Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Salah satu tol Grup Waskita. Foto: PT Waskita Karya Tbk (WSKT)

Salah satu tol Grup Waskita. Foto: PT Waskita Karya Tbk (WSKT)

Waskita, Adhi, BTN, dan BNI Disuntik PMN Rp 10,46 Triliun,  Para Analis Bilang Begini...  

Kamis, 23 September 2021 | 08:30 WIB
Muawwan Daelami (muawwan@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Empat emiten BUMN bakal disuntik penyertaan modal negara (PMN) senilai total Rp 10,46 triliun pada 2022. Keempat emiten pelat merah itu adalah PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT), PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN). Apa yang dibilang  para analis mengenai hal ini? 

Kepala Riset Praus Capital, Alfred Nainggolan mengakui, PMN bakal berdampak positif terhadap kinerja bisnis keempat emiten tersebut. Bahkan, khusus untuk BUMN Karya, yaitu Waskita dan Adhi, PMN saat ini menjadi pilihan wajib. Soalnya, dampak pandemi Covid-19 sangat signifikan memangkas pendapatan mereka.

Di satu sisi, menurut Alfred, emiten-emiten konstruksi memiliki beban bunga tinggi akibat akumulasi pendanaan utang belanja modal. Di sisi lain, mereka juga memiliki keterbatasan dalam menurunkan biaya operasional guna mengimbangi penurunan pendapatan.

“Alhasil, laba mereka turun signifikan. Bahkan, Waskita membukukan kerugian signifikan sehingga ekuitasnya tergerus,” tutur Alfred Nainggolan kepada Invetor Daily di Jakara, Rabu (22/9).  

Berdasarkan laporan keuangan Waskita, emiten yang banyak menggarap pembangunan tol penugasan pemerintah itu merugi  Rp 1 triliun pada semester I-2020. Namun, pada semester I-2021, keuangan Waskita membaik, dengan membukukan laba bersih Rp  41 miliar.

Meski demikian,  rasio utang Waskita masih  tinggi. Emiten bersandi saham  WSKT itu memiliki rasio utang terhadap ekuitas (debt to eqiuity ratio/DER) sebesar  5,75 kali

Kondisi keuangan Adhi Karya lebih baik. Jika pada semester I tahun silam  BUMN ini menorehkan  laba Rp 6,9 miliar, maka pada semester I-2021 labanya meningkat 19% menjadi  Rp 8,2 miliar. Hanya saja, seperti Waskita, Adhi juga punya utang yang besar. Emiten pelat merah yang melantai di bursa dengan kode saham ADHI ini  memiliki  DER  5,97 kali.

Pinjaman Sulit

Alfred Nainggolan menjelaskan, emiten konstruksi karya seperti Waskita Karya sangat sulit mengharapkan pinjaman untuk pendanaan modal kerja dan belanja modal karena ruang leverage-nya sudah tidak memungkinkan. Padahal, divestasi aset, seperti jalan tol, tidak bisa dilakukan dengan cepat.

“Jadi, suntikan modal menjadi kewajiban. Selain karena untuk kebutuhan modal kerja dan belanja modal, struktur permodalan Waskita harus segera diperbaiki dengan menaikkan ekuitasnya, sehingga ruang leverage-nya bertambah,” papar Alfred kepada Investor Daily di Jakarta, Rabu (22/9).

Dia menambahkan, dari sisi kredit perbankan pun, emiten-emiten konstruksi menghadapi persoalan. Perbankan sulit memberikan tambahan kredit modal kerja atau kredit investasi kepada sektor konstruksi, baik karena kondisi sektornya sedang mengalami tekanan maupun akibat neraca keuangan perusahaannya bermasalah. Suntikan PMN akan mempercepat proses pemulihan emiten BUMN konstruksi.

“Tahun ini, kami memproyeksikan performa keuangan, khususnya pendapatan dan laba BUMN konstruksi masih jauh dari pemulihan. Baru pada 2022 kami perkirakan performa emiten konstruksi mengalami pemulihan yang signifikan,” ujar Alfred.

Sementara itu, pengamat BUMN, Toto Pranoto mengatakan, sebagian besar PMN tersebut ditujukan untuk melaksanakan kewajiban pelayanan kepada masyarakat (public service obligation/PSO).

“Jadi, perlu dijaga bagaimana efektivitas penggunaan PSO ini supaya outcome-nya bisa memenuhi target yang diharapkan. Pengawasan oleh Kementerian BUMN dan external auditor penting untuk memastikan dana PSO digunakan secara optimal,” kata Toto kepada Investor Daily.

Penyertaan modal negara (PMN) 2022.
Penyertaan modal negara (PMN) 2022.

PMN Rp 55,88 Triliun

PMN  senilai total Rp 10,46 triliun yang akan diberikan kepada  Waskita Karya, Adhi Karya,  BNI, dan  BTN  merupakan bagian dari PMN senilai total Rp 55,88 triliun yang akan diinjeksikan kepada delapan BUMN tahun depan. Empat BUMN lainnya adalah BUMN nonpublik, yaitu Perum Perumnas, PT PLN (Persero), PT Hutama Karya (Persero)/HK, serta PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero).

Waskita akan mendapat PMN Rp 3 triliun, Adhi mendapat Rp 1,98 triliun, sedangkan BNI dan BTN masing-masing bakal kebagian Rp 3,5 triliun dan Rp 1,98 triliun. Sedangkan Perumnas, PLN, HK, dan Aviasi akan disuntik masing-masing Rp 1,57 triliun, Rp 5 triliun, Rp 31,35 triliun, dan Rp 7,5 triliun.  

Rencana pemerintah menginjeksikan PMN senilai total Rp 55,88 triliun kepada delapan BUMN, termasuk empat emiten pelat merah, sudah mendapat restu parlemen.

Dalam rapat kerja Komisi VI DPR RI dengan Menteri BUMN, Erick Thohir di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (22/9), Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Aria Bima menegaskan, Komisi VI DPR menyetujui PMN tunai tahun anggaran 2022 yang telah disepakati Kementerian Keuangan (Kemenkeu). DPR juga menyetujui usulan PMN tambahan 2022.

“Kami sudah melakukan pendalaman dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan mitra kerja penerima PMN,” tutur Aria Bima saat membacakan hasil kesimpulan rapat.

Menurut Menteri BUMN, Erick Thohir, dalam usulan awal, baru lima BUMN yang disetujui mendapat PMN tahun depan, yaitu Perumnas, PLN, HK, Waskita, dan Adhi. Namun, kemudian disetujui tambahan PMN bagi tiga BUMN lainnya, yakni BNI, BTN, dan Aviasi. Selain itu, PMN untuk HK yang semula direncanakan Rp 23,85 triliun, ditambah Rp 7,5 triliun.

“Saya baru dapat informasi dari hasil pertemuan banggar dan Kemenkeu. Mereka telah mengetok palu (setuju) untuk tambahan PMN, kami diminta melaporkan di sini (Komisi VI) karena sudah masuk cadangan investasi di Kemenkeu dan APBN,” papar Erick.

Erick Thohir menjelaskan, PMN Perumnas akan digunakan untuk memperbaiki struktur permodalan dan melanjutkan program pengadaan Satu Juta Rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Kemudian PMN PLN bakal digunakan untuk membangun infrastruktur ketenagalistrikan berupa transmisi, gardu induk, dan distribusi listrik desa.

Adapun PMN yang diberikan kepada HK, menurut Erick Thohir, akan dialokasikan untuk menyelesaikan konstruksi delapan ruas Tol Trans Sumatera (JTTS) dengan target tambahan sepanjang 162 km. Lalu, PMN Waskita bakal digunakan untuk merampungkan pembangunan ruas Tol Kayuagung-Palembang-Betung dan ruas Tol Bogor-Ciawi-Sukabumi.

Selanjutnya PMN Adhi Karya untuk menyelesaikan pembangunan Tol Solo Yogya-Kulonprogo dan Yogyakarta-Bawen serta SPAM Regional Karian-Serpong. Sedangkan PMN BNI dan BTN akan digunakan untuk tambahan modal. “PMN Aviasi juga akan dimanfaatkan untuk tambahan modal dan mendukung program-program anak usaha holding,” ucap Menteri BUMN.

Injeksi PMN 2021

Dalam raker kemarin, Komisi VI DPR juga merestui injeksi PMN 2021 sebesar Rp 52,03 triliun untuk delapan BUMN. Angka ini termasuk PMN tambahan senilai Rp 16,9 triliun.

“PMN tersebut mayoritas akan digunakan untuk menjalankan penugasan dari pemerintah, seperti pembangunan tol dan pelistrikan desa-desa. Total diberikan untuk tahun ini sebesar Rp 35,13 triliun, yang tambahannya Rp 16,9 triliun," ujar Menteri BUMN, Erick Thohir.

Rincian PMN 2021 adalah Rp 20 triliun untuk PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (Persero)/BPUI atau Indonesia Financial Group (IFG). Dana ini diberikan terkait restrukturisasi polis nasabah PT Asuransi Jiwasraya (Persero).

Kedua, PMN Rp 6,20 triliun kepada HK untuk penugasan pembangunan Jalan Tol Trans Sumatra (JTTS). Itu belum termasuk tambahan Rp 9 triliun.

Ketiga, PMN Rp 1,2 triliun kepada PT Pelindo III (Persero) untuk menyelesaikan pembangunan Pelabuhan Benoa, Bali dan mendorong pengembangan program Bali Maritim Tourism Hub.

Keempat, PMN Rp 470 miliar kepada PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (Indonesia Tourism Development Corporation/ITDC) untuk pembangunan infrastruktur dan fasilitas penunjang di Labuan Bajo, NTT.

Kelima, PMN Rp 977 miliar kepada PT Kawasan Industri Wijayakusuma (Persero) untuk pembangunan kawasan industri di Batang. Keenam, PMN Rp 1,26 triliun kepada PT PAL (Persero)  untuk penguasaan teknologi pembangunan, pemeliharaan, dan perbaikan kapal.

Ketujuh, PMN Rp 5 triliun kepada PT PLN (Persero) untuk pembangunan transmisi gardu induk dan distribusi listrik masuk desa. Kedelapan, PMN Rp 7,9 triliun kepada Waskita Karya guna mendukung restrukturisasi dan penambahan modal melalui hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue. Dengan demikian, emiten BUMN yang mendapat PMN tahun ini hanya Waskita Karya.  

 

 

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN