan beli. Sehingga ada tuntutan yang real dari konsumen kepada produsen agar bertransformasi menjadi lebih hijau,” paparnya.

Agus menambahkan, lingkungan sebenarnya adalah sebuah aset yang harus selalu dijaga. Dalam kegiatan produksi pun, faktor penentunya tidak sekadar modal dan sumber daya, tetapi juga lingkungan hidup.

“Kalau lingkungan hidup tidak terjaga dengan baik, maka ada satu modal yang hilang dalam proses kita berproduksi.  Dan kalau ada modal yang hilang, maka produksinya menjadi tidak efisien. Saat ini teknologi yang berwawasan lingkungan sebenarnya sudah lebih murah kok, contohnya sumber listrik berbasis tenaga surya,” kata Agus.

Ketua Green Economy Caucus (GEC) DPR RI Mercy Chriesty Barends menambahkan, saat ini berbagai kebijakan yang dikeluarkan pemerintah juga telah mendukung pelestarian lingkungan. Yang terbaru adalah Undang-Undang Cipta Kerja, khususnya yang terkait dengan sektor lingkungan.

“UU Cipta Kerja sektor lingkungan memberikan penegasan yang luar biasa, di mana seluruh perizinan berbasis high risk. Seluruh proyek yang berbasis energi dikategorikan high risk, jadi kalau ada investor yang melakukan proses pembangunan dan  tidak mengedepankan prinsip-prinsip pembangunan berbasis lingkungan, maka izinnya tidak akan dikeluarkan, izinnya akan dicabut atau tidak diperpanjang,” kata Mercy.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : BeritaSatu.com

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com