Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti.

Transaksi Menggunakan Mata Uang Lokal RI-Jepang Melonjak hingga 10 Kali

Kamis, 11 November 2021 | 21:05 WIB
Nasori

JAKARTA, investor.id – Bank Indonesia (BI) mencatat, penyelesaian transaksi bilateral menggunakan mata uang lokal atau local currency settlement (LCS) antara pelaku usaha di Indonesia dan Jepang naik signifikan. Nilai transaksi per bulan pada penerapan awal 2020 yang baru setara US$ 9,8 juta, meningkat hingga 10 kali lipat menjadi setara US$ 109,4 juta pada 2021 (sampai dengan September).

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengatakan, percepatan penerapan LCS dengan mitra dagang utama dilakukan sebagai upaya untuk mempercepat pemulihan ekonomi nasional (PEN), khususnya di sektor ekpor-impor dan investasi.

"Hubungan perdagangan dan investasi dengan Jepang terus mengalami peningkatan. Ini bisa kita optimalkan melalui LCS Indonesia dengan Jepang," kata Destry pada acara webinar local currency settlement (LCS) Indonesia-Jepang dengan tema “Merajut Asa Pemulihan Ekonomi Nasional Melalui Local Currency Settlement", Rabu (10/11).

Destry menambahkan, Jepang tercatat sebagai mitra dagang terbesar ke-2 bagi Indonesia dari sisi ekspor dan ke-3 dari sisi negara impor. Dengan adanya kerja sama LCS antara Jepang-Indonesia, volume dan nilai perdagangan hingga investasi kedua negara diharapkan dapat terus meningkat.

Hingga saat ini, Indonesia telah menjalin kerja sama LCS dengan empat negara mitra dagang terbesar di Indonesia yaitu Thailand, Malaysia, Jepang, dan Tiongkok. Keempat negara tersebut dipilih di antaranya karena nilai transaksi perdagangan dan investasi langsung yang tinggi. Penyelesaian transaksi rata-rata pada 2015-2020 sebesar 94% untuk ekspor dan 83% untuk impor menggunakan mata uang dolar Amerika Serikat (AS).

Ke depan, Destry menyampaikan, ketergantungan terhadap satu mata uang bisa dikurangi melalui penerapan LCS. "Kita coba untuk tidak (memiliki) ketergantungan terhadap satu mata uang tertentu. Kita coba diversifikasi agar risikonya menjadi managable," tambah dia.

Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga mengapresiasi andil BI dalam hal suplus neraca perdagangan Indonesia pada September 2021 yang tercatat sebesar US$ 4,37 miliar. Penerapan LCS, kata dia, sangat membantu pertumbuhan kinerja ekspor di tengah pandemi, termasuk kinerja perdagangan ke Jepang.

"Ini hal positif untuk bersama-bersama meningkatkan neraca perdagangan. Karena sektor perdagangan terkait sektor keuangan," sambung dia. Jerry berharap, agar BI terus aktif dalam melakukan sosialisasi penerapan LCS kepada stakeholders.

 

Tiga Inisiatif

Pada kesempatan yang sama, Kepala Departemen Pengembangan Pasar Keuangan BI Donny Hutabarat menambahkan, LCS merupakan bagian dari blueprint pengembangan pasar uang (BPPU) 2025. LCS, lanjut dia, menjadi program kerja dari tiga inisiatif utama BPPU 2025, khususnya pada insitiatif peningkatan transmisi kebijakan moneter.

Secara teknis, transaksi LCS seperti antara Indonesia dan Jepang, difasilitasi oleh mitra bank appointed cross currency dealer (ACCD) yang ditunjuk oleh bank sentral kedua negara. Bank yang ditunjuk ini membantu proses penyelesaikan transaksi perdagangan hingga investasi dengan mata uang lokal. Jadi nantinya transaksi bisa langsung menggunakan rupiah dan yuan tanpa perlu dikonversi ke mata uang dolar.

"Melalui bank ACCD, transaksi didorong direct, tidak memakai cross currency rate," ungkap Donny. Ia menambahkan, pihaknya membuka peluang bagi bank di Indonesia untuk bergabung ke dalam bank ACCD yang mendukung penerapan LCS. Ke depan, BI mendorong agar transaksi LCS juga menjadi lebih efisien dengan adanya benchmark pricing.

Hadir juga pada kesempatan webinar tersebut, Deputi Menko Perekonomian Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Iskandar Simorangkir, Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Jepang untuk Indonesia Kenji Kanasugi, Direktur Utama PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja, dan Direktur Keuangan PT Pertamina (Persero) Emma Sri Martini.

 

Editor : Nasori (nasori@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN