Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Bidang Hubungan Internasional, Shinta Widjaja Kamdani

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Bidang Hubungan Internasional, Shinta Widjaja Kamdani

Apindo: Pelonggaran PPKM Sebabkan Kenaikan Impor Bahan Baku dan Barang Modal

Rabu, 15 September 2021 | 21:28 WIB
Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjadja Kamdani mengatakan, adanya pelonggaran Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) menyebabkan  terjadinya kenaikan aktivitas industri. Hal ini turut  berdampak pada peningkatan impor barang modal dan bahan baku/penolong.

“Apalagi terlihat juga di paruh Agustus bahwa tren pengendalian pandemi kita secara nasional juga cukup baik sehingga bisa segera relaksasi atau turun level PPKM,” ucap Shinta saat dihubungi pada Rabu (15/9) malam.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Agustus 2021 nilai impor bahan baku/penolong mencapai US$ 12,38 miliar. Angka ini menunjukkan kenaikan 8,39% dari posisi Juli 2021 dan meningkat 59,59% dari posisi Agustus 2020.  Sektor ini berkontribusi hingga 74,2% terhadap total impor.  Nilai impor barang modal mencapai  US$ 2,41 miliar. Secara bulanan menunjukan pertumbuhan  16,44%. Secara tahunan menunjukkan kenaikan 34,56%. Secara keseluruhan impor barang modal memberikan andil 14,47% ke impor secara keseluruhan.

Shinta mengatakan, dunia usaha juga perlu melakukan  persiapan produksi untuk supply akhir tahun. Hal ini turut mempengaruhi aktivitas industri  di dalam negeri baik yang berorientasi pasar domestik maupun ekspor.

“Tetapi kontribusi faktor ini terhadap impor bulanan seharusnya baru akan terlihat secara maksimal di impor September bukan di Agustus,” ucap Shinta.

Sementara itu dari sisi ekspor, terjadi kenaikan karena  harga komoditas global naik cukup signifikan di hampir semua komoditas ekspor.  Ada kemungkinan yang cukup tinggi bahwa kinerja ekspor ini juga disebabkan oleh kenaikan harga komoditas global.

“Namun demikian, kami tetap melihat ini sebagai sinyal yg baik terhadap pemulihan ekonomi nasional. Semoga ke depannya bisa dipertahankan,” ucap Shinta.

Terjadinya surplus neraca perdagangan pada Agustus 2021 menjadi kabar baik bagi dunia usaha. Namun, pada saat yang sama  perlu diperhatikan volume ekspor untuk melihat sejauh mana peningkatan kinerja ekspor. Sebab hal ini merepresentasikan peningkatan kinerja ekspor riil berdasarkan output produktivitas industri  berorientasi ekspor.

“Ini tidak bisa kita lihat dari laporan BPS karena belum ada rilis laporan terkait perubahan volume ekspor Agustus terhadap bulan lalu atau tahun lalu,” kata Shinta.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN