Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Deputi Bidang Kewirausahaan Kemenkop UKM Siti Azizah

Deputi Bidang Kewirausahaan Kemenkop UKM Siti Azizah

Kemenkop UKM: Institusi Pendidikan Berperan Penting Tingkatkan Rasio Kewirausahaan

Selasa, 2 November 2021 | 18:14 WIB
Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id -  Pemerintah melalui Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Kemenkop UKM)  mendorong perguruan tinggi untuk berperan optimal dalam mengembangkan kewirausahaan. Generasi muda diharapkan dapat mengenal tentang kewirausahaan secepat mungkin bahkan sejak awal masa pendidikan.

“Dalam masa perkuliahan ini mereka diberi pengetahuan dan dibimbing juga mengenai kewirausahaan. Tujuannya adalah untuk memperkenalkan kepada para mahasiswa sejak dini bahwa wirausaha itu adalah salah satu pilihan untuk mereka setelah mereka lulus,” ucap Deputi Bidang Kewirausahaan Kemenkop UKM Siti Azizah dalam  Kick-Off Event and Executive Keynote Berikanpreneur 2021 pada Selasa (2/11).

Rasio kewirausahaan Indonesia baru mencapai  level 3,47%, pemerintah menargetkan untuk mencapai rasio kewirausahaan hingga  dapat mencapai 3,95% pada akhir tahun 2024. Jika dibandingkan dengan negara tetangga angka ini masih termasuk kecil sebab Malaysia dan Thailand rasio kewirausahaannya sudah mencapai 4,5%. Sedangkan Singapura sudah mencapai 8,7%.

“Rasio kewirausahaan menjadi indikator negara maju, kalau negara maju rasio kewirausahaannya bisa di atas 12%,” kata Siti.

Kemenkop UKM telah menggandeng 11 perguruan tinggi untuk mendorong minat mahasiswa terhadap dunia usaha. 11 perguruan tinggi ini membentuk inkubasi bisnis yang dapat menjadi tempat mahasiswa untuk mendapatkan bimbingan hingga memulai tahap awal bisnis.

“Jadi proses inkubasi ini yang saat ini sedang kami gadang kemana-mana. Kami mengharapkan bahwa banyak sekali akan ada lembaga inkubator yang tentunya akan membantu para wirausaha atau calon wirausaha ini menjadi wirausaha pemula,” ucap Siti.

Dalam kesempatan yang sama, Dirjen Pendidikan Vokasi Kemendikbudristek Wikan Sakarinto mengatakan pola pikir (mindset) untuk menjadi wirausaha harus dilakukan secepat mungkin. Dimulai sejak SD, SMP, dan SMA, akan dirasa terlambat apabila mindset tentang wirausaha baru disampaikan saat di perguruan tinggi.

“Poinnya adalah kurikulum sejak SD, SMP, SMA harus ditingkatkan lebih banyak pada project based learningcritical thinking, soft skill, dan praktik daripada sekadar kognitif sejak SD, SMP, dan SMA,” ucap Wikan.

Pemerintah tidak sekedar mengejar jumlah perusahaan rintisan (start up) yang bisa lahir tetapi juga harus melihat berapa lama mereka bisa bertahan dan berkembang menjadi perusahaan besar. Hal ini harus dilakukan secara komprehensif sejak pendidikan dasar. Dari sisi dunia pendidikan pengajar harus mampu mendorong kemampuan  critical thinking dan kreativitas. Upaya tersebut harus dimulai sejak lingkungan SD.

"Kami di sisi suplai sedang  improve tidak hanya di akhir tetapi sejak awal kita harus menciptakan karakter berpikir kritis, mengambil risiko, karakter  soft skill yang baik, kemampuan komunikasi, dan kemampuan marketing. Ini harus dimulai sejak SD,” ucapnya

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN