Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Arsjad Rasjid

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Arsjad Rasjid

Kandungan Nikel Melimpah, Arsjad Rasjid Optimistis Indonesia jadi Produsen Baterai Mobil Listrik Terbesar di Dunia

Rabu, 15 September 2021 | 23:38 WIB
Euis Rita Hartati (erita_h@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Arsjad Rasjid, optimistis Indonesia akan menjadi produsen baterai mobil listrik terbesar di dunia. Optimisme tersebut berangkat dari besarnya pasokan nikel di Indonesia untuk pembuatan baterai lithium, yang menjadi bahan utama pengembangan mobil listrik, ditambah dengan resminya Indonesia membangun pabrik baterai kendaraan listrik pertama di Asia Tenggara.

"Nikel adalah bahan utama pembuatan baterai lithium yang digunakan untuk mobil listrik. Kita bisa menguasai salah satu rantai pasok baterai lithium dan pengembangan mobil listrik dunia," ujar Arsjad, dalam keterangan resminya. Rabu (15/9).

Lebih lanjut, Arsjad memaparkan, selain memiliki sumber daya alam yang melimpah berupa nikel, untuk mencapai cita-cita tersebut Indonesia juga harus memiliki sumber daya manusia (SDM) yang berdaya saing tinggi, bisa memanfaatkan tingkat komponen dalam negeri (TKDN), serta memanfaatkan teknologi yang bisa dikembangkan di dalam negeri.

“Kita beli teknologi dari luar negeri untuk dikembangkan di Indonesia. TKDN komponennya banyak di Indonesia, sehingga biaya pembuatan baterai dari Indonesia akan lebih kompetitif,” tambah Arsjad.

Hal tersebut juga diamini oleh Presiden RI Joko Widodo (Jokowi). Presiden turut melihat Indonesia akan menjadi produsen utama produk-produk barang jadi berbasis nikel seperti baterai lithium, baterai listrik, baterai kendaraan listrik. Jokowi bahkan menargetkan realisasinya bisa terwujud dalam 3–4 tahun ke depan.

"Saya yakin 3–4 tahun ke depan, melalui manajemen yang baik, manajemen pengelolaan yang baik," tutur Jokowi.

Hilirisasi industri nikel, kata Jokowi, juga bisa meningkatkan nilai tambah bijih nikel secara signifikan. Jika diolah menjadi sel baterai, nilainya bisa meningkat 6-7 kali lipat. Dan jika dijadikan mobil listrik akan meningkat lagi nilai tambahnya, yaitu 11 kali lipat.

Jokowi menegaskan, pemerintah juga berkomitmen penuh dalam mengembangkan ekosistem baterai dan kendaraan listrik. Salah satu upaya pendukungnya yakni dengan kebijakan reformasi struktural untuk memberikan kepastian hukum dan kemudahan perizinan.

"Pemerintah juga terbuka atas berbagai inisiatif kerja sama dengan negara sahabat," tandas Jokowi.

Hari ini, Presiden telah melakukan groundbreaking atau peletakan batu pertama pembangunan pabrik tersebut, di Karawang, Jawa Barat, Rabu (15/9). Nilai investasi pembangunan pabrik ini mencapai US$ 1,1 miliar atau sekitar Rp15,95 triliun.

Presiden mengatakan, pembangunan pabrik baterai kendaraan listrik di Tanah Air merupakan wujud keseriusan pemerintah melakukan hilirisasi industri. Indonesia dinilai harus berani mengubah struktur ekonomi yang selama ini berbasis komoditas, agar bisa menuju hilirisasi dan menjadi negara industrial yang kuat dengan berbasis pada pengembangan inovasi teknologi.

Jokowi menambahkan, strategi bisnis besar Indonesia saat ini adalah keluar secepatnya dari jebakan negara pengekspor bahan mentah. "Melepaskan ketergantungan pada produk-produk impor dengan mempercepat revitalisasi industri pengolahan, sehingga bisa memberikan peningkatan nilai tambah ekonomi yang semakin tinggi," kata Jokowi.

 

Editor : Euis Rita Hartati (euis_somadi@yahoo.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN