Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menkop dan UKM Teten Masduki. Foto: Humas Kemenkop UKM

Menkop dan UKM Teten Masduki. Foto: Humas Kemenkop UKM

TETEN MASDUKI:

Koperasi Simpan Pinjam Harus Jadi Konsolidator dan Agregator bagi Usaha Kecil

Rabu, 15 September 2021 | 21:58 WIB
Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop UKM) mendorong menjadi konsolidator dan agregator bagi pelaku usaha mikro dan kecil agar usahanya bisa masuk skala ekonomi. Anggota koperasi yang memiliki usaha kelontong, pedagang keliling, dan sebagainya belum mampu bersaing dengan jaringan ritel modern jika berjalan sendiri-sendiri.

"Koperasi bisa bangun semacam distribution center yang bisa memasok segala barang yang dijual di warung kelontong para anggota. Bila dibiarkan sendiri-sendiri, akan sulit bersaing," ucap Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki dalam siaran pers yang diterima pada Rabu (15/9).

Oleh karena itu, Teten menyorot pentingnya koperasi mengembangkan bisnis model yang mampu menghubungkan ke pasar dan lembaga pembiayaan.  "Koperasi juga bisa mengkonsolidasi anggotanya membuat Factory Sharing," imbuh Teten.

Dengan membangun Rumah Produksi Bersama dengan teknologi lebih modern, lanjut Teten, kualitas produk menjadi lebih terjaga, termasuk faktor higienitasnya. Teten mencontohkan Rumah Produksi Bersama yang sudah berjalan di Sumatera Barat dalam memproduksi rendang. 

“Produksi bersama rendang di sana bisa kita tiru di daerah lain," ucap MenKop UKM.

Menkop UKM meminta para kepala daerah untuk membesarkan koperasi yang bagus dan sehat saja.  “Jumlah koperasi tidak perlu banyak, tapi berkualitas meski jumlahnya sedikit,"  imbuh Teten.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Koperasi Simpan Pinjam Pembiayaan Syariah (KSPPS) Abdi Kerta Raharja Farida menjelaskan, bahwa koperasi yang dipimpinnya dulunya merupakan lembaga keuangan mikro (LKM) yang berubah menjadi badan hukum koperasi.

"12 tahun lalu kami memutuskan mendirikan koperasi di tengah terpuruknya nama koperasi akibat krisis kepercayaan. Alhamdulillah, kami mampu mengembalikan kembali citra jati diri koperasi, khususnya di wilayah Banten," jelas Farida.

Farida menyebutkan, Kopsyah Abdi Kerta Raharja melayani peminjam yang sebagian besarnya adalah perempuan yang mengutamakan cara pendanaan gotong royong atau lebih dikenal dengan sebutan Grameen Group Lending.  Saat ini, Kopsyah Abdi Kerta Raharja memiliki anggota sebanyak 45 ribu orang dan 221 karyawan dengan aset mencapai Rp 117 miliar.

Selain sebagai Pilot Project penyalur kredit UMi, koperasi ini memiliki modal sendiri sebesar Rp 35 miliar dan total penyaluran kredit Rp 172 miliar.

Farida mengakui, pandemi Covid-19 mengajarkan koperasinya untuk lebih mandiri dan kuat. Pada awal pandemi, kas tabungan koperasi keluar sebesar Rp 26 miliar.

Sementara tingkat pengembalian dari anggota hanya sebesar Rp23 miliar saja.  Namun, lanjut Farida, saat ini ekonomi dan bisnis para anggota mulai bergerak kembali.

“Kami butuh perkuatan permodalan dari LPDB-KUMKM. Alhamdulillah, kami mendapat kepercayaan dana bergulir sebesar Rp 10 miliar," tutup Farida. 

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN