Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti.

BI: Tapering off The Fed Dimulai November

Selasa, 14 September 2021 | 18:11 WIB
Triyan Pangastuti

JAKARTA, investor.id - Bank Indonesia (BI) memperkirakan pengetatan kebijakan moneter (tapering off) yang dilakukan Federal Reserve (The Fed) akan mulai dilakukan pada November 2021.

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menjelaskan bahwa pengurangan pembelian obligasi atau tapering off oleh  bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) akan dikurangi secara bertahap tidak akan sekaligus.  Meski begitu, BI akan tetap mengantisipasi dampak dari tapering off tersebut.

“Kami antisipasi ke market. Karena sudah mulai terlihat gejolak, khususnya di emerging market. Tekanan di mata uang emerging market tinggi, termasuk nilai tukar rupiah,” jelas Destry kepada Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Selasa (14/9).

Kendati begitu, Destry menegaskan bahwa dampak tapering off pada saat ini tidak akan separah kondisi di tahun 2013 silam.  Pada saat itu, The Fed melakukan tapering secara mendadak tanpa melakukan komunikasi terlebih dahulu sehingga memicu tekanan di pasar keuangan global.

Apalagi saat itu, kondisi fundamental ekonomi Indonesia tidak sekuat saat ini dan Indonesia juga belum memiliki instrumen keuangan yang lengkap dalam rangka menjaga stabilitas nilai tukar rupiah saat taper tantrum terjadi.

Sementara di tahun ini, dia melihat komunikasi The Fed lebih jelas dan terbuka, sehingga pasar sudah mengantisipasinya.

Tak hanya itu, sisi fundamental ekonomi juga sudah semakin baik, tercermin pada posisi cadangan devisa Indonesia per akhir Agustus lalu mencapai US$ 144 miliar. Hal itu ampuh untuk menjaga stabilitas eksternal termasuk kinerja rupiah.

Destry menjelaskan pembelian SBN di pasar sekunder untuk menstabilkan rupiah dikarenakan aksi jual para investor. Intervensi BI di pasar SBN juga untuk mengantisipasi tekanan terhadap pasar keuangan  domestik dan mencegah imbal hasil surat utang pemerintah meningkat signifikan.

Ia menegaskan bahwa intervensi BI di pasar akan dilakukan secara terukur dengan mempertimbangkan kapasitas dan berjalannya mekanisme pasar. Jadi tidak serta merta BI selalu melakukan intervensi secara besar.


 

Editor : Hari Gunarto (hari_gunarto@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN