Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Foto: IST

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Foto: IST

Sri Mulyani: Krisis Evergrande Harus Diwaspadai

Kamis, 23 September 2021 | 10:44 WIB
Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengingatkan agar Indonesia mewaspadai krisis yang tengah menerpa raksasa properti di Tiongkok, Evergrande. Krisis ini diprediksi akan memberikan dampak besar terhadap ekonomi Negeri Panda maupun dunia.

"Isu risiko stabilitas sektor keuangan terutama di Tiongkok itu menjadi perhatian pada minggu-minggu ini," ungkap Sri Mulyani dalam Konferensi Pers APBN Kinerja dan Fakta (KiTA) September 2021 secara daring di Jakarta, Kamis (23/09/2021).

Menurut Menkeu, Indonesia harus bisa terus mewaspadai dan mempelajari situasi ekonomi Tiongkok karena kenaikan ekspor terutama komoditas akan sangat dipengaruhi pemulihan ekonomi global, terutama pergerakan mitra-mitra dagang utama Indonesia, termasuk Tiongkok.

Dengan demikian, krisis Evergrande menjadi faktor yang berpotensi memperlambat pemulihan ekonomi global, selain masih adanya Covid-19 varian Delta serta mutasi virus lainnya, pemulihan ekonomi yang tidak merata di berbagai negara, serta kenaikan inflasi.

Sri Mulyani menjelaskan, Evergrande saat ini mengalami situasi yang sangat sulit, yaitu kondisi gagal bayar yang cukup besar. "Utang perusahaan konstruksi terbesar di Tiongkok itu mencapai di atas US$ 300 miliar," ucap dia.

Maka dari itu, krisis tersebut, kata dia, tentunya akan mempengaruhi ekonomi Tiongkok maupun dunia, serta akan berdampak pada Indonesia.

Hal tersebut pun menyebabkan Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) pada September 2021 menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun ini sebesar 0,1% menjadi 5,7%.

 

Editor : Nasori (nasori@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN