Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kinerja ekspor Indonesia 2021. Foto ilustrasi: Joanito De Saojoao

Kinerja ekspor Indonesia 2021. Foto ilustrasi: Joanito De Saojoao

Kenaikan Harga Komoditas Ikut Dongkrak Kinerja Ekspor

Sabtu, 16 Oktober 2021 | 04:31 WIB
Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Kondisi ekspor dalam neraca perdagangan Indonesia diperkirakan akan terus meningkat hingga akhir tahun 2021. Hal ini seiring dengan  peningkatan permintaan global dan  dibukanya ekonomi karena menurunnya kasus aktif Covid-19. Apalagi harga komoditas juga terus mengalami kenaikan sehingga ekspor komoditas juga akan terdongkrak.

“Diperkirakan ekspor tetap tinggi hingga akhir tahun dan awal tahun depan dengan pola bulanannya sangat tergantung pola musiman konsumsi dan produksi di negara-negara  tujuan,” ucap Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Iskandar  Simorangkir saat dihubungi Investor Daily pada Jumat (15/10).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus sebesar US$  4,37 miliar pada September 2021. Dengan rincian ekspor  mencapai US$ 20,60 miliar  dan impornya US$ 16,23 miliar

Dia  mengatakan  ekspor akan terus meningkat karena Indonesia lebih siap pada masa Covid-19, misalnya kebijakan memasukkan ekspor sebagai esensial sehingga bisa work from office  100%. Menurutnya ekspor meningkat dari dua sisi yaitu kenaikan harga dan peningkatan volume ekspor. Namun tidak mudah untuk mempertahankan posisi surplus neraca perdagangan

“Dengan surplus US$ 4,37 miliar, berarti neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus dalam 17 bulan berturut-turut. Tidak mudah untuk  mempertahankan surplus neraca perdagangan,” ucap Iskandar

Iskandar Simorangkir. Foto: youtube
Iskandar Simorangkir. Foto: youtube

Kinerja ekspor pada September 2021 jika dibandingkan dengan posis September 2020 terjadi kenaikan  47,64% . Kenaikan ekspor tidak hanya berasal dari komoditas sumber daya alam namun juga berasal dari barang industri.

“Barang industri  bernilai tambah tinggi yang mengalami kenaikan ekspor yaitu  besi baja, kendaraan dan bagiannya serta mesin/peralatan mekanis. Selain tentunya dari ekspor minyak kelapa sawit  dan batu bara,” ucap Iskandar.

Bila melihat harga komoditas di pasar dunia ada beberapa komoditas yang mengalami kenaikan  pertama bahwa harga minyak mentah Indonesia di pasar dunia naik dari US$ 67,80 pada Agustus 2021 menjadi US$ 72,20  pada September 2021.

Secara bulanan ( Month To Month/MTM) naik 6,49%,  secara tahunan  (Year On Year/YOY), meningkatnya cukup tajam 92,89%.

Sementara itu untuk  beberapa komoditas non migas pada September juga tercatat beberapa mengalami peningkatan. Batu bara mengalami kenaikan harga 9,50% dari posisi Agustus 2021. Aluminium dan minyak kernel masing masing mengalami kenaikan 8,9% dan 6,42% secara MTM.

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Bidang Hubungan Internasional, Shinta Widjaja Kamdani
Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Bidang Hubungan Internasional, Shinta Widjaja Kamdani

Diwawancara secara terpisah, Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjadja Kamdani mengatakan  kenaikan ekspor terjadi karena kenaikan harga komoditas global. Sedangkan  kinerja ekspor riil nya sendiri  mengalami penurunan turun .

“Sehingga secara agregat kita bisa katakan produktifitas industri kita turun meskipun demand dan harga komoditas ekspor kita di pasar global sangat mendukung adanya peningkatan ekspor,” ucap Shinta saat dihubungi Investor Daily  pada Jumat (15/10) malam.

Pihaknya memperkirakan kondisi neraca perdagangan hingga akhir tahun masih akan tetap surplus. Sebab   harga komoditas energi khususnya batu bara masih akan naik. Apalagi saat ini sedang terjadi  krisis energi di beberapa negara.

“Meskipun kinerja ekspor riil kita turun, nilai ekspor masih bisa dipertahankan,” ucap Shinta.

Shinta mengingatkan agar pemerintah memperhatikan rantai pasok global , dikhawatirkan akan terjadi  gangguan supply chain global semakin parah menjelang akhir tahun. Sehingga pemerintah tidak maksimal menggenjot kinerja ekspor dan daya saing industri nasional yangg menggunakan komponen-komponen impor.

“Impor juga akan tertekan karena biaya impor bahan baku/penolong yang semakin mahal. Karena itu kami harap pemerintah bisa membantu dan memfasilitasi, khususnya untuk memperlancar supply container dan memperluas akses pembiayaan ekspor yang affordable kepada eksportir skala UMKM,” kata Shinta.

Tanpa bantuan pembiayaan dari pemerintah dikhawatirkan eksportir nasional tidak akan punya cukup dana untuk membiayai ekspor karena gangguan supply chain. Meskipun kondisi permintaan dan harga pasar global sedang sangat baik namun pemerintah jangan sampai terlena.

“Kami harap pemerintah juga cepat tanggap menggunakan momentum ini untuk memfasilitasi matchmaking supply chain domestik sehingga pelaku usaha bisa mengalihkan sebagian supply impornya ke dalam negeri,” kata Shinta.

Ekonom Center of Reform on Economics Indonesia (Core) Yusuf Rendy Manilet
Ekonom Center of Reform on Economics Indonesia (Core) Yusuf Rendy Manilet

Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan kenaikan harga komoditas yang berasal dari sumber daya alam diperkirakan masih akan terus meningkat. Permintaan terhadap beberapa komoditas terutama batu bara itu sedang sangat meningkat di pasaran tujuan utama seperti Tiongkok, tetapi juga negara-negara Eropa. Peningkatan permintaan dari negara-negara Tiongkok, dan Eropa terhadap produk batu bara.

“Indonesia berada di posisi yang diuntungkan dengan kenaikan harga komoditas ini  Kalau kita lihat kenaikan harga komoditas ini tidak terlepas dari krisis energi. Jadi ada semacam blessing in disguise terhadap kenaikan harga komoditas,” kata Yusuf.

Tetapi bila melihat dari pengalaman sebelumnya  harga komoditas bergerak secara volatile. Oleh karena itu  pemerintah harus menjalankan kebijakan secara berkelanjutan. Khususnya dalam keberlanjutan dari ekspor komoditas sumber daya alam ini.

“Apalagi  kalau kita bicara komoditas batu bara dan nikel ini komoditas yang tidak terbarukan jadi memang saya kira dalam jangka panjang perlu dipertimbangkan masalah keberlanjutan ini,” kata Yusuf.

Yusuf berpendapat hingga akhir tahun ekspor masih akan terus meningkat. Sedangkan impor dengan adanya momentum Natal dan Tahun Baru ini akan mendorong permintaan dan berdampak pada kenaikan impor. Khususnya untuk bahan baku dan konsumsi. Pertumbuhan ekspor berpotensi naik begitu juga dengan impor.

“Tetapi karena harga komoditasnya sedang naik saat impor turun. Menurut saya kenaikan impor masih bisa dikompensasi oleh kenaikan ekspor yang lebih besar di kuartal empat 2021  nanti,” ucapnya.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN